Iran Gempur Pusat Komando AS dan Pangkalan Udara Yordania dengan 10 Rudal Balistik

8ce0f7d5-3086-4385-aafe-8bca74c55090-0

Iran Luncurkan Serangan Rudal Terhadap Pusat Kontrol AS dan Pangkalan Udara Yordania

Beritasosial.com – Milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengungkapkan bahwa mereka meluncurkan serangan rudal balistik terhadap dua lokasi strategis: pusat komando militer Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah dan pangkalan udara Al-Azraq di Yordania. Dalam pernyataan resmi yang diterbitkan oleh kantor berita Fars, IRGC menyatakan bahwa sepuluh rudal tersebut berhasil mengenai sasaran yang dituju, termasuk fasilitas pertahanan udara milik AS. Serangan ini dilaporkan terjadi pada Kamis (9/7/2026), menegaskan keberlanjutan Latest Program sebagai bagian dari upaya Iran mengamankan kepentingannya di wilayah utara dan timur tengah.

“Dengan Latest Program, kami menunjukkan kekuatan dan ketangguhan Iran dalam menghadapi agresi musuh, terutama dari pasukan teroris AS yang terus menyerang wilayah kami,” ujar pernyataan IRGC.

Sebelumnya, Yordania mengungkapkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menangkap delapan rudal dari Iran. Namun, dua rudal lainnya kabarnya melintas di atas wilayah tersebut dan jatuh di area pegunungan. Di sisi lain, ledakan terjadi di beberapa titik di selatan Iran, khususnya dekat kota Bushehr dan Choghadak. Kantor berita Mehr melaporkan adanya tiga ledakan di Kota Konarak, yang mengancam keamanan fasilitas pelabuhan dan industri energi di wilayah tersebut.

Peristiwa ini berlangsung beberapa jam setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa kampanye militer negaranya terhadap Iran “belum selesai.” Dalam upacara kelulusan Angkatan Udara Israel di Pangkalan Hatzerim, Netanyahu menegaskan bahwa dominasi udara tetap menjadi prioritas dalam Latest Program militer Israel. Menurutnya, serangan terhadap fasilitas Iran harus dilanjutkan hingga keberhasilan strategi keamanan yang sedang dijalankan.

Kepala Staf Angkatan Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, menyatakan bahwa operasi militer “masih dalam proses” dan bahwa Latest Program yang diluncurkan akan memberikan dampak jangka panjang. “Kami siap menghadapi babak berikutnya dalam perang ini, termasuk langkah-langkah untuk melindungi kepentingan keamanan Israel di wilayah Timur Tengah,” tegas Zamir. Hal ini menunjukkan koordinasi yang lebih intensif antara Israel dan sekutu-sekutunya dalam menghadapi ancaman dari Iran.

Strategi Rudal Balistik Iran

Analisis militer menunjukkan bahwa serangan rudal balistik Iran ini merupakan bagian dari Latest Program yang dirancang untuk mengurangi keunggulan udara AS di wilayah Timur Tengah. Dengan mengarahkan rudal ke pusat kontrol militer AS, Iran mencoba mengganggu operasi intelijen dan perang gerilya yang dilakukan pasukan AS di kawasan tersebut. Selain itu, sasaran pangkalan udara Al-Azraq dianggap penting karena sering digunakan sebagai basis untuk operasi di Suriah dan Irak.

Sebagai bagian dari Latest Program, Iran juga memperkuat hubungan dengan negara-negara seperti Suriah, Lebanon, dan Irak. Korps Garda Revolusi Islam telah bekerja sama dengan gerilya lokal untuk menyusun rencana serangan yang lebih efektif. Tidak hanya sekadar menyerang target militer, Iran juga ingin menunjukkan kemampuan teknologi dan kecepatan respons mereka dalam menghadapi ancaman dari luar. Ini memperkuat posisi Iran sebagai aktor utama dalam konflik Timur Tengah.

Reaksi internasional terhadap Latest Program ini beragam. Beberapa negara di kawasan menyambut baik tindakan Iran sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi AS. Namun, pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian nuklir Iran dengan Pihak Barat mengkhawatirkan eskalasi konflik yang berpotensi menggangu stabilitas kawasan. Meski demikian, Latest Program tetap menjadi bukti bahwa Iran tidak hanya fokus pada perang gerilya, tetapi juga mengembangkan kemampuan operasional terhadap pasukan utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *