IHSG Anjlok 3,28% dalam Sepekan, Intip Daftar Saham yang Boncos dan Cuan
IHSG Terkoreksi 3,28% dalam Sepekan, Transaksi Harian Justru Meningkat
Beritasosial.com – Pasar saham Indonesia menutup pekan perdagangan 28 September hingga 2 Oktober 2026 dengan tekanan cukup besar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di posisi 6.036, atau melemah 3,28% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya yang berada pada level 6.241.
Pelemahan indeks terjadi saat sejumlah indikator perdagangan bergerak tidak seragam. Nilai serta volume transaksi rata-rata harian meningkat, tetapi frekuensi transaksi dan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan. Situasi ini memperlihatkan bahwa aktivitas jual beli tetap ramai dalam nominal dan jumlah saham, meski jumlah transaksi yang tercatat lebih sedikit.
“Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.036, berubah 3,28% dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya sebesar 6.241,” kata Sekretaris Perusahaan BEI Elsierra Putri Yosita dalam keterangan resmi, Sabtu (3/10/2026).
Kapitalisasi Pasar Susut, Volume Perdagangan Melonjak
Nilai kapitalisasi pasar BEI menyusut 2,55% selama satu pekan, dari Rp10.905 triliun menjadi Rp10.627 triliun. Penurunan tersebut sejalan dengan koreksi indeks utama yang mencerminkan perubahan harga saham-saham tercatat di bursa.
Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian turun 7,54%. Jumlahnya berada di sekitar 1,68 juta kali transaksi, lebih rendah daripada 1,82 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya. Meski demikian, volume saham yang berpindah tangan mengalami kenaikan sangat besar.
Rata-rata volume transaksi harian bertambah 72,51% menjadi 50,37 miliar saham, dari sebelumnya 29,20 miliar saham. Rata-rata nilai transaksi per hari juga meningkat 5,40%, menjadi Rp12,63 triliun dari Rp11,98 triliun. Kenaikan volume di tengah koreksi indeks menunjukkan adanya perputaran saham yang tetap tinggi ketika pelaku pasar merespons kondisi pasar selama pekan tersebut.
Tekanan pasar turut dipengaruhi aksi jual investor asing. Pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, investor asing membukukan jual bersih senilai Rp1,27 triliun. Secara kumulatif sepanjang 2026, nilai jual bersih investor asing mencapai Rp82,55 triliun.
BEI Menyempurnakan Sejumlah Aturan Perdagangan
Di tengah volatilitas pasar, BEI menjalankan sejumlah penyesuaian kebijakan yang berkaitan dengan mekanisme transaksi, kriteria Papan Pemantauan Khusus, hingga fasilitas short selling dan Intraday Short Selling atau IDSS.
“BEI melakukan sejumlah penyempurnaan kebijakan yang mencakup penyesuaian batas harga dan Auto Rejection, penyempurnaan kriteria Papan Pemantauan Khusus, serta penerapan Short Selling dan Intraday Short Selling (IDSS),” ujar Elsierra.
Mulai Senin, 28 September 2026, batas harga minimum untuk Efek Bersifat Ekuitas dan Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA) diubah dari Rp50 menjadi Rp1. Langkah ini menjadi bagian dari pembaruan aturan harga dan mekanisme perdagangan di bursa.
BEI juga memperbarui ketentuan Papan Pemantauan Khusus melalui Peraturan I-X dan II-X. Kriteria pemantauan yang berbasis harga, likuiditas, free float, serta aktivitas perdagangan dihapuskan. Namun, ukuran yang berkaitan dengan kondisi fundamental emiten tetap dipertahankan, termasuk penyampaian laporan keuangan, pendapatan, ekuitas negatif, serta status PKPU atau kepailitan.
Pada Kamis, 1 Oktober 2026, transaksi Short Selling dan IDSS mulai dijalankan. Dalam tahap awal sampai 31 Desember 2026, layanan tersebut tersedia bagi investor individu domestik melalui dua Anggota Bursa yang telah memiliki lisensi. Lima saham awal yang masuk daftar efek IDSS adalah ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF.
Short selling memungkinkan transaksi dilakukan dengan strategi yang berbeda dari pembelian saham biasa. Karena itu, penerapan bertahap dan pembatasan akses awal menjadi unsur penting dalam pengembangan instrumen perdagangan tersebut.
Saham yang Menguat di Tengah Koreksi Indeks
Tidak seluruh saham bergerak searah dengan IHSG. Sejumlah emiten justru membukukan kenaikan harga yang tajam sepanjang pekan. PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) menjadi salah satu saham dengan penguatan terbesar setelah melonjak 142,42% hingga Rp3.600.
PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) naik 80% dan ditutup di Rp3.600. Berikutnya, PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) menguat 78,03% menjadi Rp470. Kenaikan besar pada saham-saham tertentu memperlihatkan bahwa pergerakan indeks agregat tidak selalu menggambarkan kinerja seluruh emiten secara seragam.
Penguatan penting juga dicatatkan PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI), yang naik 64,36% ke Rp332. PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA) meningkat 57,32% menjadi Rp3.760, sedangkan PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI) menguat 50,77% ke Rp980.
PT Artha Mahiya Investama Tbk (AIMS) turut masuk kelompok saham dengan kenaikan menonjol setelah bertambah 50,42% hingga mencapai Rp710.
Daftar Saham dengan Penurunan Terdalam
Di sisi sebaliknya, tekanan jual paling dalam dialami PT Fortune Indonesia Tbk (FORU). Harga saham FORU merosot 54,72% dan berakhir di Rp163. PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) turun 52% menjadi Rp24, sementara PT Maxindo Karya Anugerah Tbk (MAXI) melemah 48% ke Rp26.
PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) terkoreksi 44% menjadi Rp28. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga mengalami penurunan 40% dan ditutup pada harga Rp30.
Penurunan lain tercatat pada PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA), yang melemah 38,24% ke Rp4.570. PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ALKA) turun 36% menjadi Rp32, sedangkan PT MDTV Media Technologies Tbk (NETV) berakhir 34% lebih rendah di Rp33.
Perdagangan pekan ini menegaskan bahwa koreksi IHSG tidak menutup peluang adanya penguatan pada saham tertentu. Bagi pelaku pasar, perbedaan kinerja antar-emiten menjadi pengingat bahwa arah indeks utama dan pergerakan saham individual dapat berjalan sangat berbeda, terutama ketika sentimen pasar serta likuiditas berubah cepat.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is IHSG Anjlok 3 28 dalam Sepekan?
IHSG Anjlok 3 28 dalam Sepekan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does IHSG Anjlok 3 28 dalam Sepekan matter?
IHSG Anjlok 3 28 dalam Sepekan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
