BNPB Sebut Karhutla Dominasi Bencana di Tanah Air pada Akhir Pekan Ini

BNPB Sebut Karhutla Dominasi Bencana di Tanah Air pada Akhir Pekan Ini
Beritasosial.com – Bencana alam yang terjadi di Indonesia pada akhir pekan ini masih didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, tanah longsor, serta kekeringan, menurut laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam pernyataannya, BNPB menekankan bahwa karhutla tetap menjadi ancaman utama yang memengaruhi kondisi cuaca dan lingkungan di berbagai wilayah. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa kebakaran lahan dan hutan terus menjadi perhatian utama, terutama di daerah dengan tingkat kering yang memburuk. BNPB juga mengingatkan bahwa penanganan bencana alam harus dilakukan secara terpadu untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat.
BNPB Sebut Karhutla Dominasi Bencana: Pemantauan dan Peringatan
Kebakaran hutan dan lahan terjadi di beberapa titik di Aceh, termasuk Kabupaten Nagan Raya, sejak Jumat (10/7) hingga Kamis (16/7) 2026. Titik api yang terdeteksi berada di Gampong Alue Kuyun, Kecamatan Darul Makmur, dan merupakan lahan Hak Guna Usaha (HGU) milik perusahaan swasta. Menurut Abdul Muhari, api belum sepenuhnya dikuasai, sehingga berisiko meluas jika cuaca tetap kering dan angin kencang. BNPB juga melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi cuaca yang memengaruhi keberlanjutan karhutla. Dalam laporan terbaru, BNPB menyebut bahwa karhutla menjadi faktor utama dalam menghambat upaya pemulihan ekosistem dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat.
Dalam upaya mencegah penyebaran api, BNPB berkoordinasi dengan instansi terkait seperti TNI, Polri, dan pemangku kebijakan lokal. Kepala BNPB juga menekankan perlunya kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana, terutama di daerah rawan karhutla. “Kita harus waspada terhadap kemungkinan karhutla berdampak pada wilayah lain jika tidak segera ditekan,” ujar Abdul Muhari dalam jumpa pers Sabtu (18/7/2026). Selain itu, BNPB memberikan peringatan bahwa kenaikan suhu dan kekeringan yang terjadi di sejumlah daerah berpotensi memicu fluktuasi cuaca yang bisa memperburuk situasi bencana.
Dampak Karhutla dan Bencana Lain di Berbagai Wilayah
Di Nusa Tenggara Barat, Kebakaran lahan di Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, menyebabkan pengurangan pasokan air bersih. Sebanyak 193 kepala keluarga atau 592 orang terkena dampaknya, dengan bantuan air bersih telah disalurkan oleh BPBD Bima sebanyak dua ritase, sekitar 10.000 liter. BNPB mengakui bahwa kekeringan dan karhutla memicu masalah lingkungan yang menyebar, dan ketersediaan air menjadi salah satu indikator keberhasilan penanggulangan bencana. Sementara itu, di Kalimantan Utara, tanah longsor di Kecamatan Krayan Barat dan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, memutus akses jalan, sehingga 13 desa di wilayah tersebut isolasi. BNPB berperan dalam pendampingan penanganan darurat, bersama dengan pemerintah daerah.
Bencana banjir juga terjadi di Sumatera Utara, khususnya Kabupaten Tapanuli Tengah, yang terkena genangan air pada Jumat, 17 Juli 2026. Wilayah terdampak meliputi Desa Sipange, Kecamatan Tukka, dengan sekitar 200 kepala keluarga dan 200 unit rumah terkena genangan. Saat ini, banjir sedang surut, namun pendataan dampak masih berlangsung. BNPB memperkirakan bahwa banjir dan kekeringan memiliki siklus yang berulang, tergantung pada intensitas hujan dan kondisi topografi wilayah. “BNPB Sebut Karhutla Dominasi Bencana,” tambah Abdul Muhari, sekaligus menyoroti pentingnya antisipasi dini dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Dalam prakiraan cuaca BMKG, beberapa wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua diperkirakan masih memiliki potensi hujan ringan hingga sedang, yang bisa memberikan sedikit harapan untuk memadamkan api. Namun, wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Kalimantan diperkirakan dalam kondisi cuaca cerah hingga berawan, yang berisiko memperparah kekeringan dan membantu penyebaran karhutla. BNPB mengingatkan bahwa kondisi ini membutuhkan kehati-hatian dalam mengelola sumber daya alam dan menyiapkan respons darurat yang lebih cepat.
“BNPB Sebut Karhutla Dominasi Bencana, sehingga kami terus memantau intensitas api dan perluasan area terbakar di berbagai titik,” jelas sumber dari BNPB dalam konferensi pers terpisah. “Kerja sama dengan daerah sangat penting untuk memastikan penanganan bencana berjalan efisien dan mengurangi risiko kemanusiaan.” Dengan adanya pemanfaatan teknologi pemantauan, BNPB berharap dapat memberikan peringatan lebih awal kepada masyarakat, sehingga mengurangi kerugian yang mungkin terjadi.
