What Happened During: Usai Ziarah ke Makam Soekarno dan Gus Dur, Kapolri Tabur Bunga di Makam Soeharto

usai-ziarah-ke-makam-soekarno-dan-gus-dur-kapolri-tabur-bunga-di-makam-soeharto-kkz

What Happened During: Usai Ziarah ke Makam Soekarno dan Gus Dur, Kapolri Tabur Bunga di Makam Soeharto

https://nasional.sindonews.com/read/1719721/13/usai-ziarah-ke-makam-soekarno-dan-gus-dur-kapolri-tabur-bunga-di-makam-soeharto-1781957217

What Happened During penghormatan Kapolri Listyo Sigit Prabowo ke makam mantan Presiden Soekarno, Gus Dur, dan Soeharto menjadi sorotan publik. Pada hari Sabtu, 20 Juni 2026, Sigit melakukan ziarah ke tiga makam tersebut di Yogyakarta dan Karanganyar, Jawa Tengah, sebagai bagian dari rangkaian acara perayaan Hari Bhayangkara ke-80. Dalam kunjungan tersebut, ia menaburkan bunga di makam Soeharto, yang berada di Astana Giribangun, sementara makam Soekarno dan Gus Dur juga mendapat perhatian serupa. Aktivitas ini dianggap sebagai bentuk penghormatan kecintaan Sigit terhadap sejarah Indonesia serta peran para pendiri bangsa dalam membangun institusi kepolisian.

Tradisi Ziarah sebagai Simbol Kebangsaan

What Happened During acara ziarah ini menjadi tradisi tahunan Kepolisian RI, yang dilakukan menjelang perayaan Hari Bhayangkara. Kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan Sigit, tetapi juga para pejabat kepolisian dan masyarakat umum yang turut menyaksikan. Dalam ziarah ke makam Soekarno, Sigit ditemani oleh sejumlah anggota keluarga mantan presiden pertama tersebut. Setelah mengunjungi makam Soekarno, ia melanjutkan perjalanan ke makam Gus Dur, lalu kembali ke Astana Giribangun untuk menaburkan bunga di makam Soeharto. Setiap tahap perjalanan diiringi oleh doa dan penghormatan yang tulus, mencerminkan rasa hormat terhadap para pendiri bangsa.

What Happened During ziarah ini juga dianggap sebagai upaya mengenang peran Soeharto dalam membangun sistem kepolisian modern. Meski kontroversi masih menghiasi sejarahnya, banyak pihak mengakui kontribusi Soeharto dalam pemerintahan dan pembentukan kelembagaan nasional. Sigit menyatakan bahwa kegiatan ziarah bertujuan menggali nilai-nilai kepemimpinan yang ditinggalkan oleh para tokoh, seperti integritas, tanggung jawab, dan semangat perjuangan. “Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menyerap inspirasi dari para bapak bangsa,” kata Sigit dalam wawancara usai ziarah.

Konteks Sejarah dan Perspektif Masyarakat

What Happened During perjalanan Sigit ke tiga makam sekaligus menunjukkan keseriusan Polri dalam mengenang perjuangan para pendiri republik. Soekarno, Gus Dur, dan Soeharto masing-masing memiliki peran berbeda dalam sejarah Indonesia, tetapi mereka secara kolektif menjadi simbol kekuatan dan perjuangan nasional. Ziarah tersebut juga memicu diskusi di media sosial, dengan sebagian netizen memuji langkah Kapolri dalam menjaga harmoni sejarah, sementara yang lain mengingatkan pentingnya menggabungkan memori masa lalu dengan visi masa depan. Sigit menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya warisan para tokoh.

What Happened During penghormatan terhadap ketiga tokoh ini dianggap sebagai bentuk pengakuan terhadap keberagaman kontribusi mereka. Soekarno dikenang sebagai proklamator kemerdekaan, Gus Dur sebagai pendiri Partai Kebangsaan (PKB), dan Soeharto sebagai tokoh yang membawa Indonesia memasuki era modernisasi. Sigit menekankan bahwa Polri tidak hanya mengejar kinerja operasional, tetapi juga menanamkan semangat kebangsaan dalam setiap langkah mereka. “Mereka adalah pelaku sejarah yang memberikan amanah kepada kita untuk melanjutkan perjuangan,” tutur Sigit, yang mengajak seluruh anggota Polri mempelajari kisah hidup para pendiri bangsa.

What Happened During acara ini juga menunjukkan peran Polri sebagai mitra bangsa dalam menjaga keutuhan NKRI. Setelah ziarah, Sigit melakukan penghormatan di Kalibata, yang merupakan tempat peristirahat akhir para tokoh nasional. Kehadiran ribuan masyarakat di lokasi ziarah menggarisbawahi pentingnya upacara tersebut dalam memperkuat rasa nasionalisme. Selain itu, Sigit menekankan bahwa kegiatan tersebut membantu menyeimbangkan pandangan historis, baik terhadap masa lalu maupun masa kini, dengan tetap menjaga harmoni antar komunitas.

What Happened During proses ziarah ini mencerminkan kecintaan Sigit terhadap sejarah Indonesia dan simbol-simbol kebangsaan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya untuk mengenang perjuangan ketiga tokoh, tetapi juga untuk memperkuat nilai-nilai yang menjadi dasar pembentukan Polri. “Setiap langkah kita sebagai polisi harus diiringi dengan rasa hormat terhadap perjuangan para pendahulu,” ujarnya. Dengan menaburkan bunga, Sigit menggambarkan kebersamaan dan penghargaan terhadap keberagaman sejarah yang melatarbelakangi eksistensi institusi kepolisian saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *