Seratusan Siswa SLB Masuk Gedung Agung Yogyakarta, Rasakan Langsung Kemegahan Istana
Seratusan Siswa SLB Masuk Gedung Agung Yogyakarta: Pengalaman Bersejarah
Beritasosial.com – Seratusan Siswa SLB Masuk Gedung Agung Yogyakarta pada Rabu sore, 12 Agustus 2026, menandai momen istimewa bagi para siswa berkebutuhan khusus. Lebih dari 100 siswa dari berbagai sekolah luar biasa di Yogyakarta bersama pendamping mereka menikmati kunjungan eksklusif ke istana bersejarah yang terletak di Jalan Malioboro. Bangunan megah yang telah berdiri sejak tahun 1824 ini menyimpan banyak cerita tentang perjuangan bangsa Indonesia.
Gedung Agung memiliki peran strategis dalam sejarah Indonesia. Pada periode 1946 hingga 1949, istana ini menjadi tempat tinggal dan pusat pemerintahan Presiden Soekarno ketika Yogyakarta ditetapkan sebagai Ibu Kota Republik Indonesia. Arsitektur klasik Eropa yang menjadi ciri khas bangunan ini semakin memukau para siswa saat pertama kali melihatnya secara langsung. Kini, masyarakat dapat mengakses situs bersejarah ini melalui sistem reservasi yang tersedia secara online.
Program Suara Inklusi untuk Semua 2026
Kunjungan ini merupakan bagian dari Program Istana Untuk Rakyat (Istura) yang diikuti oleh para siswa penyandang disabilitas melalui inisiatif Suara Inklusi untuk Semua 2026. Program tersebut digagas oleh Diwa Foundation dengan tujuan memberikan pengalaman inklusif kepada anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka dapat merasakan kemegahan istana yang selama ini hanya bisa dilihat melalui foto atau video.
Rangkaian acara yang berlangsung meriah ini juga menyertakan parade kebangsaan dan budaya yang menampilkan bentangan bendera sepanjang 1.000 meter. Selain itu, acara ini memecahkan rekor MURI untuk pembacaan teks Proklamasi 1945 menggunakan bahasa isyarat dengan jumlah peserta terbanyak sepanjang sejarah. Rekor ini menjadi bukti nyata bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki potensi luar biasa yang perlu terus dikembangkan.
Antusiasme Para Siswa dan Tokoh Nasional
Dilan, siswa SLB Pembina Kota Yogyakarta berusia 16 tahun, mengungkapkan kebahagiaannya dengan mata berbinar. Ia mengaku ini merupakan kali pertama ia memasuki Istana Negara Yogyakarta dan sangat terkesan dengan keagungan bangunannya.
“Senang sekali. Saya pertama kali masuk Istana Negara Yogyakarta. Kapan-kapan lagi kalau diajak masuk istana, ikut!”
Selama kunjungan, para siswa juga berkesempatan berfoto bersama sejumlah tokoh nasional dan daerah yang hadir. Di antaranya adalah Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Hariyadi atau yang dikenal sebagai Titiek Soeharto, Mendikdasmen Abdul Mu’ti, Wakil Gubernur DIY Paku Alam X, Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta Deni Mulyana, serta Anggota DPD RI Daud Yordan. Kehadiran para tokoh ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan inklusif bagi generasi muda Indonesia.
Ketua MKKS Provinsi DIY, Nurkhasanah, menyampaikan apresiasinya kepada Gedung Agung dan Diwa Foundation atas kesempatan yang diberikan kepada anak-anak penyandang disabilitas. Ia berharap kolaborasi ini dapat berlanjut untuk kegiatan lainnya, khususnya yang berfokus pada pemberdayaan anak-anak berkebutuhan khusus agar karya mereka dapat dilihat dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
“Harapannya Diwa Foundation bisa berkolaborasi untuk kegiatan lainya, terutama spesifik untuk mengangkat anak-anak penyandang disabilitas. Agar karya mereka bisa dilihat dan dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Diah Warih Anjari, Ketua Panitia Suara Inklusi untuk Semua 2026, menilai kunjungan ini sebagai peristiwa bersejarah. Menurutnya, para siswa tidak hanya mendengar cerita tentang kemegahan Gedung Agung, tetapi dapat melihat langsung bangunan bersejarah sekaligus koleksi yang tersimpan di dalamnya.
“Jadi para siswa ini tidak lagi hanya mendengar kemegahan Gedung Agung. Mereka bisa masuk gedung bersejarah ini dan melihat koleksi-koleksinya,” kata Diah Warih.
Frequently Asked Questions
Bagaimana cara mendaftar untuk kunjungan ke Gedung Agung? Masyarakat dapat melakukan reservasi melalui website resmi Gedung Agung atau menghubungi panitia penyelenggara program. Proses pendaftaran biasanya dibuka beberapa minggu sebelum tanggal kunjungan.
Apa saja koleksi yang dapat dilihat di dalam Gedung Agung? Para pengunjung dapat melihat berbagai koleksi bersejarah seperti dokumen proklamasi, foto-foto Presiden Soekarno, serta berbagai artefak yang berkaitan dengan sejarah Indonesia.
Apakah kunjungan ini terbuka untuk umum? Ya, Gedung Agung membuka pintu untuk masyarakat umum. Namun, untuk program khusus seperti Suara Inklusi untuk Semua 2026, pendaftaran dilakukan secara selektif melalui lembaga terkait.
Kunjungan ke Gedung Agung tidak sekadar menjadi wisata sejarah, tetapi juga menjadi ruang edukasi yang mempertemukan masyarakat dengan sejarah, seni, dan nilai-nilai kebangsaan sekaligus memperkuat semangat inklusivitas. Semoga program serupa dapat terus dikembangkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia.
