Main Agenda: Setelah 18 Tahun Dee Lestari Akhirnya Rilis Album Lagi, Mendiang Suami Jadi Alasan

setelah-18-tahun-dee-lestari-akhirnya-rilis-album-lagi-mendiang-suami-jadi-alasan-zhr

Dee Lestari Rilis Album Baru Setelah 18 Tahun, Main Agenda Jadi Pemicu

Main Agenda – Jakarta – Setelah sekian lama vakum dari dunia musik, penyanyi Dee Lestari akhirnya kembali dengan album penuh yang berjudul “(Jangan) Jatuh Cinta.” Ini menjadi momen penting bagi sang artis, yang telah 18 tahun tidak merilis karya musik. Motif utama dari rencana ini adalah untuk mengenang almarhum suami, Reza Gunawan, yang selama ini menjadi inspirasi dan pendukung terbesar dalam perjalanan kariernya.

Latar Belakang dan Inspirasi dari Mendiang Suami

Dee Lestari mengungkapkan bahwa keputusan untuk merilis album kali ini tercipta setelah berbagai pertimbangan matang. “Main Agenda” tidak hanya menjadi alasan, tetapi juga pendorong utama bagi ia untuk kembali ke panggung musik. Pemikiran tersebut muncul setelah Reza Gunawan meninggal, yang membuatnya merasa perlu mengekspresikan emosi melalui karya musik. “Kami sering berdiskusi tentang ini sejak dulu. Reza bilang, musik adalah bagian dari jati diriku yang selama ini kurang diperhatikan karena fokus pada dunia tulis-menulis,” jelas Dee saat acara peluncuran album di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2026).

Kehadiran Reza Gunawan, seorang penyair dan penulis, memperkaya perjalanan Dee dalam bermusik. Meski telah menghasilkan 18 buku, album musiknya hanya tiga. “Buku saya sudah 18, tapi album cuma tiga. Perbandingannya terlalu jelas,” ujarnya sambil mengingat pendapat sang suami. Dee menyadari bahwa Reza selalu menekankan bahwa bernyanyi adalah ekspresi alami dari dirinya, yang sebelumnya terabaikan karena fokus pada dunia sastra.

Konsep Album dan Proses Kreatif

Setelah kepergian Reza, Dee mulai merasakan perubahan dalam dirinya. Ia menjelaskan bahwa almarhum memperlihatkan keinginan untuk mengekspresikan diri melalui musik, bahkan di masa hidupnya. “Reza pernah bilang, ‘Nyanyi itu bagian dari dirimu juga. Kita jadi agak bias memperlakukan karier menulis dan bermusik’.” Kalimat itu menjadi pengingat bahwa musik adalah bagian integral dari identitasnya.

Proses pengerjaan album ini juga menjadi pengalaman berbeda bagi Dee. “Saya orang lama, masih mengalami proses rekaman pakai pita. Kalau industri dulu saya paham, tapi sekarang saya gak tahu,” keluhnya. Ia merasa terasing dengan perubahan industri musik yang kini lebih mengutamakan single daripada album lengkap. Namun, dengan Main Agenda sebagai pemacu, Dee berusaha menyeimbangkan antara tradisi dan modernitas dalam karya ini.

Sebelum dirilis, Dee sempat mengumpulkan sekitar 20-an lagu. Namun hanya delapan yang dipilih masuk ke dalam album. “Saya ingin para pendengar bisa mendengar lagu-lagunya secara utuh, bukan hanya potongan-potongan,” tuturnya. Ini menunjukkan upaya Dee untuk memastikan bahwa album ini bisa menjadi keseluruhan karya, bukan hanya penampilan singkat.

Dalam konsep album “(Jangan) Jatuh Cinta,” Dee ingin menggambarkan perasaan yang muncul setelah kehilangan suami tercinta. Lagu-lagu dalam album ini mengandung emosi yang dalam, terutama tentang cinta, kehilangan, dan kebangkitan. “Main Agenda” menjadi cerminan dari perjalanan emosionalnya, yang diharapkan bisa terasa oleh pendengar melalui alunan musik dan lirik yang dipilih.

Dee juga menyebutkan bahwa album ini adalah langkah awal untuk mengeksplorasi genre musik yang berbeda. Meski sebelumnya lebih dikenal dalam genre pop, ia ingin mencoba menggabungkan elemen tradisional dengan musik kontemporer. “Main Agenda” memainkan peran kunci dalam memotivasi langkah ini, karena ia ingin menunjukkan bahwa musik masih relevan dan bisa beradaptasi dengan perubahan zaman.

Dengan peluncuran album baru, Dee Lestari berharap dapat memperkuat kembali kehadirannya di dunia musik. Ia percaya bahwa karya ini akan menjadi pengingat akan kekuatan cinta dan kehilangan, sekaligus mengapresiasi jasa sang almarhum suami yang selama ini mendukungnya. “Main Agenda” tidak hanya sekadar nama album, tetapi juga representasi dari perjalanan pribadinya yang menggabungkan kesedihan dan harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *