Key Discussion: Jelang Muktamar ke-35, Calon Ketum PBNU Gus Salam Silaturahmi dengan PWNU dan PCNU se-NTT
Jelang Muktamar ke-35, Key Discussion Gus Salam tentang Strategi NU di NTT dan Harapan Masa Depan
Key Discussion menjadi pusat perhatian sebelum Muktamar ke-35 yang akan dihelat oleh Nahdlatul Ulama (NU) di Nusa Tenggara Timur (NTT). Calon Ketua Umum PBNU, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, melakukan silaturahmi dengan pengurus PWNU dan PCNU se-NTT di Hotel Neo Aston Kupang, Minggu, 7 Juni 2026. Kehadiran Gus Salam dianggap sebagai langkah strategis untuk mendengar suara langsung dari komunitas NU di luar Jawa, terutama di daerah dengan tantangan geografis dan sosial yang kompleks.
Pesan Gus Salam: Tantangan dan Peluang untuk NU di NTT
Dalam Key Discussion yang dipandu oleh para masyayikh dari Pesantren Ploso, Kediri, Gus Salam mengungkapkan bahwa partisipasi NU di NTT bukan sekadar keputusan politik, melainkan bentuk komitmen batin untuk menjaga keutuhan identitas umat Islam. “NTT memiliki tantangan khusus, seperti isolasi wilayah, kesenjangan akses pendidikan, dan kompetisi ideologis dengan paham-paham lokal,” katanya. Ia menekankan perlunya adaptasi kebijakan NU yang selama ini dominan di Jawa untuk kondisi NTT yang lebih spesifik.
“Key Discussion ini membuka ruang dialog terbuka agar NU bisa menghadapi tantangan seperti madura atau sunda dengan strategi yang berbeda. Kami ingin PBNU lebih memahami kebutuhan NTT, termasuk pengembangan pesantren yang mampu bertahan di tengah kondisi geografis yang sulit.”
Gus Salam menambahkan bahwa keberhasilan NU di NTT bergantung pada kolaborasi antara PBNU, PWNU, dan PCNU. “Saya berharap program pendidikan gratis dan ekonomi berkelanjutan bisa menjadi titik balik untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di sini,” jelasnya. Ia juga mengingatkan perlu adanya inovasi dalam pengelolaan kegiatan keagamaan agar lebih relevan dengan konteks lokal.
Peran Pesantren dalam Pembangunan Nasional
Key Discussion yang dihadiri oleh puluhan pengurus PCNU menyoroti peran pesantren sebagai pilar utama dalam membangun ketahanan nasional. Para peserta menyatakan bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat studi agama, tetapi juga bentuk organisasi yang mampu mengubah masyarakat melalui pendidikan karakter dan nilai-nilai keislaman. “Pondok pesantren di NTT perlu didorong lebih kuat, karena mereka menjadi wadah untuk mengasah pemimpin masa depan,” kata salah satu peserta.
“PBNU harus menjadi penjamin utama untuk program pesantren di NTT. Kami mengharapkan peningkatan bantuan keuangan dan pendampingan teknis agar pesantren bisa berkembang secara mandiri,” ujar Kiai Latif Daka, Ketua PCNU Kabupaten Alor.
Beberapa pengurus PCNU juga menyoroti pentingnya melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan. “Key Discussion ini memberi kesempatan untuk memperkuat komunikasi antara PBNU dan daerah. Kami ingin kebijakan PBNU tidak hanya keluar dari Jakarta, tetapi juga muncul dari suara-suara lokal,” tambah Kiai Zainal Muttaqin dari PCNU Malaka. Hal ini menjadi basis untuk memastikan keberlanjutan dan relevansi kegiatan NU di NTT.
Kehadiran Gus Salam dianggap sebagai langkah awal untuk memperkuat jaringan pengurus NU di NTT. Pemimpin Pesantren Ploso ini diharapkan mampu membangun kesepahaman antara PBNU dan cabang-cabang di luar Jawa. “Key Discussion ini menjadi jembatan untuk menyampaikan harapan masyarakat NTT kepada PBNU. Kami ingin ada kebijakan yang lebih spesifik untuk wilayah ini,” kata Ustaz Ajiz Anwar dari PCNU Kota Kupang.
Dalam Key Discussion, Gus Salam juga menyoroti peran media dan komunikasi dalam memperkuat citra NU. “Masyarakat NTT perlu terus diinformasikan tentang visi misi NU, agar mereka bisa mengambil keputusan yang tepat,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa PBNU harus menjadi mitra yang tangguh dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman di daerah-daerah yang kurang diperhatikan.
Acara ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menyusun strategi PBNU untuk memperkuat keberadaan NU di NTT. Partisipasi aktif para pengurus PWNU dan PCNU se-NTT menunjukkan kepentingan mereka dalam memastikan Muktamar ke-35 berjalan sukses dan menghasilkan rencana aksi yang konkret. Key Discussion ini membuka peluang untuk memperkaya pemahaman tentang peran NU di wilayah yang masih konservatif namun potensial.
