Apakah Orang Desa Menderita Terdampak Pelemahan Rupiah? Ini Penjelasan Ekonom
Apakah Orang Desa Terdampak Pelemahan Rupiah? Ini Penjelasan Ekonom
Apakah Orang Desa Menderita Terdampak Pelemahan – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memicu pertanyaan besar: apakah masyarakat pedesaan benar-benar menderita akibat perubahan ini? Menurut Nailul Huda, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan bahwa dampak pelemahan rupiah tidak langsung dirasakan oleh desa dinilai kurang tepat. Menurut Huda, hal tersebut mengabaikan realitas kompleks mengenai rantai pasok dan ketergantungan desa pada komoditas impor.
Mekanisme Pelemahan Rupiah dan Dampaknya pada Desa
“Pernyataan Prabowo merupakan pernyataan yang sama sekali tidak tepat. Masyarakat desa pada kenyataannya masih mengonsumsi barang-barang yang bahan bakunya diimpor. Kedelai, contohnya, pasti mengalami kenaikan harga saat rupiah melemah terhadap dolar AS. Belum lagi barang lain yang juga terpengaruh dari impor,” jelas Huda saat dihubungi, dikutip Selasa (19/5/2026).
Pelemahan rupiah berdampak signifikan pada biaya impor. Dalam konteks pedesaan, banyak komoditas pangan seperti beras, gula, dan minyak goreng masuk melalui impor. Harga pupuk yang juga mengandung komponen impor justru meningkat, sehingga mendorong kenaikan biaya produksi pertanian. Akibatnya, harga jual beras di pasaran ikut naik, membuat pengeluaran rumah tangga desa mengalami tekanan.
Struktur Ekonomi Desa dan Ketergantungan pada Impor
Kondisi ini menjadi lebih rumit karena mayoritas petani di Indonesia memiliki posisi ganda: sekaligus sebagai produsen dan konsumen beras. Hal ini membuat dampak pelemahan dolar AS terasa merata pada daya beli masyarakat, baik yang tinggal di desa maupun perkotaan. Selain itu, bahan baku pertanian seperti pupuk, benih, dan alat pertanian sering kali diimpor, sehingga kenaikan harga bahan baku langsung mengurangi profit petani.
Menurut Huda, ketergantungan pada impor bukan hanya masalah konsumsi, tetapi juga distribusi. Pelemahan rupiah memaksa pemerintah memperketat kebijakan pengadaan bahan baku dari luar negeri, yang berdampak pada harga jual komoditas lokal. Dalam skenario terburuk, daya beli masyarakat desa berpotensi menyusut, karena pengeluaran untuk kebutuhan pokok semakin besar.
Perspektif Ekonomi: Perluas Dampak Pelemahan Rupiah
Kenaikan harga barang kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng mengubah struktur ekonomi desa. Masyarakat desa, yang sebagian besar berpenghasilan rendah, justru paling rentan terhadap perubahan harga. Selain itu, pelemahan rupiah juga memengaruhi pendapatan petani dari ekspor. Produk pertanian lokal yang dijual ke luar negeri mengalami penurunan nilai, sehingga keuntungan ekspor berkurang.
Dampak ini berdampak pada pola hidup masyarakat desa. Kenaikan harga bahan pokok memaksa mereka menunda belanja, mengurangi konsumsi, atau membeli barang kebutuhan dengan kualitas lebih rendah. Di sisi lain, pertanian sebagai sektor utama ekonomi desa menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi ekonomi global. Huda menekankan bahwa pemerintah perlu memperkuat kebijakan untuk mengurangi ketergantungan pada impor, terutama untuk bahan baku pangan.
Langkah Pemerintah dan Solusi Jangka Panjang
Huda menambahkan bahwa sebagai kepala negara, presiden wajib menunjukkan kewaspadaan terhadap pelemahan rupiah. Karena efek domino dari pelemahan mata uang tersebut nyata terasa, terutama pada harga barang kebutuhan pokok yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat luas. Pemerintah perlu mempercepat reformasi struktural, seperti meningkatkan produksi dalam negeri dan memperkuat daya tawar ekspor.
Berdasarkan analisis Huda, kenaikan harga bahan baku pertanian yang diimpor akan terus berdampak hingga tahun 2027. Masyarakat desa, yang banyak mengandalkan pendapatan dari pertanian, akan terus terbebani oleh kenaikan biaya produksi. Untuk mengurangi dampak ini, pemerintah diusulkan mengalokasikan dana subsidi pupuk secara lebih efisien, serta mendorong pengembangan pertanian berbasis lokal.
Analisis ekonom memperlihatkan bahwa pelemahan rupiah bukan hanya mengancam kelangsungan hidup masyarakat desa, tetapi juga memperkuat ketimpangan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Di kota, masyarakat lebih mudah mencari sumber pendapatan alternatif, sedangkan di desa, ketergantungan pada pertanian menyebabkan mereka lebih rentan terhadap risiko ekonomi global. Kebijakan pemerintah yang tepat akan menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif ini pada jangka panjang.
