Gunung Dukono 48 Kali Erupsi sejak 9-14 Mei – Ketinggian Kolom Mencapai 4.300 Meter
Gunung Dukono 48 Kali Erupsi sejak 9 Mei hingga 14 Mei
Gunung Dukono 48 Kali Erupsi sejak 9 – Aktivitas vulkanik Gunung Dukono terus meningkat, dengan total 48 letusan tercatat sejak tanggal 9 Mei hingga 14 Mei 2026. Gunung yang berada di Halmahera Utara, Maluku Utara, ini kembali menunjukkan kekuatan letusan yang signifikan, menghasilkan kolom abu vulkanik dengan ketinggian mencapai 4.300 meter. Badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan laporan terkini mengenai fenomena ini, yang menarik perhatian masyarakat sekitar dan pengunjung wisata alam.
Detil Letusan dan Data Seismik
Mengacu pada data seismogram yang dihimpun PVMBG, letusan terakhir Gunung Dukono terjadi pada hari keempat Mei 2026, dengan amplitudo maksimum mencapai 34 mm dan durasi 73,49 detik. Fenomena ini mengindikasikan kekuatan tektonik yang cukup tinggi, terutama saat magma bergerak secara intens di kawah utara. Selama periode ini, setiap letusan menghasilkan material vulkanik yang berbeda, mulai dari abu hingga batu pijar, yang menyebabkan fluktuasi tinggi di atmosfer.
Kolom Abu dan Dampak Lingkungan
Ketinggian kolom abu yang mencapai 4.300 meter mengisyaratkan bahwa Gunung Dukono sedang dalam fase erupsi dominan. Abu vulkanik yang terlempar ke udara berpotensi menyebar hingga jarak yang jauh, berdampak pada kualitas udara dan lingkungan sekitar. Wilayah seperti Galela dan kawasan sekitarnya harus waspada terhadap paparan partikel vulkanik yang bisa mengganggu kesehatan, termasuk menyebabkan iritasi pada pernapasan.
“Arah sebaran abu vulkanik dari Gunung Dukono kini mengarah ke barat laut, sehingga permukiman dan jalur wisata di wilayah tersebut perlu diawasi secara berkala. Kondisi ini berpotensi mengurangi visibilitas dan mengancam aktivitas transportasi, terutama di sekitar hutan hujan dan aliran sungai,” terang PVMBG.
Sejumlah letusan yang terjadi memicu peringatan untuk menjaga jarak minimal 4 kilometer dari kawah aktif, yaitu Kawah Malupang Warirang. Selain ancaman utama berupa batu pijar dan abu, PVMBG juga mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap aliran lahar yang bisa menghancurkan daerah dataran rendah di sektor utara dan timur laut. Sungai Mamuya dan Mede menjadi jalur potensial yang rawan terkena dampak sekunder dari erupsi.
Erupsi Gunung Dukono ini merupakan salah satu dari sejumlah aktivitas vulkanik yang sering terjadi di wilayah Maluku Utara. Dalam kurun waktu sekitar satu minggu, frekuensi letusan meningkat signifikan, yang menunjukkan perubahan dalam sistem magma bawah tanah. Data meteorologi juga menunjukkan bahwa kondisi cuaca kering di awal Mei 2026 berkontribusi pada penyebaran abu vulkanik yang lebih luas, sedangkan hujan lebat di akhir periode berpotensi menyerap material tersebut.
