Facing Challenges: BPS: Neraca Dagang RI Januari-April 2026 Surplus USD5,64 Miliar

bps-neraca-dagang-ri-januariapril-2026-surplus-usd564-miliar-exa

Indonesia Neraca Dagang Surplus USD5,64 Miliar Meski Tantangan

Facing Challenges – Dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat ketidakstabilan ekonomi global, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD5,64 miliar pada kuartal pertama tahun 2026. Angka ini menggambarkan kemampuan negara untuk tetap mempertahankan kinerja perdagangan meski tengah menghadapi tekanan dari perubahan politik dan ekonomi internasional. Surplus tersebut memperpanjang tren positif yang terjadi selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, menunjukkan ketangguhan sektor ekonomi dalam situasi tidak pasti.

Ekspor Nonmigas Tetap Dominan

Tantangan global tidak menghalangi pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia, yang menjadi pilar utama dalam pencapaian surplus. Pada Januari-April 2026, nilai ekspor nonmigas mencapai USD92,15 miliar, meningkat 5,48 persen dibandingkan periode sama tahun 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh industri pengolahan yang mengalami kenaikan signifikan sebesar 9,78 persen, mencapai USD75,57 miliar.

Menurut Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, surplus Januari-April 2026 terutama berasal dari kelompok komoditas seperti lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel beserta turunannya, serta alas kaki. Kombinasi kontribusi dari kelima kelompok tersebut mencapai USD32,77 miliar, menegaskan keberlanjutan ekspor nonmigas sebagai motor pertumbuhan ekonomi.

“Hingga April 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD5,64 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-April 2026 didukung oleh surplus komoditas nonmigas USD14,16 miliar, sementara sektor migas masih mengalami defisit USD8,52 miliar,” kata Pudji Ismartini dalam rapatannya, Selasa (2/6/2026).

Ekspor ke Tiongkok, AS, dan India

Pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia pada empat bulan pertama 2026 juga didukung oleh pasar utama seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Tiga negara ini berkontribusi sebesar 44,52 persen dari total nilai ekspor nonmigas nasional, menggarisbawahi pentingnya hubungan dagang dengan mitra strategis.

Tiongkok tetap menjadi pelaku utama dengan kontribusi USD22,76 miliar atau 25,93 persen, diikuti Amerika Serikat dengan USD10,17 miliar (11,59 persen) dan India USD6,14 miliar (7 persen). Produk utama yang dikirimkan ke Tiongkok mencakup besi dan baja, nikel, serta bahan bakar mineral. Sementara ekspor ke Amerika Serikat dominan di bidang mesin, alat elektrik, alas kaki, dan produk tekstil.

Peningkatan Impor dan Dampaknya

Di sisi lain, nilai impor Indonesia juga meningkat tahunan sebesar 13,40 persen menjadi USD86,51 miliar. Pertumbuhan impor nonmigas mencapai 12,70 persen, mencapai USD73,58 miliar, sementara impor migas naik lebih tinggi, 17,58 persen, menjadi USD12,93 miliar. Meski menghadapi tantangan, pemerintah terus memperluas akses ke bahan baku dan barang modal untuk memastikan stabilitas pasokan.

Komoditas utama yang diimpor meliputi bahan baku sebesar USD61,82 miliar (pertumbuhan 11,67 persen), barang modal USD17,11 miliar (naik 19,02 persen), dan barang konsumsi USD7,58 miliar (naik 15,68 persen). Penyesuaian pola impor ini menjadi strategi untuk mengatasi ketergantungan pada pasar eksternal dan memperkuat daya tahan ekonomi dalam menghadapi tantangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *