New Policy: Israel Bombardir Lebanon Lagi, Padahal Telah Setuju Gencatan Senjata yang Dimediasi AS

israel-bombardir-lebanon-lagi-padahal-telah-setuju-gencatan-senjata-yang-dimediasi-as-nsp

New Policy: Israel Serang Lebanon Lagi Meski Gencatan Senjata Berlangsung

New Policy – Israel kembali meluncurkan serangan udara ke wilayah Lebanon, sehari setelah kesepakatan gencatan senjata yang diusahakan Amerika Serikat (AS) dianggap sebagai langkah penting dalam menegakkan New Policy. Dalam peristiwa terbaru, delapan warga sipil dan lima belas korban luka dilaporkan tewas akibat serangan yang menargetkan tiga kota di wilayah selatan Lebanon. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi New Policy dalam mengendalikan konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Konteks Gencatan Senjata Mediasi AS

Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, yang dikabarkan berlangsung dalam beberapa hari terakhir, mencakup klausul utama seperti penghentian tembakan Hizbullah dan evakuasi milisi dari wilayah Sektor Litani Selatan. Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa New Policy bertujuan memperkuat stabilitas dengan menegaskan kembali komitmen kedua belah pihak. Namun, serangan Israel yang terjadi hanya dalam waktu singkat mengisyaratkan tantangan terhadap keberhasilan strategi tersebut.

“New Policy ini justru menimbulkan kekacauan, karena Israel tidak menunjukkan keseriusan menghentikan serangan,” komentar Naim Qassem, pemimpin Hizbullah, seperti dilaporkan oleh Russia Today, Jumat (5/6/2026).

Qassem menegaskan bahwa Hizbullah tetap mengancam Israel, karena mereka berkeyakinan bahwa kemenangan di medan perang adalah jalan untuk memperkuat kehadiran militan di wilayah utara. “Kami tidak akan menyerah sampai Israel meninggalkan Lebanon selatan, meskipun New Policy mereka berupaya meredam perang,” tambahnya, menyoroti ketidakpuasan terhadap klausul yang menetapkan zona percontohan.

Respons Internasional terhadap New Policy

Beberapa negara seperti Arab Saudi dan Mesir mengapresiasi upaya New Policy AS dalam mengurangi eskalasi konflik antara Israel dan Lebanon. Namun, pihak-pihak lain seperti Iran dan Syria memperingatkan bahwa mediasi ini mungkin hanya bersifat sementara. “New Policy ini mengabaikan kepentingan rakyat Lebanon, yang terus menjadi korban serangan,” kata diplomat Iran dalam sebuah wawancara dengan media lokal, menyoroti ketidakadilan dalam negosiasi.

Sejumlah analis mengatakan bahwa New Policy AS terbukti tidak mampu memutus siklus perang yang telah berlangsung sejak 2006. “Meski terdengar baik, perjanjian gencatan senjata belum mencakup klausul penghentian serangan permanen dari Israel,” tulis laporan dari Institut Kebijakan Pusat Asia, menjelaskan bahwa banyak warga Lebanon menganggap kesepakatan ini tidak adil.

Dalam konteks ini, New Policy menjadi fokus utama pembicaraan diplomatik, karena dianggap sebagai penanda perubahan strategi AS dalam mediasi konflik. Dengan perjanjian ini, AS berharap memperkuat hubungan diplomatik dengan Lebanon sekaligus mengurangi tekanan terhadap Israel di wilayah timur laut. Namun, kenyataannya serangan Israel yang terjadi sesudahnya menunjukkan bahwa New Policy belum benar-benar memenuhi harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *