5 Perusahaan Minyak Paling Untung Besar saat Perang Iran, Saudi Aramco Paling Fantastis Capai Rp585 Triliun
5 Perusahaan Minyak Paling Untung di Tengah Perang Iran
Beritasosial.com – Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran telah mengganggu jalur distribusi energi global, terutama setelah penutupan Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak yang berlangsung berbulan-bulan memberikan dampak luas terhadap pasar energi internasional. 5 Perusahaan Minyak Paling Untung saat ini mencatatkan keuntungan luar biasa dari dampak konflik tersebut. Di benua Amerika dan Eropa, biaya kebutuhan pokok rumah tangga mengalami peningkatan signifikan, sementara korporasi minyak besar mendulang laba yang sangat mengesankan.
Entitas seperti ExxonMobil, Chevron, Shell, BP, dan Saudi Aramco terus mendulang keuntungan besar di tengah ketidakpastian ini. Mereka mengantongi laba bernilai miliaran dolar seiring berlarutnya perang tanpa tanda-tanda akan segera berakhir, ditambah dengan perluasan konflik hingga ke perairan Laut Merah. Kondisi ini menjadikan 5 Perusahaan Minyak Paling Untung sebagai salah satu sektor yang paling diuntungkan dari situasi geopolitik saat ini.
Daftar Perusahaan Minyak dengan Laba Tertinggi
1. ExxonMobil — Rp259 Triliun
Sesuai laporan Al Jazeera, perusahaan minyak terbesar di Amerika Serikat ini mencatatkan laba kuartal kedua sebesar USD14,5 miliar atau setara Rp259 triliun. Angka laba yang sudah disesuaikan mencapai USD14,7 miliar, menjadikannya sebagai laba kuartalan tertinggi dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan harga minyak serta margin penyulingan yang lebih kuat akibat perang di Iran. Namun, perlu dicatat bahwa angka tersebut sebenarnya masih di bawah ekspektasi Wall Street, yang dipengaruhi oleh gangguan produksi di Qatar.
2. Chevron — Rp215 Triliun
Perusahaan terbesar kedua di AS ini melaporkan laba kuartal kedua sebesar USD12 miliar atau Rp215 triliun, yang merupakan laba kuartalan tertinggi dalam enam tahun. Performa ini melampaui perkiraan para analis. Menurut Reuters, kenaikan harga minyak global mendongkrak kinerja baik sektor hulu maupun hilir. Laba sektor hulu melonjak 200 persen secara tahunan menjadi USD8,2 miliar, sementara sektor hilir mencapai USD4,9 miliar, menandai kinerja terkuat Chevron sejak awal dekade 2010-an.
3. Shell — Rp179 Triliun
Grup perusahaan Inggris-Belanda yang merupakan perusahaan minyak terbesar di Eropa ini mencatatkan kenaikan laba kuartal kedua hingga lebih dari dua kali lipat. Angka laba mendekati USD10 miliar atau Rp179 Triliun, melampaui ekspektasi analis. Pencapaian ini didorong oleh kenaikan harga minyak dan gas serta ketangguhan operasi gas alam cair (LNG) di tengah gangguan produksi di beberapa wilayah Timur Tengah.
4. TotalEnergies dan BP
Laba raksasa minyak asal Prancis ini naik 67 persen pada kuartal kedua, menjadikannya kuartal terbaik dalam hampir tiga tahun. Pertumbuhan ini didukung oleh harga minyak yang lebih tinggi serta margin keuntungan yang kuat dari penyulingan bahan kimia, sehingga mampu mengimbangi penurunan laba di sektor LNG.
Di sisi lain, BP juga melaporkan kinerja positif. Perusahaan minyak besar asal Inggris ini mencatat laba kuartal kedua sebesar USD5,73 miliar, lebih dari dua kali lipat angka USD2,35 miliar yang dicatat setahun sebelumnya, sekaligus melampaui perkiraan analis.
5. Saudi Aramco — Rp585 Triliun
Lonjakan keuntungan tidak hanya dirasakan oleh perusahaan minyak besar Barat. Saudi Aramco, produsen minyak milik negara terbesar di dunia, juga melaporkan kenaikan tajam laba kuartalan. Laba naik 44 persen secara tahunan menjadi USD32,69 miliar atau Rp585 Triliun. Pipa Timur-Barat milik Arab Saudi telah membantu mengurangi ketergantungan kerajaan tersebut pada Selat Hormuz untuk kegiatan ekspor.
Faktor Pendorong Lonjakan Laba
Muyu Xu, analis senior minyak mentah di Kpler, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa harga acuan global rata-rata untuk minyak mentah yang diperdagangkan di Intercontinental Exchange berada di angka USD96,68 per barel pada paruh kedua tahun 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan USD78,38 per barel pada kuartal pertama dan USD66,71 per barel pada kuartal kedua tahun 2025.
“Hal ini berarti para produsen minyak, terutama mereka yang ekspornya tidak terdampak oleh hambatan lalu lintas di Selat Hormuz, mampu mendapatkan keuntungan dari harga minyak yang lebih tinggi dan permintaan yang lebih kuat dari berbagai negara serta kilang minyak yang mencari alternatif selain minyak mentah Timur Tengah,” ujarnya.
“Selain itu, perusahaan minyak yang memiliki aset kilang dalam jumlah besar, khususnya di wilayah Barat, juga diuntungkan oleh margin kilang yang lebih kuat, karena harga produk olahan yang lebih tinggi dan pasokan produk yang lebih ketat—akibat gangguan pada ekspor Timur Tengah—telah mendongkrak profitabilitas,” tambahnya.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang 5 Perusahaan Minyak Paling Untung
Apa yang menyebabkan 5 Perusahaan Minyak Paling Untung mencatatkan laba tinggi? Kenaikan harga minyak mentah global akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz dan konflik Iran menjadi faktor utama. Selain itu, margin kilang yang lebih kuat juga berkontribusi signifikan terhadap peningkatan laba.
Berapa total laba Saudi Aramco selama kuartal kedua? Saudi Aramco mencatatkan laba sebesar USD32,69 miliar atau setara Rp585 triliun, naik 44 persen secara tahunan. Ini menjadikan Saudi Aramco sebagai salah satu dari 5 Perusahaan Minyak Paling Untung dengan laba tertinggi.
Apakah konflik Iran akan berlanjut dan bagaimana dampaknya? Sementara belum ada tanda-tanda konflik segera berakhir, para analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi. Hal ini berarti 5 Perusahaan Minyak Paling Untung kemungkinan akan terus menikmati keuntungan yang besar dalam beberapa kuartal mendatang.
Bagaimana posisi Indonesia dalam konteks ini? Indonesia sebagai negara importir minyak mengalami peningkatan biaya bahan bakar. Namun, perusahaan energi lokal juga mulai mencari alternatif pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak mentah Timur Tengah.
