Latest Program: Atasi Persoalan Sampah, Pembangunan PSEL di Makassar Harus Segera Terealisasi

atasi-persoalan-sampah-pembangunan-psel-di-makassar-harus-segera-terealisasi-rgm

Latest Program: Makassar Butuh Pembangunan PSEL untuk Mengatasi Persoalan Sampah

Menkeu Purbaya Tekankan Percepatan Proyek PSEL sebagai Bagian dari Latest Program

Latest Program – Sebagai bagian dari Latest Program, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan perlunya percepatan pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Makassar. Langkah ini diambil setelah sidang debottlenecking yang diadakan di Jakarta, Selasa 7 Mei 2026. Acara tersebut bertujuan untuk mengatasi hambatan birokrasi yang menghambat realisasi Proyek Strategis Nasional (PSN) PSEL. Dalam pidatonya, Purbaya menyatakan bahwa keputusan untuk melanjutkan proyek di lokasi awal, dengan memanfaatkan lahan yang telah disiapkan investor, adalah langkah paling tepat untuk menyelesaikan masalah sampah di kota tersebut.

“Dengan skema Perpres No 109/2025, proyek PSEL tidak akan menambah beban anggaran daerah. Ini juga sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto agar infrastruktur strategis seperti PSEL segera terealisasi,” kata Ali Ahmudi Achyak, Ketua Center for Energy Security Studies (CESS), dalam pernyataan tertulis, Senin (18/5/2026).

Ali Ahmudi Achyak menambahkan bahwa wali kota Makassar, Munafri Arifuddin, perlu segera menindaklanjuti keputusan yang diambil oleh Menkeu. Ia menyarankan agar proyek ini dikerjakan tanpa hambatan, mengingat potensi manfaat yang besar bagi masyarakat. “Wali kota Makassar sudah menyetujui rencana tersebut di hadapan Menkeu, yang diberi perintah langsung oleh Presiden,” tambah Ali. Menurutnya, kebijakan Latest Program ini menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah untuk mempercepat penyelesaian masalah lingkungan yang sudah lama diabaikan.

PSEL: Solusi untuk Masalah Sampah Perkotaan di Makassar

Pembangunan PSEL di Makassar dianggap sebagai bagian dari Latest Program yang berfokus pada pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Proyek ini diharapkan dapat menyerap sekitar 500 ton sampah per hari, yang merupakan angka signifikan mengingat jumlah penduduk kota Makassar terus meningkat. Teknologi yang akan digunakan mirip dengan yang diterapkan di kota-kota besar seperti Singapura dan Jepang, yang menawarkan solusi efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, PSEL juga diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang akhirnya dialirkan ke TPA, serta menghasilkan energi listrik yang bisa digunakan untuk kebutuhan lokal.

“Pembangunan PSEL tidak hanya mengatasi masalah sampah, tetapi juga menjadi bagian dari Latest Program untuk mendukung ekonomi daerah melalui kegiatan produksi energi,” jelas Ali. Ia menjelaskan bahwa proyek ini akan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ketersediaan sumber daya energi terbarukan, dan menurunkan emisi karbon. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk menurunkan jejak karbon hingga 2030, yang menjadi prioritas dalam kebijakan lingkungan nasional.

Menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, sampah perkotaan terus meningkat setiap tahunnya. Dalam beberapa bulan terakhir, volume sampah yang dihasilkan mencapai sekitar 1.500 ton per hari, dengan sekitar 70% dari total sampah tersebut berasal dari sisa rumah tangga dan industri. Dengan PSEL, diharapkan mampu mengolah sebanyak 500 ton per hari, yang merupakan 30% dari total sampah. Sisanya akan dikelola melalui sistem daur ulang dan pengolahan sampah lainnya. Ali menegaskan bahwa pengelolaan sampah yang terpadu adalah kunci untuk mencapai keberlanjutan lingkungan.

Perlawanan Masyarakat dan Tantangan dalam Realisasi Latest Program

Walaupun Latest Program menjanjikan banyak manfaat, proyek PSEL di Makassar masih menghadapi tantangan. Salah satu isu yang muncul adalah kekhawatiran masyarakat terkait dampak sosial, seperti bau dan kebisingan. Demonstrasi yang dilakukan warga di Kecamatan Tamanlanre menjadi bukti bahwa ada ketidakpuasan terhadap rencana pemindahan lokasi proyek. Ali menilai bahwa keluhan tersebut harus ditangani secara transparan, agar tidak dijadikan alat politik yang menghambat keberhasilan Latest Program.

“Proses pemerintahan harus terbuka, agar masyarakat merasa diakui. Jika tidak, proyek PSEL bisa menjadi bahan perdebatan yang menguras energi,” kata Ali. Ia mengingatkan bahwa proyek ini adalah bagian dari Latest Program yang seharusnya mendapat dukungan penuh dari semua pihak. Tantangan lain yang dihadapi termasuk koordinasi antar instansi dan kesesuaian rencana dengan kebutuhan warga setempat. Ali berharap pemerintah daerah dapat merespons keberatan warga dengan solusi yang jelas dan konstruktif.

Ali juga menyoroti pentingnya komunikasi yang efektif antara pemerintah dan masyarakat. “Dengan mempercepat proses penyelesaian, pemerintah bisa membuktikan bahwa Latest Program ini benar-benar melayani kebutuhan warga,” ujarnya. Selain itu, pihaknya menyarankan agar proses evaluasi berjalan cepat, sehingga proyek PSEL bisa segera mulai beroperasi. Keberhasilan proyek ini akan menjadi contoh bagus dalam penyelesaian masalah lingkungan di kota-kota besar Indonesia.

Dalam rangka mengoptimalkan Latest Program, pemerintah pusat dan daerah perlu berkolaborasi lebih erat. Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa anggaran yang dialokasikan untuk PSEL sudah cukup untuk memulai pekerjaan. “Kami berharap pemerintah daerah tidak menunda-nunda lagi, karena waktu sangat terbatas untuk menyelesaikan masalah sampah sebelum musim hujan tiba,” tutur Menteri Keuangan. Ia menambahkan bahwa jika proyek ini tidak segera terealisasi, Kota Makassar akan terus terpuruk dalam pengelolaan sampah yang tidak efisien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *