Iran Klaim Tembak Jatuh Pesawat Nirawak AS dan Tembaki 4 Kapal di Selat Hormuz

Iran Klaim Tembak Jatuh Drone AS dan Serang 4 Kapal di Selat Hormuz
Beritasosial.com – Program terbaru Iran menunjukkan intensifikasi konflik dengan Amerika Serikat (AS) di wilayah strategis Selat Hormuz. Pasukan pertahanan udara Iran mengumumkan berhasil menembak jatuh satu pesawat nirawak AS di dekat Bushehr, Sabtu (27/5/2026) malam. Pada hari berikutnya, Jumat (29/5/2026), kementerian pertahanan Iran menyatakan melakukan serangan ke empat kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa koordinasi dengan pihak AS. “Latest Program” ini menegaskan kekuatan militer Iran dalam merespons tekanan ekonomi dan militer dari negara-negara Barat.
Program Terbaru Iran: Serangan Strategis di Wilayah Vital
Latest Program yang diluncurkan Iran mencerminkan strategi bertahan untuk mempertahankan dominasi di Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak global. Pada Kamis (28/5/2026), sebelum serangan terhadap kapal-kapal AS, pasukan Iran menembak jatuh satu drone milik AS yang melintasi daerah timur Bushehr. Serangan ini dilakukan dalam waktu singkat setelah AS meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait, menurut laporan militer. “Latest Program” terlihat sebagai bagian dari respons Iran terhadap aksi militer AS yang memicu krisis terbaru.
Sebagai bagian dari “Latest Program”, Iran juga menargetkan empat kapal yang melintas Selat Hormuz. Menurut sumber militer, kapal-kapal tersebut tidak berkoordinasi dengan Iran dan dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan laut wilayah tersebut. Serangan ini terjadi beberapa jam setelah Iran mengirim lima drone serang satu arah ke wilayah yang menjadi jalur vital bagi perdagangan minyak. Pernyataan dari Kementerian Pertahanan Iran mengungkapkan bahwa rudal dan drone merupakan bagian dari upaya untuk memicu ketegangan lebih lanjut.
Konteks Terbaru: Perang Timur Tengah dan Tekanan Ekonomi
Latest Program Iran bukanlah insiden terpisah, melainkan bagian dari perang Timur Tengah yang berlangsung sejak akhir 2023. Konflik ini dimulai dengan serangan AS dan Israel terhadap situs-situs militer Iran, yang memicu reaksi keras dari negara tersebut. Pada Rabu (25/5/2026), media Iran melaporkan tiga ledakan mengguncang Bandar Abbas, tempat strategis di lepas pantai utara. Ledakan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan keterlibatan Israel dalam serangan terhadap Iran.
Menurut laporan dari The New York Times, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah mengurangi kehadiran di depan khalayak akibat luka bakar parah di wajah dan bibir setelah serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari. “Latest Program” yang terjadi dalam dua hari terakhir mencerminkan keputusan militer Iran untuk memperkuat posisi secara langsung. Dalam pidatonya, Khamenei menekankan bahwa rakyat Iran harus bersatu melawan upaya negara-negara Barat untuk memaksa bangsa ini “bertekuk lutut”.
Sebagai tanggapan terhadap serangan militer, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait. Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi rudal dan drone penyerang berhasil ditangkap, meski tidak mengungkapkan detail lengkap. Serangan di Selat Hormuz menambah ketegangan antara Iran dan AS, yang telah berlangsung sejak akhir 2023. “Latest Program” ini menunjukkan kemampuan Iran untuk mempercepat aksi militer di kawasan yang sensitif secara geopolitik.
“Latest Program” bukan hanya strategi defensif, tetapi juga untuk menguji ketahanan AS di wilayah strategis. Pernyataan dari Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa Iran meluncurkan rudal balistik ke Kuwait pada Jumat (27/5/2026) pukul 22.17 ET, yang dicegat oleh pasukan setempat. Serangan ini terjadi beberapa jam setelah Iran mengirim lima drone serang ke Selat Hormuz, menurut laporan militer.
Latest Program juga memicu respons dari negara-negara tetangga. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa Iran terus meningkatkan tekanan dengan serangan ke arah wilayah Kuwait. Sebaliknya, kementerian pertahanan Iran menegaskan bahwa upaya AS untuk menguasai Selat Hormuz tidak akan berhasil tanpa koordinasi dengan pihak lokal. Peristiwa ini memperkuat pandangan bahwa Iran dan AS terus berperang dalam upaya mengontrol kekuasaan di Timur Tengah.
