Key Strategy: SIG Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak, Peternak di Aceh Hemat 60%

sig-sulap-60-ton-sampah-kelapa-jadi-pakan-ternak-peternak-di-aceh-hemat-60-wzn

SIG: Key Strategy Mengubah Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak Aceh

Key Strategy baru SIG (PT Semen Indonesia) menarik perhatian karena berhasil mengubah limbah kelapa menjadi pakan ternak berkelanjutan. Inisiatif ini, yang dikenal sebagai Sakeladera, memberikan solusi inovatif untuk masalah sampah di Pantai Lampuuk, Aceh. Dengan mengolah 60 ton sampah kelapa per bulan menjadi cocopeat, program ini tidak hanya mengurangi polusi tetapi juga membantu peternak menghemat biaya hingga 60 persen.

Latar Belakang dan Tujuan Program

Program Sakeladera lahir dari upaya SIG memperkuat Key Strategy keberlanjutan mereka. Sampah kelapa di Pantai Lampuuk, kawasan wisata yang ramai dikunjungi, sebelumnya sering menjadi masalah lingkungan karena dibuang atau dibakar, menghasilkan emisi karbon hingga 34,8 ton CO2 setiap bulan. SIG, melalui anak perusahaan PT Solusi Bangun Andalas, menginisiasi proyek ini pada 2024 untuk mengubah limbah menjadi bahan baku alternatif yang bernilai ekonomi.

Keberhasilan Key Strategy ini terlihat dari penurunan volume sampah yang mencapai 20-24 ton per bulan. Dengan menggabungkan teknologi pengolahan dan kolaborasi dengan masyarakat, SIG menciptakan model ekonomi berkelanjutan yang menguntungkan peternak dan lingkungan sekaligus. Inisiatif ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan ekonomi lokal yang ditekankan dalam Key Strategy keberlanjutan mereka.

Proses Konversi Sampah Kelapa

Proses konversi sampah kelapa menjadi pakan ternak melibatkan langkah-langkah teknis yang dipandu oleh SIG. Limbah kelapa diolah menjadi cocopeat melalui metode pengeringan dan penggilingan, lalu dijadikan campuran pakan unggas dan ternak. Bahan ini memiliki kandungan nutrisi yang memadai, sesuai hasil uji laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri. Dengan Key Strategy ini, SIG tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga mengoptimalkan sumber daya alam lokal.

Kolaborasi dengan komunitas Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil) menjadi kunci keberhasilan Key Strategy program Sakeladera. SIG menyediakan alat pengolahan, pelatihan, dan bantuan teknis agar masyarakat bisa mandiri dalam memanfaatkan sampah. Proses ini juga melibatkan 28 peserta yang aktif dalam rantai pasok cocopeat, mulai dari pengumpulan hingga distribusi ke peternak. Key Strategy ini menggabungkan inovasi teknologi dengan partisipasi aktif masyarakat.

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan

Berdasarkan data, program Sakeladera memberikan manfaat ekonomi signifikan. Peternak unggas di Lhoknga menghemat biaya produksi pakan hingga 60 persen, atau sekitar Rp28,2 juta per bulan. Dengan Key Strategy ini, mereka mendapatkan bahan pakan yang lebih murah dan bermutu, sekaligus meningkatkan pendapatan melalui pemanfaatan limbah.

“Program Sakeladera menunjukkan komitmen nyata SIG terhadap keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni. Ia menegaskan bahwa Key Strategy ini menjadi bagian dari Sustainability Roadmap 2030, dengan fokus pada lingkungan dan ekonomi lokal. Selain mengurangi emisi karbon, inisiatif ini juga membangun ekosistem perekonomian baru yang berbasis sampah.

Konversi 60 ton sampah kelapa per bulan menjadi pakan ternak tidak hanya memperkuat Key Strategy SIG tetapi juga memberikan contoh nyata tentang ekonomi sirkular. Dengan mengubah limbah menjadi barang berharga, SIG membuktikan bahwa Key Strategy inovatif ini dapat diterapkan di wilayah lain sebagai solusi keberlanjutan. Proyek ini juga membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat, sekaligus meningkatkan kualitas hidup melalui pendapatan tambahan.

Program Sakeladera berhasil mencapai rasio Social Return on Investment (SROI) sebesar 2,5, yang menunjukkan bahwa investasi awal sebesar Rp1 menghasilkan manfaat sosial Rp2,5. Ini menegaskan bahwa Key Strategy SIG tidak hanya berdampak lingkungan tapi juga menghasilkan keuntungan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, SIG menunjukkan bahwa bisnis bisa berjalan sejalan dengan keberlanjutan lingkungan.

Berdasarkan pengamatan, masyarakat setempat antusias terhadap Key Strategy ini karena memudahkan pemanfaatan sampah kelapa. Pengelolaan limbah menjadi pakan ternak juga mengurangi beban pengolahan sampah di daerah wisata, yang sebelumnya membutuhkan biaya tinggi. SIG terus mengembangkan inisiatif ini sebagai bagian dari Key Strategy yang menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *