New Policy: Penasihat Militer Mojtaba Khamenei: Iran Siap Ubah Israel Jadi Neraka Jika Beirut Diinvasi
New Policy: Iran Ancam Serang Israel Jika Beirut Diinvasi
New Policy – Pada 6 Juni 2026, Teheran mengumumkan kebijakan baru yang menegaskan komitmen Iran untuk mengubah wilayah utara Israel menjadi ‘neraka’ bila negara Zionis nekat menginvasi selatan Beirut, Lebanon. Penasihat militer Iran, Mohsen Rezaei, yang juga menjabat sebagai komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengungkap ancaman tersebut sebagai respons terhadap persiapan Israel dalam operasi militer terhadap wilayah Lebanon. New Policy ini memperkuat kesiapan Iran menghadapi kemungkinan konflik yang memperluas ke kawasan Timur Tengah. Selain itu, kebijakan tersebut juga mencerminkan pergeseran strategis Iran dalam memperkuat kehadiran militer di wilayah penguasaannya.
“Kami akan menunggu sampai musuh mendekat ke pinggiran selatan. Semua rudal kami sudah siap, dan kami akan memastikan Israel mengalami kehancuran yang luar biasa,” ujar Rezaei dalam wawancara dengan Middle East Monitor, Sabtu (6/6/2026). Komentarnya memberikan gambaran jelas tentang kemampuan Iran dalam menghancurkan target militer Israel, terutama jika operasi tersebut melibatkan pasukan Lebanon yang mendukung Iran. New Policy ini menegaskan bahwa Iran tidak hanya berfokus pada kekuatan militer domestik, tetapi juga siap mengambil tindakan tegas di luar batas wilayahnya.
Kebijakan baru ini datang di tengah meningkatnya ketegangan antara Lebanon dan Israel, terutama setelah aksi militer terakhir yang menargetkan basis Hizbullah di selatan Beirut. Rezaei menegaskan bahwa Iran telah memperkuat persiapan strategisnya, termasuk pengadaan senjata canggih dan koordinasi dengan pasukan lokal. New Policy juga mencakup rencana pembangunan fasilitas militer tambahan di wilayah Lebanon untuk mendukung operasi responsif terhadap serangan Israel. Penasihat militer Iran ini menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari perencanaan jangka panjang untuk melindungi kepentingan nasional dan menegakkan kekuasaan regional.
Respons Politik Lebanon terhadap Kebijakan Baru Iran
Pada hari Jumat, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyampaikan kritik tajam terhadap keterlibatan Iran dan Hizbullah dalam urusan internal negara. Dia menegaskan bahwa New Policy Iran tidak lagi terbatas pada ancaman kata-kata, melainkan mencerminkan keinginan untuk melibatkan Lebanon dalam konflik besar-besaran. Aoun menilai bahwa kebijakan ini bisa menimbulkan konsekuensi besar bagi Lebanon, terutama jika Israel terlibat dalam invasi yang memicu respons militer Iran. Kritik tersebut mencerminkan ketegangan antara pemerintah Lebanon dan kelompok pro-Iran yang sudah lama menjadi bagian dari dinamika politik kawasan.
Dalam wawancara dengan CNN, Aoun juga menyoroti pentingnya kemandirian Lebanon dalam menghadapi ancaman luar. Ia menekankan bahwa negara ini tidak bisa hanya menjadi bagian dari perang Iran-Israel. New Policy Iran, di sisi lain, menggarisbawahi kepentingan Teheran untuk memastikan Lebanon tetap menjadi benteng strategisnya di Timur Tengah. Meski begitu, kritik dari Aoun menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara pemerintah Lebanon dan kelompok-kelompok pro-Iran yang mendukung tindakan tegas terhadap Israel.
Konsekuensi New Policy dan Dampak Regional
Kebijakan baru Iran ini memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Dengan menyiapkan operasi militer besar-besaran, Teheran menunjukkan komitmen untuk menjaga kekuasaannya di wilayah Lebanon, yang menjadi bagian penting dari kebijakan luar negeri Iran. New Policy ini juga memperkuat posisi Iran sebagai pemain utama dalam konflik antara Israel dan negara-negara Arab. Tidak hanya itu, kebijakan tersebut bisa memicu respons dari negara-negara lain, seperti Suriah dan Hizbullah, yang memperkuat aliansi militer antara Iran dan negara-negara pro-Iran.
Persiapan Iran dalam New Policy mencakup peningkatan anggaran militer dan pembentukan strategi pertahanan yang lebih komprehensif. Penasihat militer Rezaei mengatakan bahwa Iran akan mengutamakan kecepatan dan akurasi dalam serangan rudalnya, yang bisa menargetkan basis Israel secara luas. Selain itu, New Policy juga berpotensi memengaruhi hubungan Iran dengan negara-negara Arab, terutama jika konflik ini melibatkan dukungan militer dari negara-negara lain. Meski begitu, kebijakan ini menegaskan bahwa Iran tidak hanya mengandalkan senjata, tetapi juga koordinasi diplomatik dan politik untuk memperkuat posisinya.
