Solving Problems: Raksha Loka Fest di Jaksel, Tim FIA UI Dorong Literasi Keuangan Komunitas Iklim

raksha-loka-fest-di-jaksel-tim-fia-ui-dorong-literasi-keuangan-komunitas-iklim-ihe

Raksha Loka Fest di Jaksel: Tim FIA UI Dorong Literasi Keuangan untuk Menyelesaikan Masalah Iklim

Solving Problems – Raksha Loka Fest, yang digelar pada 22–23 Mei 2026 di M Bloc Space, Jakarta Selatan, kembali mengangkat isu penting terkait pembiayaan bagi komunitas yang terdampak perubahan iklim. Acara ini menjadi platform diskusi untuk mengupas tuntas tentang solusi keuangan yang inklusif dan berkelanjutan. Dalam sesi utama dengan tema “Pendanaan Berkelanjutan dan Berkeadilan untuk Komunitas Terdampak Iklim,” Terasmitra bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), Yayasan Penabulu, Lawe Indonesia, dan Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) menghadirkan pembicara yang berkompeten, termasuk Maria Eurelia Wayan sebagai pembawa acara.

Strategi Pendanaan yang Berdampak Positif pada Komunitas Iklim

Dalam rangka menyelesaikan masalah yang dihadapi komunitas ramah lingkungan, diskusi ini menekankan pentingnya pendekatan keuangan yang lebih responsif terhadap kebutuhan lokal. Terasmitra menyoroti bahwa bisnis kecil dan menengah sering kali kesulitan dalam mengakses dana karena kurangnya pengetahuan tentang mekanisme pendanaan atau kesulitan membangun kelembagaan yang kuat. “Solving Problems di sini berarti memastikan setiap kelompok usaha memiliki akses yang adil dan mudah untuk dana yang diperlukan,” tegas Novita Ikasari dari FIA UI. Hal ini menjadi isu sentral dalam diskusi yang bertujuan membentuk strategi pendanaan untuk meningkatkan daya tahan komunitas terhadap perubahan iklim.

Acara ini juga membahas peran fintech dalam memperluas peluang pembiayaan. Dua platform pendanaan utama, yaitu TMFund dan BUMI, menjadi fokus utama. TMFund, yang dikembangkan secara bertahap, dirancang untuk memenuhi kebutuhan dana dengan memperhatikan kebiasaan pengelolaan keuangan masyarakat. Sementara BUMI (Bantuan Usaha Melalui Investasi) memberikan pendanaan stabil, tetapi masih memerlukan pengembangan jaringan distribusi yang lebih luas. “Solving Problems dalam pembiayaan tidak hanya tentang menyediakan dana, tetapi juga memastikan komunitas mampu mengelola dan memanfaatkannya secara optimal,” jelas Farhana Zahrotunnisa dari KEM.

Komunitas yang terlibat dalam acara ini menunjukkan bahwa usaha lokal memiliki kontribusi besar terhadap lingkungan dan perekonomian daerah. Namun, mereka masih menghadapi tantangan seperti kurangnya literasi keuangan, kesulitan dokumentasi, dan akses pasar yang terbatas. Wiraswati Yuliani dari Lawe Indonesia menyampaikan bahwa program TMFund versi 2.0 telah memberikan manfaat signifikan. “Solving Problems melalui pendekatan keuangan berkelanjutan bisa menciptakan perubahan yang terukur dalam menjaga ekosistem sekaligus memperkuat perekonomian komunitas,” ujarnya. Komentar ini menggarisbawahi betapa pentingnya kesadaran keuangan di tengah upaya mitigasi dampak iklim.

Langkah Konkret untuk Meningkatkan Kapasitas Komunitas

Dalam rangkaian acara, Terasmitra juga memperkenalkan inisiatif pendampingan keuangan yang dirancang untuk memperkuat kemampuan komunitas dalam mengelola dana secara efektif. “Solving Problems dalam konteks ini melibatkan pembangunan institusi yang mendukung keberlanjutan usaha, bukan hanya penyaluran dana jangka pendek,” tambah Nanang dari Yayasan Penabulu. Ia menekankan bahwa keberhasilan pembiayaan tergantung pada kesiapan komunitas dalam menciptakan model bisnis yang bertanggung jawab. “Jika komunitas memiliki literasi keuangan yang baik, mereka bisa menjawab berbagai tantangan iklim secara lebih mandiri,” lanjutnya.

Para peserta diskusi sepakat bahwa pendanaan berkelanjutan harus dipadukan dengan edukasi keuangan yang intensif. Raksha Loka Fest, sebagai acara tahunan, tidak hanya mengangkat isu-isu lingkungan, tetapi juga memperkuat peran lembaga pendidikan dan pelaku bisnis dalam membentuk solusi yang holistik. “Solving Problems di sini adalah tentang kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan lingkungan usaha yang lebih sehat,” kata Maria Eurelia Wayan. Ia menambahkan bahwa acara ini membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk berbagi pengalaman dan belajar dari praktik terbaik lainnya.

Dengan hadirnya TMFund dan BUMI, para peserta berharap pendanaan untuk komunitas iklim bisa terus dikembangkan. “Solving Problems di dunia keuangan tidak bisa dipisahkan dari inovasi teknologi dan pendekatan partisipatif,” tegas Novita Ikasari. Diskusi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menyelesaikan kesenjangan akses dana bagi usaha berbasis ekosistem. FIA UI, sebagai penyelenggara, berkomitmen untuk melanjutkan upaya ini melalui penelitian dan pelatihan yang terstruktur. “Kita perlu menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif agar semua pihak bisa berkontribusi pada penyelesaian masalah iklim,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *