Pulihkan Kapasitas PLTP Sarulla ke 330 MW, Pemerintah Siapkan Investasi Rp4,8 T

Pemerintah Siapkan Rp4,8 T Pulihkan Kapasitas PLTP Sarulla ke 330 MW
Beritasosial.com – Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, akan menjadi lokasi strategis bagi pemulihan salah satu aset energi terbesar Indonesia. Pemerintah tengah menyiapkan investasi senilai Rp4,8 triliun atau setara USD270 juta untuk Pulihkan Kapasitas PLTP Sarulla ke 330 MW. Proyek ambisius ini bertujuan mengembalikan kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla agar beroperasi penuh sesuai kapasitas terpasangnya. Langkah ini merupakan bagian dari strategi nasional dalam memperkuat ketahanan energi dan mengoptimalkan potensi geotermal yang melimpah di wilayah tersebut.
Penyebab Penurunan Kapasitas dan Solusi yang Diterapkan
Saat ini, PLTP Sarulla hanya mampu menghasilkan listrik sekitar 220 MW dari kapasitas terpasang 330 MW. Faktor utama yang menyebabkan penurunan produksi adalah tekanan uap yang menurun dalam operasional lapangan panas bumi. Kondisi ini membuat pembangkit tidak dapat beroperasi pada level optimal meskipun fasilitasnya sudah siap. Pemerintah bersama pihak pengelola telah merancang rencana komprehensif untuk mengatasi masalah tersebut melalui penyelesaian administrasi dan penyaluran investasi tambahan yang telah disiapkan.
Proses pemulihan ini tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas saat ini, tetapi juga mempersiapkan fondasi untuk pengembangan lebih lanjut. Potensi panas bumi Sarulla diperkirakan mencapai 1.100 MW, sehingga masih terdapat ruang ekspansi yang sangat besar untuk masa depan. Dengan Pulihkan Kapasitas PLTP Sarulla ke 330 MW sebagai langkah awal, pengembangan bertahap akan dilaksanakan secara sistematis.
Timeline Administrasi dan Realisasi Investasi
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, memberikan gambaran jelas mengenai jadwal pelaksanaan proyek ini. Pemerintah menargetkan penyelesaian seluruh tahapan administrasi hingga Oktober 2026. Setelah periode tersebut, pemulihan kapasitas pembangkit ditargetkan berlangsung pada tahun 2027 hingga 2028. Proses ini melibatkan koordinasi multipihak untuk memastikan setiap tahap berjalan sesuai rencana.
“Yang pertama dari sisi administrasi kita akan selesaikan sampai dengan Oktober 2026 ini. Sudah selesai urusan administrasinya, tahun 2027-2028 ini kita kejar peningkatan kapasitas produksi,” ujar Yuliot dalam keterangan resmi, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Yuliot, tambahan investasi sekitar USD270 juta diperlukan untuk mengembalikan kemampuan produksi pembangkit ke kapasitas terpasang 330 MW. Dana ini akan digunakan untuk berbagai aspek pemulihan, termasuk perbaikan infrastruktur dan peningkatan sistem operasional.
Sejarah dan Peran PLTP Sarulla dalam Energi Nasional
PLTP Sarulla dioperasikan oleh Sarulla Operations Ltd. (SOL) dan merupakan salah satu proyek geotermal terbesar di Indonesia. Pembangkit ini terdiri dari tiga unit pembangkit, masing-masing berkapasitas 110 MW. Unit Silangkitang (SIL) mulai beroperasi secara komersial sejak Maret 2017, Unit Namora-I-Langit 1 (NIL-1) sejak Oktober 2017, dan Unit Namora-I-Langit 2 (NIL-2) sejak Mei 2018. Ketiga unit ini secara kolektif membentuk kapasitas total 330 MW yang menjadi target pemulihan.
Pemulihan kapasitas PLTP Sarulla diharapkan tidak hanya meningkatkan pasokan listrik berbasis energi baru terbarukan, tetapi juga menjadi pijakan bagi pengembangan lapangan panas bumi yang lebih luas. Langkah ini sejalan dengan target transisi energi nasional dan upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan listrik. Dengan Pulihkan Kapasitas PLTP Sarulla ke 330 MW, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil dan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
Proyek ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal di Tapanuli Utara. Penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan daerah, dan pengembangan infrastruktur pendukung menjadi manfaat tambahan yang tidak dapat diabaikan. Pemerintah berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap tahap pemulihan dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas tinggi.
