Pakar Sebut Dewan Perdamaian Hanyalah Fiksi, Israel Terus Serang Gaza dan Lebanon

Pakar Sebut Dewan Perdamaian Hanyalah Fiksi, Israel Terus Serang Gaza dan Lebanon
Beritasosial.com – Serangan Israel terhadap wilayah Palestin terus memicu perdebatan di kalangan akademisi dan analis internasional. Dalam Key Discussion terbaru, pakar politik menyatakan bahwa Dewan Perdamaian, yang seharusnya menjadi simbol upaya menyelesaikan konflik, kini dianggap hanyalah fiksi. Menurut peneliti senior Khaled Elgindy dari Quincy Institute, upaya ini hanya mengalihkan perhatian dari realitas konflik yang semakin memanas, terutama terhadap Jalur Gaza dan Lebanon.
Peluncuran Strategi Militer dan Dampaknya
Key Discussion menyebutkan bahwa instruksi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menguasai minimal 70% Jalur Gaza menjadi titik awal dari rencana militer lebih besar. Elgindy menegaskan bahwa kebijakan ini mengabaikan prinsip perdamaian, karena terus mengikis perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya disepakati. Serangan di Khan Younis dan Yarmouk, yang menewaskan tiga warga Palestina dan melukai lima orang, memperlihatkan intensitas operasi militer yang tak kunjung berhenti. “Key Discussion menyoroti bahwa Dewan Perdamaian tak lagi menjadi pelindung, tetapi sebagai alat penundaan ketegangan,” kata Elgindy dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Kebijakan Pemisahan Wilayah dan Tekanan Internasional
Key Discussion juga mengungkapkan bahwa upaya Israel untuk menguasai wilayah Palestina mencakup strategi pemisahan wilayah yang terus diperluas. Dalam operasi militer terbaru, pihak Israel mengklaim menangkap “target udara mencurigakan” di Lebanon Selatan, sementara penduduk lokal diminta mengungsi ke utara. An-Nahar, surat kabar Arab terkemuka, mengingatkan bahwa tekanan Iran terhadap AS memengaruhi dinamika negosiasi perdamaian. “Key Discussion menyoroti bagaimana keterlibatan pihak ketiga seperti Iran dan AS bisa mengubah arah perjanjian keamanan,” tulis koran tersebut dalam laporan terbarunya.
“Key Discussion menunjukkan bahwa Dewan Perdamaian hanya menjadi pemandu perjalanan, bukan akhir dari konflik,” kata Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam dalam unggahan media sosial. Dia menekankan bahwa serangan Israel yang berkelanjutan mengancam kesepakatan gencatan senjata yang sempat diperpanjang pada pertengahan April 2024. Selain itu, para pakar menyebutkan bahwa serangan ini memperlihatkan ketidakpuasan Israel terhadap peran Dewan Perdamaian, yang dinilai tidak efektif dalam menegakkan keadilan bagi warga Palestina.
Peran AS dalam Perdamaian dan Tantangan Masa Depan
Key Discussion menyoroti peran Amerika Serikat sebagai mediator dalam perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Meski AS masih mendukung upaya perdamaian, kebijakan Israel yang konsisten menyerang wilayah Palestin menimbulkan pertanyaan tentang keseriusan peran AS. Elgindy mengatakan, “Key Discussion mengungkap bahwa AS sering kali menjadi pelaku utama ketegangan, karena kebijakan ekonomi dan militer yang mendukung Israel secara langsung.” Dalam konteks ini, negosiasi keamanan di Washington, DC, menjadi penanda bahwa diplomatik belum mampu mengatasi ketegangan yang terus memuncak.
Key Discussion juga mengkritik kebijakan penjajahan terhadap wilayah Palestin, yang diklaim mengabaikan keberhasilan perjanjian gencatan senjata. Data dari Kantor Berita Wafa menunjukkan bahwa serangan terhadap Gaza Selatan menyebabkan korban jiwa dan luka-luka yang signifikan, meski pihak Israel mengklaim operasi tersebut bertujuan menegakkan kedaulatan. Kehadiran Dewan Perdamaian, yang seharusnya menjadi mediator, dinilai tidak mampu mengimbangi kekuatan militer Israel. “Key Discussion menegaskan bahwa peran Dewan Perdamaian hanya sementara, sementara kebijakan penindasan tetap berjalan,” ujar peneliti lain dalam diskusi di Jakarta.
Keterlibatan Negara-Negara Dunia dan Perkembangan Terkini
Key Discussion menyebutkan bahwa keterlibatan negara-negara dunia dalam konflik Gaza dan Lebanon semakin bervariasi. Sementara AS terus mendukung Israel, negara-negara Eropa seperti Jerman dan Perancis mengkritik kebijakan pengeboman yang mengakibatkan kehancuran infrastruktur sipil. Dalam Key Discussion terbaru, pakar hukum internasional menyatakan bahwa serangan Israel memenuhi kriteria penggunaan kekuatan berlebihan, terutama terhadap penduduk sipil. “Key Discussion memperlihatkan bahwa kehancuran di Gaza dan Lebanon bukan hanya dampak langsung, tetapi juga mengurangi keyakinan internasional terhadap kemampuan Dewan Perdamaian menyelesaikan konflik,” tambah mereka.
Key Discussion juga menyoroti perubahan strategi Israel yang menargetkan Lebanon Selatan sebagai bagian dari rencana jangka panjang. Serangan ini dianggap sebagai respons terhadap ancaman dari Iran, yang dianggap sebagai pendukung utama Hamas. Meski demikian, analis menyebutkan bahwa kebijakan penindasan ini memicu kecemburuan di kalangan negara-negara Muslim, terutama di Timur Tengah. “Key Discussion menegaskan bahwa Dewan Perdamaian seharusnya memperkuat solidaritas internasional, bukan memecahkannya,” tulis seorang aktivis dari Suriah dalam wawancara dengan media lokal.
