Nasib 1.023 Retaker Dokter Terkatung-katung, Ketua Komisi XIII: Kembalikan Spirit Humanisme dalam Pendidikan Kedokteran

nasib-1023-retaker-dokter-terkatungkatung-ketua-komisi-xiii-kembalikan-spirit-humanisme-dalam-pendidikan-kedokteran-tor

Nasib 1 023 Retaker Dokter dan Desakan Pendidikan Humanis

Beritasosial.com – Nasib 1 023 Retaker Dokter menjadi perhatian dalam diskusi publik bertajuk “Menata Kesempatan yang Adil bagi Retaker Dokter: Tantangan dan Solusi ke Depan” di Ruang Literasi Kaliurang, Yogyakarta, Sabtu (19/9/2026). Ketua Komisi XIII DPR Willy Aditya menilai persoalan peserta yang belum menuntaskan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) perlu dilihat sebagai bagian dari pembenahan pendidikan kedokteran secara menyeluruh.

Sebanyak 1.023 peserta retaker masih menghadapi proses ujian yang berulang. Menurut Willy, situasi tersebut tidak semestinya dipahami hanya sebagai persoalan angka kelulusan atau beban pribadi peserta. Sistem pendidikan, kesempatan yang tersedia, serta nilai yang membentuk calon dokter juga perlu menjadi bahan evaluasi.

Pendidikan kedokteran, kata Willy, mempertemukan dua kebutuhan mendasar masyarakat, yakni pendidikan dan layanan kesehatan. Karena itu, persoalan yang dialami peserta UKMPPD dapat berdampak lebih luas terhadap proses penyediaan tenaga medis bagi masyarakat.

“Pendidikan kedokteran itu perjumpaan dari dua hal yang paling elementer dalam hidup kita. Satu itu pendidikan, yang kedua itu kedokteran,” tutur Willy.

Peran dokter bagi masyarakat dan republik

Dalam pidato kuncinya, Willy mengingatkan bahwa dokter mempunyai tempat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Ia menekankan bahwa kelahiran Republik Indonesia tidak lepas dari peran kalangan dokter. Pandangan tersebut menjadi dasar bagi dorongannya agar profesi kedokteran tetap berorientasi pada pelayanan masyarakat.

“Republik ini lahir dari tangan dokter. Bukan kita saja yang lahir dari tangan bidan dan dokter,” ujar Willy.

Perhatiannya pada isu ini juga berkaitan dengan pengalaman saat pembahasan revisi Undang-Undang Pendidikan Kedokteran. Willy pernah menjabat Wakil Ketua Badan Legislasi DPR pada periode 2019-2024. Ia menilai pembentukan dokter memerlukan perhatian sejak proses pendidikan hingga lulusan memasuki layanan kesehatan.

Dalam konteks Nasib 1 023 Retaker Dokter, UKMPPD merupakan tahapan penting yang menentukan perjalanan peserta menuju profesi dokter. Ketika peserta harus kembali mengikuti ujian, persoalan tersebut dapat menimbulkan ketidakpastian yang berkepanjangan. Penyelesaian yang adil, menurut pandangan Willy, perlu mempertimbangkan sistem secara utuh dan tidak semata-mata membebankan keadaan kepada retaker.

Kritik terhadap feodalisme dan liberalisme

Willy juga menyoroti dua persoalan yang dinilainya masih kuat dalam pendidikan kedokteran di Indonesia, yaitu feodalisme dan liberalisme. Kritik itu disampaikan untuk menegaskan bahwa pembenahan pendidikan dokter tidak cukup dilakukan melalui perubahan teknis maupun regulasi semata.

“Feodalisme yang paling akut ada di mana? Fakultas kedokteran. Liberalisme yang paling akut ada di mana? Fakultas kedokteran,” jelasnya.

Menurutnya, persoalan retaker perlu ditempatkan dalam pembahasan yang lebih luas mengenai relasi di lingkungan pendidikan, akses terhadap kesempatan, dan arah pembentukan calon dokter. Evaluasi tidak hanya menyangkut kemampuan akademik, melainkan juga lingkungan yang membantu peserta berkembang secara adil dan bermartabat.

Nasib 1 023 Retaker Dokter pun berkaitan dengan kebutuhan masyarakat atas tenaga medis yang profesional. Pendidikan kedokteran tidak sekadar menghasilkan lulusan yang menguasai keterampilan klinis, tetapi juga calon dokter yang kelak berhadapan dengan pasien, keluarga pasien, serta persoalan kesehatan yang beragam.

Humanisme sebagai inti pendidikan kedokteran

Willy mendorong agar spirit humanisme kembali menjadi landasan pendidikan kedokteran. Kompetensi profesional tetap penting, tetapi kemampuan teknis harus berjalan seiring dengan komitmen kemanusiaan. Seorang dokter tidak hanya dituntut memahami ilmunya, melainkan juga mampu melihat pasien sebagai manusia yang membutuhkan pertolongan dan penghormatan.

“Kita bersama-sama mengembalikan sumpah kedokteran. Apa sumpahnya? Mereka bersumpah atas nama kemanusiaan,” ujar Willy.

Pesan tersebut dinilai relevan bagi peserta retaker yang masih berjuang menyelesaikan UKMPPD. Proses menuju kelulusan bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan bagian dari perjalanan membentuk dokter yang memiliki tanggung jawab sosial.

Willy berharap peserta yang kelak lulus dapat menempatkan profesinya untuk kepentingan rakyat. Kelulusan UKMPPD, dalam pandangan itu, bukan titik akhir perjuangan, melainkan awal tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kemanusiaan.

FAQ Nasib 1 023 Retaker Dokter

Apa yang dimaksud retaker dokter?

Retaker dokter adalah peserta yang kembali mengikuti UKMPPD karena belum menuntaskan ujian pada kesempatan sebelumnya. UKMPPD merupakan salah satu tahapan penting dalam program profesi dokter.

Berapa jumlah retaker dokter yang menjadi perhatian?

Dalam diskusi di Yogyakarta, disebutkan terdapat 1.023 peserta retaker dokter yang belum menuntaskan UKMPPD.

Mengapa persoalan retaker perlu dibahas secara menyeluruh?

Menurut Willy Aditya, persoalan tersebut tidak cukup dilihat dari hasil ujian individu. Pembahasan juga perlu mencakup sistem pendidikan kedokteran, kesempatan yang adil bagi peserta, serta nilai kemanusiaan dalam pembentukan calon dokter.

Apa pentingnya humanisme bagi calon dokter?

Humanisme membantu memastikan kemampuan medis dijalankan dengan kepedulian terhadap pasien. Dokter diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga menjalankan profesinya dengan penghormatan terhadap kemanusiaan dan kepentingan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *