Perfect Crown Banjir Kritikan – Adegan Penobatan Raja Disebut Lecehkan Sejarah Korea
Perfect Crown Banjir Kritikan, Adegan Penobatan Raja Disebut Lecehkan Sejarah Korea
Perfect Crown Banjir Kritikan – Dalam episode ke-11 serial drama Korea Perfect Crown, adegan penobatan raja memicu perdebatan. Pemeran utama pria, Ian, yang diperankan Byeon Woo Seok, akhirnya memutuskan mengenai takhta untuk mengamankan wanita yang dicintainya. Kontroversi muncul karena beberapa elemen di dalam adegan dianggap tidak sesuai dengan tradisi sejarah Korea.
Kritik Terhadap Nyanyian Upacara
Menurut Kbizoom, adegan penobatan dalam Episode 11 secara cepat memicu polemik. Penonton menyoroti kesalahan yang mereka anggap signifikan dalam penayangan simbol-simbol kerajaan. Salah satu isu utama adalah penggunaan frasa ‘cheonse’ dalam nyanyian upacara, yang seharusnya menyebutkan ‘manse’ sebagai simbol negara merdeka.
Alih-alih meneriakkan ‘manse,’ sebuah frasa yang melambangkan negara berdaulat yang merdeka, drama tersebut menggunakan istilah ‘cheonse,’ yang secara historis dikaitkan dengan negara bawahan atau negara yang tunduk.
Perbedaan Simbol Mahkota
Beberapa penonton juga menyoroti desain mahkota kerajaan Ian. Mahkota itu terdiri dari sembilan butir manik-manik, sedangkan raja negara merdeka tradisionalnya menggunakan dua belas butir. Penggunaan jumlah manik-manik yang berbeda dianggap mengurangi akurasi sejarah dalam representasi kerajaan Korea.
Kritik Terhadap Ritual Minum Teh
Adegan lain yang memicu kontroversi adalah upacara minum teh antara tokoh utama wanita dan Ibu Suri. Beberapa penonton menganggap adegan tersebut lebih mencerminkan tradisi Tiongkok ketimbang budaya kerajaan Korea. Netizen juga mengkritik penggunaan beberapa properti yang diduga berasal dari produk Tiongkok.
Ibu Suri diperlihatkan memakai pena yang berasal dari perusahaan Jinhao, dijual seharga sekitar 10.000 won.
Pada 16 Mei, Chosun Ilbo mengumpulkan contoh adegan yang dipermasalahkan. Selain kesalahan simbolisme, penonton juga memperhatikan penggunaan produk asing dalam properti, seperti pena dari Jinhao. Hal ini memicu perdebatan tentang keseimbangan budaya dalam dramatisasi sejarah Korea.
