Key Strategy: P2G Bongkar Rekayasa Branding Proyek Chromebook Nadiem Makarim

p2g-bongkar-rekayasa-branding-proyek-chromebook-nadiem-makarim-ham

P2G Bongkar Rekayasa Branding Proyek Chromebook Nadiem Makarim

Key Strategy – JAKARTA – Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) telah mengungkap taktik manipulasi informasi besar-besaran yang dilakukan untuk menyembunyikan kegagalan proyek Chromebook di masa kepemimpinan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek). Proyek ini disebut sebagai salah satu strategi utama pemerintah dalam mempromosikan digitalisasi pendidikan, tetapi kritikus menilai bahwa rencana ini justru mengecewakan masyarakat daerah terpencil. Key Strategy ini juga dikaitkan dengan upaya menjaga citra positif sebelum skandal korupsi mencuat.

Rekayasa Opini untuk Menyembunyikan Kebijakan yang Gagal

Dalam penyelidikannya, P2G menyoroti bagaimana narasi positif secara sistematis dibangun melalui media sosial dan pihak-pihak yang mendukung Nadiem. Key Strategy ini dilakukan dengan memanfaatkan konten yang dirancang untuk memperkuat imajinasi publik tentang keberhasilan proyek Chromebook, meskipun fakta di lapangan menunjukkan kegagalan signifikan. Iman Zanatul Haeri, Ketua Bidang Advokasi Guru, menegaskan bahwa tindakan ini bertujuan menutupi kerugian besar yang dialami masyarakat 3T (Terdepan, Terpencil, dan Terluar).

“Kementerian memaksakan Asesmen Nasional berbasis internet meskipun infrastruktur internet di pelosok belum merata. Ini bukan inovasi, tapi manipulasi Key Strategy yang dirancang agar Chromebook bisa mendapat dukungan maksimal,” ujar Iman.

Pengaruh Rekayasa Branding pada Kualitas Pendidikan

P2G mengungkap bahwa kebijakan digitalisasi dianggap lebih penting daripada kebutuhan pendidikan dasar, seperti akses terhadap buku dan fasilitas belajar. Key Strategy ini memperkuat kesenjangan antara guru di kota dengan yang di daerah, karena perangkat Chromebook dianggap mahal dan tidak sesuai kebutuhan sehari-hari. Dalam konteks ini, P2G menyoroti bahwa rencana pembelian Chromebook sebenarnya adalah langkah branding untuk menyembunyikan kegagalan proyek yang lebih besar.

Menurut P2G, kesalahan terbesar terjadi saat kebijakan ini dipaksakan pada masa pandemi yang masih berlangsung. Kegiatan pendidikan yang semula terfokus pada keselamatan guru dan siswa kini diubah menjadi penekanan pada penggunaan teknologi. Key Strategy ini dianggap sebagai bentuk penjajahan masa depan, di mana kebutuhan masyarakat daerah diabaikan demi prestasi digital yang tampaknya tidak realistis.

Strategi Pemecah Kebijakan dan Kritik dari Masyarakat

P2G juga mengkritik cara pengelolaan pendidikan yang mengadopsi gaya manajemen startup, di mana branding menjadi prioritas utama. Key Strategy ini membuat pemerintah mengabaikan realitas lapangan, seperti kendala jaringan internet dan keterbatasan anggaran. Banyak guru di NTT dan Papua mengeluhkan bahwa Chromebook justru menjadi hambatan, karena sulit digunakan di area yang tidak memiliki koneksi stabil.

“Jika tidak mengisi puluhan aplikasi kementerian, rapor sekolah terancam. Ini adalah Key Strategy yang mengabaikan kebutuhan dasar pendidikan,” cetus Iman Zanatul Haeri. Kritik ini diiringi keluhan masyarakat yang menyebut Chromebook sebagai alat teknologi yang tidak cocok untuk daerah 3T.

Konten Pemecah Narasi dan Kebijakan Modernisasi

Dalam rangka membangun narasi yang solid, P2G menyebut adanya program “Guru Content Creator” yang dirancang untuk memproduksi konten seragam. Key Strategy ini mencakup pelatihan guru untuk membuat video dan berbagi pengalaman belajar secara online, padahal banyak dari mereka belum terbiasa dengan teknologi tersebut. Iman menilai, program ini justru memperkuat kesenjangan antara pihak elite dan masyarakat pelosok.

“Key Strategy dalam merekayasa informasi ini membuat pihak-pihak tertentu terlihat lebih maju, sementara masyarakat daerah justru menjadi korban kebijakan yang tidak terukur. Narasi ‘guru digital’ semakin ditekankan, padahal kebutuhan dasar seperti akses listrik dan internet masih jauh dari terpenuhi.”

Dampak Jangka Panjang dan Rekayasa Branding Berkelanjutan

P2G menegaskan bahwa kegagalan proyek Chromebook ini tidak hanya memengaruhi pendidikan saat ini, tetapi juga merusak reputasi kebijakan digital di masa depan. Key Strategy yang digunakan menurut mereka adalah strategi jangka panjang untuk mengabaikan kritik terhadap kebijakan yang dirancang agar masyarakat percaya pada solusi teknologi sebagai jalan satu-satunya. Kritikus menilai bahwa penggunaan Chromebook justru memperparah kesenjangan antara daerah kota dan pelosok.

Dengan memperluas analisis, P2G juga mengkritik ketergantungan pada vendor tertentu yang menjadi penentu kebijakan. Key Strategy ini membuat pemerintah terlihat lebih berfokus pada komunikasi publik daripada evaluasi kebijakan. Iman menyebut, kisah sukses Chromebook yang dibangun justru berujung pada kerugian finansial dan kualitas pendidikan yang menurun di daerah terpencil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *