New Policy: Kemendikdasmen Gandeng Australia Ciptakan Sekolah Aman dan Nyaman
New Policy: Kemendikdasmen dan Australia Tumbuhkan Sekolah Aman dalam Kolaborasi
New Policy – Sebuah New Policy baru diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikdasmen) yang bekerja sama dengan pemerintah Australia. Tujuan utama dari New Policy ini adalah menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung pengembangan karakter siswa. Kemitraan dengan Australia diharapkan mendorong inovasi dalam pendidikan, sekaligus menyelesaikan tantangan yang dihadapi sekolah di berbagai wilayah Indonesia. Acara penandatanganan kerja sama berlangsung di Artotel Senayan, Jakarta, pada Selasa, 2 Juni 2026, yang dihadiri oleh Wakil Dubes Australia, Gita Kamath, serta pejabat Kemendikdasmen. Program ini juga melibatkan pemberian buku panduan “Ketika Sekolah Melindungi” sebagai alat pendukung implementasi New Policy.
Transformasi Pendidikan Berbasis New Policy
Kemendikdasmen menekankan bahwa New Policy ini merupakan langkah strategis untuk mereformasi pendidikan Indonesia. “New Policy kami berfokus pada pendekatan pendidikan yang inklusif, humanis, dan berbasis keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan,” jelas Abdul Mu’ti, Kepala Kemendikdasmen, dalam wawancara eksklusif. Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini mencakup tiga prinsip utama: mindful, meaningful, dan joyful. Mindful mengacu pada kepekaan terhadap kebutuhan siswa, meaningful menekankan makna belajar, dan joyful mendorong kebahagiaan dalam proses pendidikan. “Dengan New Policy ini, siswa tidak hanya diberi materi pelajaran, tetapi juga diberi ruang untuk tumbuh secara emosional dan sosial,” tambahnya.
“New Policy kami tidak hanya sekadar perubahan kebijakan, tetapi juga transformasi cara berpikir dalam pendidikan. Lingkungan yang aman dan nyaman adalah kunci untuk menghasilkan generasi yang tangguh,” kata Gita Kamath, Wakil Dubes Australia, yang juga mengapresiasi upaya Kemendikdasmen dalam membangun budaya sekolah yang inklusif.
Implementasi New Policy di Berbagai Sekolah
Penyebaran New Policy di seluruh Indonesia dilakukan secara bertahap, dengan adaptasi berdasarkan kondisi setiap daerah. Di Sidoarjo, beberapa sekolah telah menerapkan metode yang berbeda. SDN Sedatigede 2, misalnya, menerapkan pendekatan “Sahabat” yang melibatkan peran orang tua dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat. Faizatul Fitriyah, staf pengajar di sekolah tersebut, mengatakan bahwa New Policy ini membantu mengakomodasi siswa yang mengalami kesulitan akibat kesibukan orang tua. “Dengan kolaborasi antara sekolah dan keluarga, siswa lebih mudah berkembang secara harmonis,” imbuhnya.
Sementara itu, SDN Pucang 1 Sidoarjo lebih menekankan penguatan karakter melalui kunjungan rumah. Rizki Tri, staf pengajar di sekolah tersebut, menjelaskan bahwa New Policy ini memungkinkan pihaknya mengidentifikasi masalah di luar sekolah, seperti bullying atau kesenjangan sosial. “Koordinasi langsung dengan orang tua melalui home visit memperkuat efektivitas New Policy. Masalah bisa diselesaikan lebih cepat, dan siswa belajar menyelesaikan konflik secara mandiri,” katanya. Pendekatan ini menjadi contoh nyata keberhasilan New Policy dalam memperbaiki interaksi sosial di lingkungan sekolah.
Kemitraan dengan Australia: Pengaruh Global pada Sistem Pendidikan Indonesia
Kerja sama antara Kemendikdasmen dan Australia tidak hanya berfokus pada kebijakan lokal, tetapi juga menyerap pengalaman internasional dalam menciptakan sekolah aman. Dalam New Policy ini, Australia memberikan dukungan teknis dan bahan bacaan sebagai acuan. Program kolaborasi ini telah diuji coba di 5 provinsi dan 20 kota, dengan hasil yang signifikan. Mila Syakrina, seorang guru di SDN 06 Tarakan, mengungkapkan bahwa New Policy memperbaiki sikap siswa dalam menghadapi kesalahan. “Sebelum New Policy, siswa lebih mudah menangis atau merasa tidak aman saat salah. Kini, mereka belajar mengatasi masalah dengan tenang dan mandiri,” tuturnya.
Program New Policy juga menarik perhatian dari masyarakat lokal. Selain meningkatkan kualitas belajar, inisiatif ini mengurangi stigmatisasi terhadap siswa yang memiliki kebutuhan khusus atau sifatnya berbeda. Gita Kamath menegaskan bahwa tujuan utama kerja sama ini adalah menyelaraskan pendidikan Indonesia dengan standar global. “New Policy ini memberikan panduan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dukungan Australia akan terus diberikan hingga program ini dapat diterapkan secara masif di seluruh negeri.
“New Policy bukan sekadar slogan, tetapi komitmen nyata untuk memperkuat sistem pendidikan Indonesia. Kolaborasi dengan Australia membantu kita mengadopsi metode terbaik dan menghindari kegagalan yang bisa terjadi jika hanya bergantung pada kebijakan internal,” jelas Mila Syakrina, yang juga menjadi contoh implementasi New Policy di Tarakan.
Penyelesaian Konflik dan Peningkatan Partisipasi Orang Tua
Salah satu hasil utama dari New Policy adalah peningkatan partisipasi orang tua dalam memastikan lingkungan belajar yang aman. Di SDN Pucang 1, metode home visit telah membantu menangani kasus bullying yang sebelumnya sulit terselesaikan. “New Policy ini memberikan ruang bagi orang tua untuk terlibat aktif, bukan hanya menjadi penonton,” kata Rizki Tri. Ia menambahkan bahwa metode ini juga mendorong transparansi dan kepercayaan antara sekolah dan komunitas. “Ketika orang tua mengenal lingkungan belajar anak mereka secara langsung, mereka lebih mampu memberikan bantuan sesuai kebutuhan,” tuturnya.
Kemitraan dengan Australia memberikan pelatihan untuk guru dan staf sekolah dalam mengelola konflik. Dengan New Policy, pendidik diberikan alat untuk melibatkan siswa secara aktif dalam membangun sikap anti-bullying. “Program ini membantu kami mengubah cara mengajarkan empati, sehingga siswa lebih mudah memahami perasaan sesama,” kata Faizatul Fitriyah. Keberhasilan New Policy ini menunjukkan bahwa perubahan dari dalam dan luar negeri bisa saling melengkapi dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
