5,5 Miliar Serangan Siber, Unhan Ingatkan AI Bisa Jadi Senjata Perang Baru
5,5 Miliar Serangan Siber di 2025: Unhan RI Peringatkan AI Jadi Senjata Perang Baru
Lonjakan 714 Persen dan Diskusi Strategis di Sentul
Beritasosial.com – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 5,5 miliar serangan siber sepanjang tahun 2025, lonjakan 714 persen dibanding rerata tahunan periode 2020–2024. Angka tersebut menempatkan Indonesia di garis depan eskalasi ancaman digital global dan memicu respons lintas sektor, termasuk dunia pertahanan. Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) merespons dengan menggelar Diskusi Strategis pada Rabu (19/8/2026) di kampus Sentul, Bogor, bertema “Transformasi Peperangan Asimetris di Era Kecerdasan Artifisial (AI): Penguatan Strategi Pertahanan dan Literasi Digital di Ruang Siber.”
Acara diinisiasi Program Studi Magister Peperangan Asimetris, Fakultas Strategi Pertahanan (FSP), Unhan RI, dan menghadirkan unsur pemerintah, dunia akademik, institusi militer, lembaga legislatif, praktisi keamanan digital, serta komunitas pengguna internet. Fokus pembahasan berpusat pada bagaimana karakter ancaman bergeser di bawah bayang-bayang kecerdasan buatan dan apa implikasinya bagi kedaulatan digital Indonesia di tengah volume 5,5 miliar serangan siber yang tercatat tahun lalu.
Rektor Unhan: AI Mendefinisikan Ulang Arsitektur Pertahanan Siber
Letjen TNI (Purn.) Anton Nugroho, Rektor Unhan RI, menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar wacana teknologi, melainkan telah bermetamorfosis menjadi instrumen strategis yang mendefinisikan ulang pola operasi dan arsitektur pertahanan siber suatu negara. Ia merujuk data APJII 2026 yang mencatat 235 juta warga Indonesia aktif berinternet dengan tingkat penetrasi 81,7 persen—sebuah basis demografis digital yang menjadikan setiap negara sasaran empuk rekayasa sosial dan kampanye disinformasi berbasis mesin.
“Perubahan lingkungan strategis global berlangsung semakin cepat dan membawa konsekuensi langsung terhadap cara negara memandang ancaman keamanan. Ruang siber telah menjadi arena yang semakin penting karena dapat dimanfaatkan oleh aktor negara maupun non-negara untuk memengaruhi stabilitas, kepentingan nasional, bahkan proses pengambilan keputusan suatu negara.”
Dekan FSP dan Kepala BSSN: Adaptasi Menyeluruh di Ruang Siber
Mayjen TNI Oktaheroe Ramsi, Dekan FSP Unhan RI, menekankan bahwa pergeseran karakter ancaman menuntut pembaruan menyeluruh—bukan hanya pada sisi perangkat keras, tetapi juga pada doktrin, kebijakan, dan kesiapan kelembagaan. Menurutnya, ruang siber kini melampaui persoalan teknis semata; serangan dapat menembus langsung ke inti pengambilan keputusan, menggerus kepercayaan publik, hingga mengganggu konfigurasi kekuatan nasional. Peperangan asimetris memberi ruang bagi aktor bersumber daya terbatas untuk menciptakan dampak strategis melalui eksploitasi teknologi, arus informasi, jejaring digital, serta kerentanan sosial masyarakat.
“Perkembangan AI mengubah karakter ancaman dalam peperangan asimetris. Karena itu, pertahanan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknologi, tetapi membutuhkan pembaruan cara pandang, kebijakan, strategi, dan kesiapan institusi dalam menghadapi dinamika ancaman di ruang siber.”
Letjen TNI (Purn.) Nugroho Sulistyo Budi, Kepala BSSN, menempatkan ruang siber sebagai domain sentral dalam evolusi peperangan asimetris kontemporer. Karakteristik ruang tersebut—anonimitas, biaya rendah, ketergantungan digital yang tinggi, serta posisi dalam wilayah abu-abu (gray zone)—menjadikannya medan yang sangat sesuai bagi operasi non-konvensional.
“Asymmetric warfare memiliki karakteristik non-konvensional yang dikategorikan ke dalam global society 4.0. Domain utamanya adalah ruang siber.”
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is 5 5 Miliar Serangan Siber Unhan?
5 5 Miliar Serangan Siber Unhan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does 5 5 Miliar Serangan Siber Unhan matter?
5 5 Miliar Serangan Siber Unhan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
