Main Agenda: Israel Terus Bombardir Gaza, Mesir Marah Besar!
Israel Terus Bombardir Gaza, Mesir Marah Besar!
Main Agenda – Dalam dua minggu terakhir, serangan udara Israel mengakibatkan kematian 141 warga Palestina, memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan gencatan senjata di Gaza, yang sudah rapuh, bisa hancur. Mesir mengambil langkah diplomatik mendesak untuk mencegah eskalasi konflik, terutama setelah pernyataan dari pemerintah Israel yang menegaskan rencana perluasan pendudukan. Menurut seorang pejabat intelijen Mesir, pihaknya juga berusaha menyelesaikan perundingan dengan Hamas, yang dipimpin oleh negosiator utamanya, Khalil al-Hayya.
Upaya Diplomatik dan Ancaman Pendudukan
Para mediator mengungkapkan bahwa perluasan pendudukan Israel dari 53% menjadi 70% oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu merusak rencana perdamaian yang diusahakan AS sejak Oktober 2025. Mesir, yang terus melakukan komunikasi dengan mediator dari Qatar, Turki, dan pejabat AS, berupaya keras untuk menjaga proses negosiasi. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, pejabat Mesir menyebutkan bahwa upaya mengembalikan situasi ke jalur damai sedang dijalankan sebelum akhir pekan.
Mesir telah mengundang delegasi senior Hamas untuk pembicaraan mendesak, dengan harapan bisa mencegah perang habis-habisan di Gaza. Sumber mengatakan kontak antara kedua belah pihak terus berlangsung intens, sementara Kairo berusaha mengatur negosiasi sebelum minggu depan.
Kontroversi Rencana “Migrasi Sukarela”
Para pihak juga bergerak dalam arah yang berbeda. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengancam akan menerapkan rencana “migrasi sukarela” warga Palestina, yang memicu kemarahan regional. Dalam pengumuman pembunuhan kepala militer Hamas, Mohammed Odeh, Katz menegaskan bahwa rencana pemindahan paksa akan dilakukan “pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat”.
“Pernyataan Netanyahu tentang perluasan pendudukan serta serangan yang menewaskan tokoh militer Hamas didorong oleh kebutuhan politik dan kondisi kesulitan yang dihadapi di Lebanon,” jelas sumber tersebut.
Dalam rangka mencegah perundingan gagal, Mesir mengirimkan peringatan kepada Israel. Mereka menolak langkah-langkah yang mendorong penduduk Gaza menuju emigrasi sukarela atau mengarahkan warga Palestina ke perbatasan Rafah. Hamas, sementara itu, menyerukan AS dan negara-negara penjamin lainnya untuk segera mengambil tindakan “serius dan mendesak” agar Israel mematuhi komitmen perjanjian damai.
Sebagai penegas, gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang disepakati Oktober tahun lalu, masih berlaku. Namun, sejak kesepakatan tersebut, jumlah korban tewas mencapai 929 warga Palestina. Angka ini menunjukkan bahwa kekerasan terus berlanjut meski ada komitmen damai.
