Enggan Kirim Pasukan AS untuk Invasi Darat ke Iran, Trump: Orang Lain yang Akan Melakukannya

Trump Tegaskan Tidak Kirim Pasukan AS untuk Invasi Darat ke Iran
Beritasosial.com – Dalam wawancara terbaru dengan Fox News, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan sikapnya terhadap strategi militer terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa AS tidak akan mengirim pasukan kecil untuk melakukan invasi darat ke Iran, mengatakan bahwa tugas tersebut akan dijalankan oleh pihak lain. “Terkadang Anda membutuhkan kampanye darat, tapi kami memiliki orang lain yang akan melakukan kampanye darat untuk kami,” ujarnya. Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan terbaru program AS yang menekankan serangan udara sebagai alat utama dalam konflik dengan Iran.
Kampanye Serangan Udara dan Persiapan Strategi Militer
Trump menekankan bahwa serangan udara akan terus berlanjut hingga Iran “sudah cukup” menunjukkan resistensi. “Serangan akan berlanjut sampai saya mengatakan sudah cukup,” tegasnya. Ia juga menyebutkan bahwa target utama akan mencakup fasilitas vital seperti pembangkit listrik dan jembatan, sebagai bagian dari Latest Program yang bertujuan memperlemah kemampuan Iran dalam menjalankan operasional militer. Menurut laporan media, serangan-serangan tersebut akan berdampak signifikan pada stabilitas wilayah timur laut Irak dan wilayah perbatasan Iran.
“Kami sangat berhati-hati dengan penduduk sipil,” kata Trump. “Tapi jika kita melemahkan mereka cukup jauh dan cukup dalam, saya akan melakukannya.”
Dampak Serangan Bomber AS-Israel pada Masyarakat Iran
Kampanye pengeboman yang dimulai pada 28 Februari telah menyebabkan lebih dari 1.500 warga sipil tewas di Iran. Salah satu insiden terburuk adalah serangan terhadap sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh di Minab, yang menewaskan 168 orang, sebagian besar anak-anak. Menurut laporan media, sekolah tersebut kemungkinan menjadi korban serangan AS dari pangkalan angkatan laut IRGC terdekat. “Kesalahan bisa terjadi,” bantah Trump. “Tapi tidak ada yang melakukannya dengan sengaja.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Latest Program tetap memprioritaskan efisiensi dalam menargetkan infrastruktur militer Iran.
Presiden juga menekankan bahwa Iran “tidak akan memiliki siapa pun yang tersisa” jika tidak mencapai kesepakatan dengan AS, menyampaikan pesan itu ke Teheran “sekitar satu jam yang lalu.” Pulau Kharg, yang menjadi pusat ekspor minyak Iran dan terletak 25 km dari Teluk Iran, telah diserang dua kali sebelumnya sebagai bagian dari upaya memutus rantai pasok energi. Serangan ini menunjukkan bahwa Latest Program tidak hanya berfokus pada kekuatan militer tetapi juga pada pembatasan ekonomi Iran.
Program Terbaru Trump: Fokus pada Operasi Taktis
Latest Program yang diperkenalkan Trump mencakup rencana operasi taktis yang lebih intensif dibandingkan langkah-langkah sebelumnya. Ia menyatakan bahwa AS akan terus mengambil inisiatif dalam mengenai peran militer Iran, baik melalui udara maupun laut, tanpa perlu mengandalkan pasukan darat yang lebih besar. Strategi ini dirancang untuk mengurangi risiko kehilangan pasukan AS dalam operasi bertahan hidup, sambil memberi tekanan maksimal terhadap kemampuan Iran dalam perang gerilya.
“Kami tidak ingin bertarung dalam pertempuran langsung di darat,” tambah Trump. “Kami akan menghancurkan semua pembangkit listrik mereka dan jembatan mereka kecuali mereka mau duduk di meja perundingan dan bernegosiasi.”
Analisis Dampak Ekonomi dan Politik dari Latest Program
Program terbaru Trump menekankan dampak jangka panjang dari serangan udara terhadap ekonomi Iran. Dengan menghancurkan infrastruktur kritis seperti pembangkit listrik dan jembatan, AS berharap memicu krisis energi dan logistik yang akan mengganggu kestabilan pemerintahan Iran. Selain itu, strategi ini juga diharapkan mendorong negosiasi antara AS dan Iran, karena Trump menekankan bahwa “sudah cukup” akan menjadi titik balik jika Iran tidak bergerak untuk mengakhiri konflik.
Trump menjelaskan bahwa Latest Program merupakan bagian dari kebijakan luar negeri yang lebih luas, mencakup kepentingan geopolitik AS dalam wilayah Timur Tengah. Ia menyebut bahwa Iran adalah “musuh yang harus dikalahkan” dengan cara yang paling efektif, dan bahwa tindakan militer akan terus dilakukan hingga Iran mengakui kemenangan AS. “Kami ingin menunjukkan bahwa AS tidak takut mengambil langkah keras,” tambahnya dalam wawancara tersebut.
Langkah-Langkah Masa Depan dan Keterlibatan Sekutu
Kebijakan Latest Program juga mengantisipasi keterlibatan sekutu seperti Israel dalam operasi militer terhadap Iran. Trump menyatakan bahwa Israel akan tetap menjadi mitra utama dalam upaya memutus hubungan Iran dengan negara-negara lain. “Israel memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menargetkan fasilitas vital, dan kami akan bekerja sama dengan mereka,” kata Trump. Ia juga menegaskan bahwa AS akan terus mengevaluasi situasi di lapangan dan siap mengubah strategi jika diperlukan.
“Kami akan mengenai peran Iran hingga mereka kehilangan kekuatan untuk melanjutkan perang,” ujarnya. “Latest Program ini adalah rencana yang sangat cermat, dan kami akan mengimplementasikannya secara bertahap.”
