Important Visit: TAUD Lihat Sejak Awal Proses Sidang Militer Tidak Berikan Rasa Keadilan bagi Andrie Yunus

taud-lihat-sejak-awal-proses-sidang-militer-tidak-berikan-rasa-keadilan-bagi-andrie-yunus-yqu

TAUD: Proses Sidang Militer Tidak Berikan Keadilan bagi Andrie Yunus

Important Visit – Dalam important visit ke Pengadilan Militer II-08 Jakarta, organisasi Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) mengkritik proses hukum yang sedang dijalani Andrie Yunus. Aktivis dari KontraS ini menolak untuk hadir dalam persidangan kasus penyiraman air keras yang melibatkan empat prajurit TNI. Penolakan tersebut menjadi fokus perhatian TAUD, yang pada important visit Senin (11/5/2026) menyatakan bahwa proses sidang militer sejak awal tidak menjamin rasa keadilan bagi korban.

Kritik terhadap Transparansi Pemanggilan Saksi

TAUD, sebagai kuasa hukum Andrie Yunus, mengungkapkan bahwa hingga kini belum menerima surat panggilan resmi dari penyidik. “Surat permintaan saksi tambahan hanya dikirimkan ke LPSK, bukan langsung kepada korban atau penasihat hukumnya,” ujar Airlangga Julio, perwakilan TAUD. Menurut Julio, ini menunjukkan ketidakberpihakan karena korban tidak diberi kesempatan menyampaikan pendapatnya sejak awal.

“Ya, sejak awal proses persidangan militer ini tidak berpihak. Korban tidak pernah diberikan ruang untuk berbicara, dan semua keputusan diambil tanpa melibatkan mereka,” tambah Julio.

Alat Bukti Tumbler Dikritik sebagai Bukti Ketidakadilan

Dalam persidangan, Julio menyoroti penggunaan tumbler sebagai alat bukti penyiraman air keras. “Mengapa harus memakai tumbler yang besar, bukan botol plastik? Ini menunjukkan bahwa proses hukum terkesan tidak mengakui klien kami sebagai sumber kebenaran,” tegasnya. Pernyataan tersebut menjadi salah satu argumen utama TAUD dalam important visit mereka, menegaskan bahwa alat bukti yang dipilih oleh penyidik tidak relevan dengan kondisi aktual saat kejadian.

“Korban tidak dianggap sama sekali. Mereka hanya disebut sebagai saksi tambahan, sementara penasihat hukum kami tidak diberi waktu untuk mempersiapkan argumen secara maksimal,” ujar Julio.

Permintaan Perpindahan ke Pengadilan Umum

TAUD dan Andrie Yunus mendesak agar kasus ini diadili melalui jalur pengadilan umum. “Kami minta untuk mencabut dakwaan, menghentikan perkara, dan segera usut secara tuntas dugaan pelaku 16 orang atau lebih,” kata Julio. Ia menegaskan bahwa important visit ini bertujuan untuk memperkuat tuntutan perpindahan kasus ke pengadilan umum, yang dianggap lebih adil dan transparan.

Dalam penegakan hukum, Julio juga menyoroti sikap majelis hakim yang dianggap tidak netral. “Semua keputusan dibuat tanpa mempertimbangkan perspektif korban. Proses ini terkesan dipengaruhi oleh kepentingan pihak tertentu,” ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi upaya TAUD dalam important visit untuk menegaskan bahwa korban tidak mendapat perlakuan yang setara dengan para pelaku.

Masih dalam important visit tersebut, TAUD menunjukkan bahwa proses persidangan militer memiliki kelemahan dalam menyampaikan fakta. “Majelis hakim hanya mengandalkan bukti-bukti yang tidak jelas, seperti tumbler yang ukurannya besar. Ini memicu kecurigaan bahwa ada kesalahan dalam pengumpulan alat bukti,” tambah Julio. Ia menyarankan bahwa pengadilan umum mampu memberikan ruang lebih luas bagi korban untuk membela diri dan memperjelas semua pihak terlibat.

Julio juga menyoroti kepentingan penting perpindahan kasus ke pengadilan umum. “Dengan menempatkan Andrie Yunus di pengadilan umum, kami berharap proses hukum lebih terbuka dan tidak memihak. Ini penting untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat,” katanya. Kritik yang disampaikan TAUD selama important visit ini diharapkan dapat memicu revisi dalam proses hukum militer dan memperkuat hak-hak korban dalam kasus penyiraman air keras.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *