Special Plan: Jelang Armuzna, Timwas Haji Minta Pemerintah Perkuat Mitigasi Risiko
Special Plan untuk Mitigasi Risiko Jelang Armuzna
Special Plan – Tim Pengawas Haji (Timwas) DPR RI mengingatkan pemerintah dan petugas haji untuk memperkuat strategi mitigasi risiko dalam rangkaian persiapan pelaksanaan ibadah haji 2026, terutama menjelang fase Armuzna. Sebagai bagian dari Special Plan yang dirancang untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan, Timwas menekankan pentingnya perbaikan koordinasi di lapangan guna menghindari gangguan yang mungkin terjadi saat jemaah bergerak massal ke Mina.
Dalam pernyataannya, Senin (25/5/2026), anggota Timwas Haji M Nasir Djamil menyoroti pengalaman tahun lalu sebagai pelajaran berharga. Ia menyebutkan bahwa kekacauan di Mina yang mengakibatkan jemaah lansia kesulitan menemukan pemondokan sering terjadi karena kurangnya antisipasi terhadap keterbatasan waktu dan sumber daya. Dengan adanya Special Plan, Timwas berharap langkah-langkah spesifik bisa diambil untuk mengoptimalkan proses ini.
“Tahun lalu, banyak jemaah lanjut usia yang terdampar setelah mabit di Muzdalifah. Mereka kesulitan menemukan tenda pemondokan di Mina hingga waktu zuhur, sementara harus segera mengejar proses lempar jumrah,” ujarnya.
Nasir menekankan bahwa peran petugas lapangan sangat kritis dalam mengurangi risiko. Dalam Special Plan, ia menyarankan peningkatan kesiapan tim kloter dan ketua rombongan agar bisa memandu jemaah dengan lebih efisien. Terutama untuk kelompok rentan seperti lansia dan disabilitas, yang memerlukan pendampingan ekstra saat bergerak massal ke Mina.
Strategi Mitigasi di Fase Armuzna
Persiapan untuk fase Armuzna harus lebih matang, menurut Nasir. Ia mengatakan bahwa simulasi dan pengendalian lapangan perlu diperbaiki untuk mengantisipasi kemacetan, kendaraan yang tidak bisa berhenti tepat waktu, dan gangguan lainnya. Dengan Special Plan, Timwas menekankan pentingnya pembagian tugas yang jelas antara petugas haji daerah dan pusat, serta penggunaan teknologi untuk memantau alur jemaah secara real-time.
“Dalam Special Plan, kita harus memastikan semua skenario di lapangan sesuai rencana. Jika ada ketidaksesuaian, kita bisa segera mengambil langkah penyesuaian,” tambah Nasir.
Timwas Haji juga menyoroti kelemahan dalam skema murur dan tanazul. Nasir menjelaskan bahwa sebagian jemaah yang seharusnya berangkat bersama rombongan justru terpaksa menurunkan kondisi karena kemacetan, sementara jemaah yang harus menginap malah ikut dalam murur. Dengan memperbaiki skema ini melalui Special Plan, harapannya adalah pengalaman jemaah menjadi lebih lancar dan nyaman.
Persiapan untuk Kualitas Ibadah yang Lebih Baik
Kemenhaj dan petugas haji daerah harus memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengevaluasi dan memperkuat sistem mitigasi. Nasir menegaskan bahwa Special Plan bukan hanya sekadar rencana, tetapi harus diimplementasikan secara konsisten agar bisa memberikan dampak nyata. Ia berharap semua kelemahan dari tahun sebelumnya bisa diatasi sebelum Armuzna tiba.
“Special Plan harus menjadi pedoman utama dalam persiapan haji. Dengan memperbaiki simulasi dan koordinasi, kita bisa mengurangi risiko yang mengganggu kualitas ibadah,” tegas Nasir.
Dalam evaluasi, Nasir menyoroti bahwa keterlibatan semua pihak, termasuk pemerintah, petugas lapangan, dan penyelenggara kloter, menjadi kunci keberhasilan. Ia juga menyarankan adanya pelatihan khusus bagi petugas haji guna meningkatkan kesiapan menghadapi situasi darurat di fase Armuzna. Dengan Special Plan yang terintegrasi, Timwas yakin proses haji 2026 akan lebih aman dan efektif.
