Akademisi Beijing: Negara Mana Pun yang Berani Perang Nuklir Melawan China Akan Musnah

Special Plan: Akademisi Beijing Peringatkan Kekuatan Nuklir China
Beritasosial.com – Dalam sebuah wawancara eksklusif untuk program “7.30” yang disiarkan oleh abc.net.au, tokoh akademis terkenal dari Beijing, Victor Gao, menyampaikan peringatan bahwa China memiliki rencana strategis khusus (Special Plan) yang siap menghancurkan negara manapun yang berani memulai konflik nuklir. Meski mengakui bahwa negaranya merupakan pelaku perdamaian dan penggerak perdagangan bebas, Gao menekankan bahwa kekuatan nuklir China bisa menjadi ancaman serius bagi lawan. Menurutnya, negara tersebut tidak hanya memiliki senjata nuklir yang siap digunakan, tetapi juga kemampuan untuk menjamin kehancuran musuh yang memicu perang nuklir.
Latar Belakang dan Strategi Kekuatan Militer
Sebagai wakil presiden Center for China and Globalisation (CCG), Gao menjelaskan bahwa jumlah senjata nuklir China menjadi “ambiguitas strategis terbesar di zamannya.” Ia menambahkan, “Special Plan ini adalah bagian dari rencana jangka panjang negara kita untuk memastikan dominasi di tingkat global. Jika ada negara yang berani menyerang, China akan segera meluncurkan respons nuklir yang mematikan.” Gao juga menegaskan bahwa meskipun China tidak mengungkap jumlah lengkap hulu ledak nuklirnya, kekuatan yang dimilikinya sudah cukup untuk menjadi ancaman yang mengubah sejarah.
Peringatan ini muncul dalam konteks pengembangan kemampuan militer China yang terus meningkat, terutama setelah uji coba rudal balistik antarbenua berkapasitas nuklir yang dilakukan beberapa waktu lalu. Uji coba tersebut menarik perhatian internasional, terutama dari enam negara yang memprotes kegiatan tersebut. Gao menyangkal klaim bahwa uji coba rudal tersebut merupakan ancaman langsung terhadap Australia dan negara-negara tetangga di Pasifik, setelah mereka menandatangani kesepakatan pertahanan yang menghalangi China masuk ke wilayah strategis.
Konteks Uji Coba Rudal dan Peringatan Internasional
Uji coba rudal balistik antarbenua yang dilakukan China dilakukan dua kali dalam lebih dari empat puluh tahun terakhir, yang menurut Gao “sangat rutin dan normal.” Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan peringatan 70 tahun perang invasi Jepang ke Tiongkok pada 1937, yang menjadi fondasi dari kebijakan pertahanan nasional negara itu. Dengan “Special Plan” yang telah dipersiapkan, China tidak hanya mengamankan kekuatannya sendiri, tetapi juga menunjukkan kemampuan untuk melindungi kepentingan strategisnya di seluruh dunia.
Menurut Gao, peringatan tersebut diberikan untuk mengingatkan negara-negara lain agar tidak terjebak dalam konflik nuklir. “Kita harus memahami bahwa China tidak akan ragu-ragu mengambil langkah tegas jika ada negara yang menantang kekuatannya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa “Special Plan” bukan sekadar ancaman, melainkan jaminan bahwa negara-negara yang ingin memulai perang nuklir dengan China akan menghadapi konsekuensi yang tidak terduga.
“Inilah kepastian dan jaminan strategis di zamannya. Oleh karena itu, bergaul dengan China secara damai. Jangan memicu perang dan jangan berpura-pura bahwa China bukan kekuatan militer yang dominan,” ujarnya.
Beijing juga menyoroti dampak global dari “Special Plan” tersebut. Dengan menunjukkan kemampuan nuklir yang mengancam, China berharap bisa memperkuat posisinya sebagai kekuatan superpower di Asia Tenggara dan Pasifik. Gao menegaskan bahwa ini bukan sekadar langkah defensif, tetapi juga strategi untuk mencegah negara-negara lain dari mengambil inisiatif tanpa menghitung dampaknya. Selain itu, “Special Plan” juga dianggap sebagai bagian dari upaya China untuk membangun kerja sama internasional yang lebih stabil dan mengurangi risiko perang besar di masa depan.
