Main Agenda: Tekan Risiko Turun Kelas, 51,8% Kelas Menengah Pisahkan Pos Pengeluaran
Main Agenda: Tekan Risiko Turun Kelas
Main Agenda menjadi prioritas utama bagi masyarakat menengah Indonesia dalam menghadapi tekanan inflasi dan kenaikan biaya hidup. Survei terbaru mengungkapkan bahwa sebanyak 51,8% kelompok ini memisahkan dana kebutuhan pokok dari pengeluaran harian melalui sistem “kantong” di aplikasi keuangan digital. Metode ini tidak hanya membantu mengurangi risiko kekurangan dana, tetapi juga memberikan pengendalian lebih ketat terhadap keuangan pribadi, terutama dalam menghadapi kenaikan harga yang mengguncang daya beli.
Hasil Survei dan Konteks Ekonomi
Dari hasil riset Katadata Middle Class Insight (KIMCI), 68% responden memiliki kebiasaan merencanakan anggaran bulanan, sementara 44,9% mencatat pengeluaran secara rutin. Langkah membagi uang berdasarkan kategori kebutuhan seperti makanan, transportasi, dan pendidikan memperkuat kesadaran pengelolaan keuangan, dengan 47,5% orang menyebutkan pengaruh orang tua yang dahulu sering menggunakan amplop fisik. Main Agenda ini juga terkait dengan penurunan jumlah masyarakat menengah dari 57,3 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,2 juta jiwa pada 2024, yang menggarisbawahi pentingnya adaptasi keuangan digital untuk mempertahankan keseimbangan finansial.
“Bank digital menjadi enabler (penggerak) utama dalam mengubah kebiasaan keuangan masyarakat,” jelas Fadhila Maulida, Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), dalam diskusi publik yang dikutip pada Jumat (22/5/2026). Metode ini bukan hanya mengurangi risiko turun kelas, tetapi juga menciptakan disiplin keuangan yang berkelanjutan.
Kebiasaan Pengeluaran dan Teknologi
Dalam studi tambahan oleh KIC, sekitar 86% masyarakat besar kota mengenal fitur “kantong” yang digunakan oleh Bank Jago, BCA, dan Mandiri. Fitur ini memungkinkan pengguna mengatur pengeluaran menjadi beberapa kategori, seperti belanja, tabungan, dan investasi, sehingga mengurangi kemungkinan pengeluaran impulsif. Main Agenda ini terus berkembang karena adaptasi teknologi yang semakin cepat, terutama di kalangan generasi muda yang lebih familiar dengan aplikasi digital.
Menurut Piter Abdullah, Direktur Program dan Kebijakan Center of Policy Studies, digitalisasi keuangan mengubah pola konsumsi masyarakat. Dengan ekosistem terpadu, nasabah bisa mengelola berbagai kantong dana dalam satu rekening tanpa perlu ke kantor cabang. Hal ini mempercepat transaksi dan memudahkan pengguna dalam memantau pengeluaran secara real-time. Main Agenda teknologi keuangan digital juga meningkatkan aksesibilitas layanan keuangan, terutama di daerah-daerah yang sebelumnya terbatas oleh infrastruktur fisik.
Implementasi “kantong” tidak hanya bermanfaat untuk pengaturan keuangan pribadi, tetapi juga berdampak pada stabilitas ekonomi secara makro. Menurut data Bank Indonesia, penggunaan layanan keuangan digital meningkat sebesar 40% dalam tiga tahun terakhir, mengindikasikan pergeseran signifikan dalam gaya hidup masyarakat. Main Agenda ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan literasi keuangan dan mendorong transisi dari sistem tradisional ke digital.
Salah satu keuntungan utama dari sistem ini adalah kemampuannya untuk memisahkan pos-pos pengeluaran dengan lebih efisien. Contohnya, masyarakat bisa menyisihkan dana untuk kebutuhan pokok seperti pangan dan listrik, sementara pengeluaran non-esensial seperti hiburan atau belanja online dikelola secara terpisah. Main Agenda ini menjadi strategi pencegahan risiko turun kelas, karena membantu pengguna menghindari utang yang tidak terencana akibat konsumsi berlebihan.
Dalam konteks krisis ekonomi yang terjadi belakangan ini, Main Agenda pengelolaan keuangan melalui kantong digital menjadi solusi yang relevan. Kebiasaan ini memastikan bahwa masyarakat menengah tetap mampu memenuhi kebutuhan dasar sambil menjaga kestabilan finansial jangka panjang. Selain itu, teknologi ini juga meningkatkan transparansi dalam pengeluaran, sehingga memudahkan pengguna dalam mengevaluasi kebijakan keuangan mereka secara berkala.
