Pernah Didiagnosis Depresi Mayor, Saddam Permana Ceritakan Titik Terendah Hidupnya

Pernah Didiagnosis Depresi Mayor Saddam Permana
Beritasosial.com – Di balik sosoknya yang dikenal sebagai pengacara muda berbakat dan sering tampil di media, Saddam Permana menyimpan perjalanan hidup yang penuh dengan tantangan emosional. Dalam episode terbaru program Bongkar bersama Azia Riza, ia dengan terbuka mengungkap sisi personal yang selama ini jarang diketahui publik. Salah satu momen paling berkesan adalah ketika Saddam menceritakan pengalamannya pernah didiagnosis depresi mayor dan bagaimana kondisi tersebut memengaruhi kehidupannya sehari-hari. Pengakuan tulus ini bahkan membuat Azia Riza terharu hingga tak bisa menahan air matanya.
Mengenal Lebih Dekat Kondisi Kesehatan Saddam
Saddam Permana tidak menyembunyikan kondisi kesehatannya dari dunia. Ia pernah didiagnosis mengalami depresi mayor, sebuah gangguan kesehatan mental yang serius dan membutuhkan penanganan khusus. Selain depresi mayor, Saddam juga memiliki kondisi Tic, yaitu gerakan tubuh yang muncul secara otomatis tanpa disadari oleh penderitanya. Dalam percakapan tersebut, Saddam bahkan menunjukkan secara langsung bagaimana tic tersebut muncul ketika dirinya kesulitan mengendalikan fokus. Gerakan-gerakan kecil ini kadang terlihat saat ia berbicara atau saat sedang berpikir keras.
Selama bertahun-tahun, Saddam berusaha keras melatih konsentrasi dan emosi agar gejalanya tidak terlalu terlihat saat beraktivitas di hadapan publik. Upaya ini dilakukan agar ia tetap nyaman dan percaya diri dalam berbagai situasi, baik saat bekerja maupun saat tampil di media. Ia tidak ingin kondisi ini menjadi penghalang untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Depresi Mayor yang Berakar dari Masa Kecil
Depresi yang dialami Saddam ternyata tidak muncul begitu saja. Kondisi ini berawal dari pengalaman pahit di masa kecil. Saddam mengaku sering menjadi korban bully di sekolah dan memilih untuk memendam perasaan sendiri. Alih-alih mencari bantuan, ia menyimpan semua luka dan tekanan di dalam hati. Tekanan yang terus menumpuk akhirnya menjadi sesuatu yang besar dan berdampak hingga ia dewasa.
Tekanan tersebut menjadi “bom waktu” yang lama-kelamaan harus dihadapi. Saddam menyadari bahwa ia tidak bisa terus menghindari perasaannya sendiri.
Meski demikian, Saddam tidak ingin kondisi ini menjadi alasan untuk berhenti berkembang. Justru pengalaman pahit itulah yang membuatnya belajar lebih berempati kepada banyak orang di sekitarnya. Ia memahami bahwa setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing, dan tidak ada salahnya untuk meminta bantuan ketika dibutuhkan.
Kisah Cinta yang Membekas dalam Hati
Di balik pencapaian-pencapaiannya dalam karier, Saddam juga pernah mengalami kisah cinta yang cukup mendalam. Dengan santai, ia mengungkap bahwa pernah menyatakan perasaan kepada perempuan yang sama sebanyak dua kali. Sayangnya, kedua kali itu berakhir dengan penolakan. Alasan yang ia terima terdengar cukup klasik, yaitu sang perempuan tidak ingin kehilangan Saddam sebagai teman.
Kisah cinta ini menjadi bagian dari perjalanan hidup Saddam yang membentuk karakternya. Ia belajar untuk menerima penolakan dengan lapang dada dan tidak membiarkan hal tersebut menghancurkan kepercayaan dirinya. Saddam juga berbagi bahwa pengalaman ini membuatnya lebih memahami pentingnya komunikasi yang jujur dalam hubungan.
Dan seperti apa kisah lengkap saat ia dua kali ditolak oleh perempuan yang sama? Bagaimana Saddam menghadapi depresi mayor, mengendalikan tic, hingga bangkit dari luka masa lalu? Saksikan kisah selengkapnya hanya di channel YouTube @aziarizza untuk mendapatkan gambaran utuh tentang perjalanan hidup Saddam Permana yang inspiratif.
