New Policy: Rustini Muhaimin Dorong Kemandirian Santri Lewat Pelatihan Menjahit

rustini-muhaimin-dorong-kemandirian-santri-lewat-pelatihan-menjahit-mye

New Policy: Dorong Kemandirian Santri Melalui Pelatihan Menjahit

New Policy – Jakarta – Dalam rangka mewujudkan santri yang lebih mandiri dan adaptif, Pembina DPP Perempuan Bangsa, Rustini Muhaimin, menginisiasi New Policy terbaru yang fokus pada penguatan keterampilan teknis di lingkungan pesantren. Upaya ini diimplementasikan melalui pelatihan menjahit yang digelar di Pondok Pesantren Al Madrosatul Qur’an, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Rabu (1/7/2026). Tujuan New Policy ini adalah memastikan santri tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga siap berkontribusi secara ekonomi dan sosial di tengah dinamika dunia modern.

Pelatihan Menjahit sebagai Partai dari New Policy

Menurut Rustini, New Policy ini dirancang untuk menanamkan nilai-nilai kemandirian dan wirausaha kepada santri. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa pelatihan menjahit tidak hanya memberikan keterampilan praktis, tetapi juga membantu santri mengembangkan kepercayaan diri dan kreativitas. “Santri seharusnya memiliki kemampuan teknis yang bisa menjadi bekal menghadapi tantangan kehidupan, sementara tetap mempertahankan akhlak dan pemahaman agama,” jelasnya. Pelatihan ini menawarkan peluang bagi santri untuk membangun usaha sampingan, baik secara individual maupun kolektif.

Pelatihan menjahit yang diselenggarakan dalam kerangka New Policy ini menargetkan 30 santri dari berbagai tingkatan usia. Materi pelatihan mencakup teknik dasar menjahit, desain model pakaian, dan manajemen produksi sederhana. Rustini menyebutkan bahwa New Policy ini melengkapi kurikulum pesantren yang selama ini dominan fokus pada pendidikan agama. “Kami ingin santri tidak hanya menjadi pemimpin spiritual, tetapi juga agen perubahan di masyarakat,” tambahnya.

New Policy ini merupakan langkah penting dalam mengubah paradigma pendidikan pesantren. Santri tidak cukup hanya belajar ilmu agama dan menghafal Al-Qur’an. Mereka juga harus memiliki keterampilan yang spesifik agar memiliki bekal untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dengan skill, santri akan lebih percaya diri, lebih mandiri, bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya maupun orang lain,” ujar Rustini.

Menurutnya, New Policy ini tidak hanya meningkatkan kemandirian ekonomi santri, tetapi juga memperkuat hubungan antara pesantren dengan masyarakat sekitar. “Kemandirian ekonomi harus dibangun sejak dini agar para santri mampu berkontribusi bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa ketika mereka kembali ke tengah masyarakat,” lanjut Rustini. Ia menambahkan bahwa pelatihan menjahit bisa menjadi bagian dari program pemberdayaan yang lebih luas, seperti pelatihan memasak, desain grafis, atau teknologi informasi.

Pelatihan ini disambut antusias oleh para santri, yang mendapatkan pemahaman tentang teknik dasar menjahit serta dorongan untuk terus mengasah kemampuan tersebut. Banyak peserta mengungkapkan harapan mereka agar New Policy ini bisa diadopsi secara rutin di berbagai pesantren. “Saya senang bisa belajar menjahit. Ini memberi saya rasa percaya diri yang lebih baik dan membuka peluang kerja baru,” kata salah satu santri. Rustini berharap New Policy ini menjadi contoh bagi pengembangan program serupa di seluruh Indonesia, sehingga santri memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi identitas mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *