Announced: Dikuntit OTK, Islah Bahrawi Sebut Polanya Mirip Kasus Andrie Yunus
Pengawasan oleh OTK Dinilai Mirip Kasus Andrie Yunus oleh Islah Bahrawi
Announced – Dalam suasana yang semakin memanas terkait isu keamanan dan keterlibatan pihak tertentu, pengawasan oleh orang tak dikenal (OTK) menjadi sorotan utama. Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, mengklaim bahwa dirinya sedang menjadi korban pengawasan yang dilakukan oleh OTK selama 20 hari terakhir. Hal ini menarik perhatian karena pola pengawasan tersebut, menurutnya, sangat mirip dengan kasus penyiraman air keras yang dialami oleh aktivis KontraS, Andrie Yunus, pada 2022 lalu.
Detail Pengawasan yang Diungkapkan
Islah Bahrawi menjelaskan bahwa pengawasan ini dimulai beberapa minggu terakhir, meski ia masih belum memastikan waktu pasti kapan aktivitas tersebut dimulai. Menurut informasi yang diberikan, dirinya telah memperhatikan kegiatan pengejaran dari sekitar dua minggu lalu. “Kami akan berdiskusi bersama dan mengambil langkah-langkah selanjutnya berdasarkan keputusan rekan-rekan. Namun, pola pengawasan ini, menurut analisis kami, mirip dengan yang terjadi pada Andrie Yunus,” ujarnya kepada wartawan pada Rabu (10/6/2026).
Dalam kesempatan itu, Islah menyampaikan bahwa pengawasan terjadi di area parkir sekitar Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Ia mengatakan bahwa pelaku pengawasan secara teratur mengamati kegiatannya, termasuk saat ia menghadiri acara kongres atau diskusi terkait isu kebijakan. “Kami merasa diri kita diikuti, dan itu terjadi sejak beberapa minggu belakangan,” tambahnya.
Kasus Andrie Yunus pada 2022 lalu dianggap sebagai contoh nyata penggunaan OTK untuk menekan aktivis dan tokoh-tokoh yang dianggap berisiko. Dalam konteks ini, Islah menyebut bahwa pengawasan terhadap dirinya tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga melalui aktivitas digital seperti perekaman dan pemantauan lokasi. “Saya rasa ada upaya untuk menghalangi kami dalam bergerak bebas,” ujarnya dalam sebuah wawancara terpisah.
Analisis dan Dampak pada Aktivitas Politik
Islah Bahrawi menekankan bahwa pengawasan oleh OTK ini menunjukkan adanya strategi yang terencana untuk mengurangi kemampuan individu atau kelompok dalam menyampaikan pandangan politik mereka. “Kasus ini mengingatkan kami tentang pentingnya transparansi dan kebebasan berbicara dalam ruang publik,” tambahnya. Menurut dia, hal ini bisa menjadi indikasi lebih luas tentang upaya mengontrol opini publik dan menekan aktivitas kegiatan sipil.
Komunikasi dengan tim pengacaranya terus berlangsung, dengan tujuan mengumpulkan bukti-bukti yang kuat untuk menentukan langkah selanjutnya. “Saat ini kami sedang menunggu hasil diskusi dengan tim hukum, sehingga bisa mengambil langkah tegas jika diperlukan,” jelasnya. Menurut pengamat, ini menjadi langkah strategis untuk mengungkap pengawasan yang terus-menerus terjadi, khususnya dalam situasi dimana banyak pihak menuntut transparansi dari lembaga-lembaga negara.
Dalam konteks sejarah, kasus Andrie Yunus dianggap sebagai pemicu perhatian lebih terhadap penggunaan OTK dalam mengontrol ruang publik. “Dengan pengawasan yang dilakukan, pihak-pihak tertentu mencoba menghalangi kebebasan berbicara,” kata Islah. Ia menegaskan bahwa meskipun belum ada bukti langsung, pola yang terjadi mengindikasikan adanya keterlibatan lembaga-lembaga tertentu dalam proses tersebut.
Komunitas kebebasan berbicara dan aktivis di berbagai lembaga mulai waspada terhadap pola serupa. “Ini bukan hanya kasus pribadi, tetapi juga menggambarkan upaya yang terus berlanjut untuk memengaruhi kebijakan dan narasi publik,” kata seorang anggota JMI dalam wawancara terpisah. Kehadiran OTK yang tidak diketahui identitasnya menjadi sorotan karena memberikan efek psikologis pada pelaku pengawasan, yang kemudian bisa berdampak pada keputusan mereka dalam beraktifitas politik.
Menurut analisis yang dilakukan oleh organisasi-organisasi kewaspadaan, penggunaan OTK dalam konteks politik modern memang menjadi trend yang kian marak. “Pengawasan ini tidak hanya sekadar mengawasi, tetapi juga bertujuan untuk memengaruhi dan merusak kredibilitas seseorang,” ujar Islah dalam sebuah wawancara yang disiarkan secara daring. Dengan menempatkan diri di bawah pengawasan, individu seperti Islah Bahrawi dan kelompoknya bisa merasa terancam dalam menyampaikan pandangan mereka secara terbuka.
