Di Balik Perintah dan Makna Ibadah Haji : Pelajaran dari Perjalanan Nabi Ibrahim dan Keluarganya

di-balik-perintah-dan-makna-ibadah-haji-pelajaran-dari-perjalanan-nabi-ibrahim-dan-keluarganya-ncl

Di Balik Perintah dan Makna Ibadah Haji : Pelajaran dari Perjalanan Nabi Ibrahim dan Keluarganya

Di Balik Perintah dan Makna Ibadah – Ibadah haji, yang kaya akan makna, juga mengandung cerita sejarah yang terkait erat dengan perjalanan Nabi Ibrahim alaihisallam. Banyak hal yang bisa dipelajari dari riwayat hidup beliau dan keluarga, termasuk peran beliau dalam membentuk prinsip-prinsip agama. Menurut Prof Dr Quraish Shihab dalam buku “Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah”, Ibrahim dikenang sebagai “Bapak para Nabi”, “Bapak monotheisme”, dan “proklamator keadilan Ilahi”. Beliau mengungkapkan bahwa ajaran yang diperkenalkan Ibrahim bukan sekadar bagian dari tradisi lokal, tapi menyentuh konsep dasar keberadaan manusia.

Perjalanan Nabi Ibrahim As menjadi simbol bagaimana manusia bisa menguasai alam sekitar, sekaligus menjelajahi makna kehidupan. Dalam buku yang sama, Quraish Shihab menekankan bahwa kepastian ilmu pengetahuan manusia bergantung pada keyakinan tentang ajaran monotheisme. Ia mengatakan, “Apa yang bisa menjamin kepastian tersebut jika sekali Tuhan ini yang mengaturnya dan di lain kali Tuhan itu?” Hal ini menunjukkan bahwa prinsip Ibrahim memiliki dampak mendalam pada pemahaman ilmiah manusia.

“Penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim as merupakan penemuan manusia yang terbesar dan yang tak dapat diabaikan para ilmuwan atau sejarawan. Ia tak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom betapa pun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut, … yang itu dikuasai manusia, sedangkan penemuan Ibrahim menguasai jiwa dan raga manusia.”

Dalam konteks sejarah, Quraish Shihab menyoroti bahwa ajaran Ibrahim mencakup keesaan Tuhan, keadilan-Nya, serta hubungan manusia dengan alam semesta. Dengan kata lain, penemuan ini menuntun manusia dari status tunduk pada alam menjadi mampu mengendalikannya. “Penemuan Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya tunduk pada alam, menjadi mampu menguasai alam, serta menilai baik buruknya, penemuan yang itu dapat menjadikannya berlaku sewenang-wenang, tapi kesewenang-wenangan ini tak mungkin dilakukannya selama penemuan Ibrahim as itu tetap menghiasi jiwanya … penemuan tersebut berkaitan dengan apa yang diketahui dan tak diketahuinya, berkaitan dengan kedudukannya sebagai makhluk dan hubungan makhluk ini dengan Tuhan, alam raya dan makhluk-makhluk sesamanya,” tambah Quraish.

Ajaran Ibrahim as juga membawa konsep universal, seperti Tuhan yang menyertai seluruh umat manusia, baik dalam kehidupan maupun kematian. “Tuhan manusia seluruhuya secara universal,” ujarnya. Meski ide-ide seperti tauhid dan keadilan Tuhan sudah ada sebelum masa beliau, tapi ajaran Ibrahim menyempurnakannya menjadi risalah umat manusia yang melintasi batas-batas budaya dan waktu. Di Mesir 5.000 tahun lalu, misalnya, ajaran tentang keesaan Tuhan dan persamaan antarmanusia pernah diumumkan, tapi kemudian diubah oleh kekuasaan penguasa berikutnya.

Mengetuk Pintu Berkah: 5 Amalan Sunnah Sebelum Menuju Baitullah

Sejarah kepercayaan manusia mengalami perubahan mendasar akibat kontribusi Nabi Ibrahim. Praktik ibadah haji, sebagai bentuk kesadaran spiritual, terkait langsung dengan perjalanan beliau. Dengan menelusuri kisah kehidupan dan perjuangan Ibrahim, kita memahami bahwa ajaran ini tidak hanya mengubah prinsip keagamaan, tapi juga membuka wawasan baru bagi kehidupan bermasyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *