Visit Agenda: Peserta SPPI Meninggal Akibat TBC, Tim Seleksi Ungkap Pemeriksaan Awal hanya Terdeteksi Infeksi Paru
Visit Agenda: Peserta SPPI Meninggal karena TBC, Tim Seleksi Ungkap Masalah Pemeriksaan Awal
Visit Agenda – Dalam acara Visit Agenda yang berlangsung di Jakarta, salah satu peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) bernama Novia Rahmadhani Sihotang dinyatakan meninggal dunia selama menjalani Latihan Dasar Militer (Latsarmil). Hasil pemeriksaan medis yang dilakukan menunjukkan bahwa penyebab kematian adalah tuberkulosis (TBC), meskipun pada awalnya kondisi Novia hanya dianggap sebagai infeksi paru-paru. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas proses seleksi kesehatan yang diterapkan oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) dalam program Visit Agenda.
Proses Seleksi Kesehatan SPPI dan Kesalahan Diagnostik
Tim seleksi kesehatan Kemhan mengungkapkan bahwa seluruh peserta menjalani serangkaian tes sebelum mengikuti Latsarmil, termasuk pemeriksaan fisik, laboratorium, rontgen, dan USG. Namun, dalam pemeriksaan awal, Novia hanya didiagnosis menderita infeksi paru-paru akibat virus, bukan TBC.
“TBC tidak terdeteksi pada tahap awal karena gejalanya mirip dengan infeksi virus lainnya,” kata Letkol Ckm dr Ikhsan, perwakilan tim seleksi, dalam konferensi pers pada hari Senin (22/6/2026).
Deteksi TBC dan Proses Isolasi Peserta
Novia mengunjungi Unit Kesehatan Sekolah (UKS) pada Senin (22/6/2026) pukul 14.40 WIB dengan keluhan batuk, sesak napas, dan demam. Kondisi kesehatannya memburuk pada hari berikutnya, lalu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Esnawan Antariksa pukul 06.10 WIB. Setelah pemeriksaan lanjutan, termasuk foto toraks, TBC paru aktif terdeteksi. Peserta yang terindikasi positif kemudian dipisahkan melalui klasterisasi untuk mencegah penyebaran penyakit.
“Kami segera mengambil langkah isolasi untuk memutus rantai penyebaran TBC, terutama dalam rangkaian Visit Agenda yang bertujuan memastikan kesehatan peserta,” jelas Mayjen Ketut Gede Wetan, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan.
Pengaruh TBC pada Kesehatan Peserta SPPI
Novia meninggal pada pukul 15.13 WIB setelah kondisinya memburuk di ruang ICU isolasi. Kesalahan diagnosis ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kesiapan sistem kesehatan dalam menjalani Visit Agenda. TBC termasuk dalam kategori penyakit yang menyebabkan tidak memenuhi syarat (TMS), sehingga peserta dengan kondisi tersebut seharusnya tidak diperbolehkan mengikuti Latsarmil. Ikhsan menegaskan bahwa seluruh peserta yang lolos seleksi telah dinyatakan bebas TBC, tetapi kasus Novia membuka celah dalam pengawasan kesehatan.
Pengembangan Protokol untuk Visit Agenda
Setelah kejadian ini, BPSDM Kemhan sedang mengreview proses pemeriksaan kesehatan peserta SPPI. Fokusnya adalah memperkuat deteksi dini TBC, terutama dalam konteks Visit Agenda yang memprioritaskan kesiapan fisik dan mental peserta.
“Kami akan meningkatkan metode pemeriksaan untuk memastikan tidak ada yang terlewat dalam seleksi kesehatan, terlebih dalam rangkaian pelatihan yang intensif seperti Latsarmil,” tegas Wetan.
Kasus Novia dan Impak pada Program SPPI
Kematian Novia menjadi bahan evaluasi bagi Kemhan dalam memastikan kesehatan peserta SPPI yang terlibat dalam Visit Agenda. Meskipun TBC tidak terdeteksi sejak awal, kondisi kesehatan yang tidak terawasi dapat berdampak serius. Ikhsan menambahkan bahwa TBC adalah penyebab utama penolakan peserta, sehingga penting bagi tim seleksi untuk memastikan semua kriteria terpenuhi. “Kami sedang memperketat protokol untuk menghindari situasi serupa di masa depan,” imbuhnya.
Sebagai langkah pencegahan, peserta yang mengalami gejala mirip TBC kini diberi pemantauan lebih ketat. Selain itu, program Visit Agenda juga akan memperkenalkan pendidikan kesehatan tambahan untuk memastikan peserta mampu mengenali tanda-tanda penyakit infeksi yang bisa memengaruhi kinerjanya selama pelatihan. Dengan langkah-langkah ini, Kemhan berharap mengurangi risiko kesalahan diagnosis dan meningkatkan keamanan peserta SPPI.
