PBNU: Segelintir Kasus Kekerasan Seksual Tak Mewakili Wajah Pesantren

pbnu-segelintir-kasus-kekerasan-seksual-tak-mewakili-wajah-pesantren-xpa

PBNU: Sejumlah Kekejaman Seksual Tidak Menyentuh Seluruh Pesantren

JAKARTA, 30 Mei 2026

PBNU – Kasus kekerasan seksual yang terjadi di sebagian pesantren, menurut Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU KH Ma’shum Faqih, tidak boleh dijadikan alasan untuk menggambarkan seluruh institusi pendidikan pesantren di Indonesia. Ia menegaskan bahwa setiap pelaku kejahatan harus diadili secara hukum, tetapi masyarakat juga diminta tidak menggeneralisasi ribuan pesantren yang selama ini berperan penting dalam membentuk karakter dan akhlak masyarakat.

“Segelintir insiden kekerasan seksual tidak bisa menjadi cerminan utuh dari pesantren Indonesia. Jika ada pelanggaran, pelakunya harus diberi hukuman, tetapi pesantren sebagai lembaga pendidikan tidak boleh disalahkan secara keseluruhan,” ujar Gus Ma’shum kepada media di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).

KH Ma’shum menjelaskan bahwa pesantren telah lama berfungsi sebagai tempat pembentukan generasi muda yang bermoral dan berakhlak baik. Ia menekankan bahwa kekerasan seksual bisa terjadi di berbagai lingkungan, termasuk pesantren, sehingga yang perlu diperkuat adalah mekanisme pencegahan, perlindungan korban, serta penegakan hukum terhadap pelaku.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Ma’shum juga menyebutkan bahwa pesantren harus menjadi ruang aman bagi para santri. “Pesantren seharusnya menjaga kenyamanan dan keamanan para santri untuk belajar serta berkembang, bukan tempat berlindung bagi pelaku kejahatan,” tegasnya.

Sebagai contoh, beberapa pesantren seperti Padepokan Padang Ati diambil tindakan oleh polisi karena kasus pencabulan yang melibatkan oknum. Dalam insiden itu, 350 santri dipulangkan. Sementara itu, Ponpes Ndolo Kusumo di Pati, Jawa Tengah, ditutup secara permanen setelah kasus pemerkosaan terhadap puluhan santriwati terungkap.

Gus Ma’shum menambahkan bahwa pesantren perlu terus memperbaiki tata kelola dan sistem perlindungan santri agar kepercayaan publik terhadap lembaga tersebut tetap terjaga. “Jasa pesantren dalam membentuk jutaan anak bangsa harus dihargai, jangan sampai tertutup oleh perbuatan segelintir oknum yang menyimpang dari nilai-nilai pesantren,” imbuhnya.

Pesantren Langitan, tempat Gus Ma’shum bernaung, dikenal melahirkan tokoh-tokoh agama besar seperti Syaechona Cholil, KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, dan KH Abdul Wahab Chasbullah, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *