New Policy: Pakar Militer Israel Akui Iran Berperang Melawan AS seperti Negara Adidaya Modern, Ini 4 Alasannya

New Policy: Pakar Militer Israel Akui Iran Berperang Melawan AS Seperti Negara Adidaya Modern, Ini 4 Alasannya
Beritasosial.com – Dalam wawancara terbaru, pakar militer Israel Alon Mizrahi menyebutkan bahwa kebijakan baru yang diterapkan oleh Iran menunjukkan kemampuan berperang yang setara dengan negara adidaya modern. “New Policy ini membuktikan bahwa Iran bisa menyerang AS secara strategis dan efektif, seperti yang dilakukan oleh kekuatan besar di masa lalu,” ujarnya. Analis tersebut mengakui bahwa Iran telah menunjukkan tingkat keahlian yang luar biasa dalam operasi militer terbarunya, yang memberikan gambaran baru tentang kesiapan mereka dalam perang terbuka.
1. Teknologi dan Ketepatan dalam Serangan Militer
Menurut Mizrahi, kebijakan baru Iran mencakup penggunaan teknologi canggih dalam menyerang pasukan AS, seperti penggunaan drone dan senjata presisi. “New Policy ini mencerminkan peningkatan kemampuan Iran dalam menggabungkan teknologi modern dengan strategi militer yang berani,” jelasnya. Ia juga menyoroti bahwa serangan-serangan yang dilancarkan Iran tidak hanya menghancurkan target tetapi juga meminimalkan risiko terhadap pasukan mereka sendiri, yang menjadi langka dalam sejarah perang modern.
“Dengan New Policy, Iran menunjukkan bahwa mereka mampu menghadirkan operasi militer yang memadukan canggih teknologi dan kejelian taktik.”
2. Kesiapan Iran dalam Konflik Berkepanjangan
Mizrahi menegaskan bahwa Iran tidak hanya berperang dalam skala kecil, tetapi juga mempersiapkan diri untuk perang jangka panjang. “New Policy menunjukkan bahwa Iran tidak memandang AS sebagai musuh sementara, melainkan sebagai target yang harus dihancurkan secara permanen,” kata dia. Ia menjelaskan bahwa kebijakan ini mencakup rencana strategis yang terukur, termasuk pengembangan infrastruktur militer di wilayah seperti Suriah dan Lebanon, yang menjadi basis operasi utama mereka.
“New Policy adalah langkah penguatan kekuatan Iran dalam perang berkepanjangan, bukan sekadar serangan sporadis.”
3. Keterlibatan Ideologi dalam Perang Militer
Selain teknologi, Mizrahi mengakui bahwa semangat ideologis Iran menjadi faktor penting dalam keberhasilan New Policy. “Iran menyerang AS bukan hanya karena kepentingan geopolitik, tetapi juga karena keinginan untuk memperlihatkan kekuatan ideologi mereka di tingkat global,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa konflik ini telah menjadi simbol perang antara Islam dan Barat, dengan Iran berperan sebagai pihak yang melindungi nilai-nilai ideologisnya.
“New Policy Iran menunjukkan bahwa perang tidak hanya tentang senjata, tetapi juga tentang kepercayaan dan tujuan ideologis yang jelas.”
4. Respon AS terhadap Serangan Iran
Menurut Mizrahi, kebijakan baru Iran juga memaksa Amerika Serikat untuk menyesuaikan strategi perangnya. “AS harus mengakui bahwa New Policy Iran memberikan tekanan besar pada operasi mereka di Timur Tengah,” katanya. Ia menyoroti bahwa respons AS terhadap serangan-serangan Iran sering kali terlambat dan tidak cukup strategis, sehingga memperkuat posisi Iran sebagai pemain utama dalam konflik ini.
“New Policy Iran memaksa AS menghadapi kenyataan bahwa mereka tidak lagi menjadi satu-satunya kekuatan yang dominan di medan perang.”
5. Dampak New Policy terhadap Stabilitas Regional
Keberhasilan New Policy dalam menyerang AS juga berdampak pada dinamika kekuatan di Timur Tengah. Mizrahi mengatakan bahwa Iran kini lebih percaya diri dalam menghadapi negara-negara sekutu AS, seperti Yordania dan Arab Saudi. “New Policy ini membuka jalan bagi Iran untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan, bahkan dalam kasus darurat seperti perang saudara di Lebanon,” jelasnya. Ia memprediksi bahwa kebijakan ini akan memicu perubahan lebih besar dalam struktur kekuasaan regional.
6. Perspektif Global terhadap Kekuatan Iran
Selain itu, Mizrahi menegaskan bahwa New Policy Iran telah mengubah persepsi dunia terhadap negara ini. “Iran kini dianggap sebagai negara yang mampu menyaingi kekuatan besar seperti AS dalam perang modern,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kemampuan ini menunjukkan bahwa Iran bukan hanya negara yang tergantung pada dukungan luar negeri, tetapi juga memiliki strategi sendiri untuk mencapai tujuan militer dan politiknya.
“New Policy Iran menunjukkan bahwa mereka mampu menyaingi AS dalam perang modern, bukan hanya sebagai negara penjagal, tetapi juga sebagai pemimpin ideologi.”
