4 Fakta Pulau Ceuta, Wilayah yang Direbutkan Spanyol dan Maroko

4 Fakta Pulau Ceuta Wilayah yang Menjadi Sengketa Teritorial antara Spanyol dan Maroko di Afrika Utara
Beritasosial.com – Ceuta merupakan salah satu wilayah otonom Spanyol yang terletak di benua Afrika, tepatnya di pesisir utara Maroko. Wilayah ini telah lama menjadi pusat perhatian dunia internasional karena status teritorialnya yang masih diperdebatkan. Ribuan pendatang setiap tahunnya melintasi perbatasan menuju Ceuta, menciptakan situasi kemanusiaan yang kompleks. Tragedi terbaru menelan setidaknya 57 nyawa selama proses penyeberangan berlangsung, memicu respons cepat dari pemerintah Spanyol.
Foto dan rekaman video dari lokasi menunjukkan kerumunan besar manusia, mayoritas warga Maroko, bergerak melewati pemecah gelombang dekat garis pantai kota. Setelah berhasil mencapai daratan, mereka melanjutkan perjalanan ke jalan-jalan lokal. Mayoritas pendatang yang terlihat adalah laki-laki muda, namun tidak sedikit juga keluarga yang membawa istri dan anak-anak di tengah keramaian.
Lonjakan migrasi ini terjadi menyusul meningkatnya upaya penyeberangan, khususnya melalui jalur laut dengan berenang langsung dari Maroko. Hingga saat ini, otoritas setempat belum memberikan penjelasan pasti mengenai pemicu fenomena tersebut. Pemerintah Madrid merespons dengan mengirimkan bantuan militer guna memperkuat pertahanan perbatasan.
Sejarah dan Status Teritorial Ceuta
Ceuta merupakan kota otonom Spanyol yang bersebelahan dengan Melilla, wilayah Spanyol lainnya yang terletak sekitar 400 kilometer atau 250 mil ke arah timur. Keduanya menjadi bagian integral dari Spanyol serta Uni Eropa. Lebih penting lagi, kedua wilayah ini memiliki satu-satunya perbatasan darat yang menghubungkan Eropa dengan Afrika.
Spanyol telah memegang kendali atas Ceuta sejak tahun 1580. Dengan jumlah penduduk mencapai 85.000 orang, kota ini dihuni oleh campuran komunitas Kristen dan Muslim. Tidak hanya penduduk lokal, tetapi juga pekerja asal Spanyol dan Maroko tinggal di sini. Kehidupan sehari-hari di wilayah ini mencerminkan perpaduan budaya yang unik antara dua benua.
Sengketa Teritorial dan Dinamika Regional
Maroko menolak mengakui kedaulatan Spanyol atas Ceuta dan Melilla. Kerajaan tersebut menganggap kedua wilayah tersebut sebagai tanah yang sedang diduduki. Ceuta telah lama menjadi pusat ketegangan diplomatik antara kedua negara tetangga. Hubungan bilateral sering kali mengalami pasang surut tergantung pada isu-isu regional yang lebih luas.
Pada Mei 2021, sekitar 8.000 orang dari Maroko dan negara-negara Afrika sub-Sahara berhasil masuk ke Ceuta dalam waktu dua hari. Langkah ini terjadi setelah otoritas Maroko melonggarkan pengawasan perbatasan. Tindakan tersebut dipandang sebagai respons terhadap keputusan Spanyol yang mengizinkan Brahim Ghali, pemimpin gerakan kemerdekaan Sahara Barat, menerima perawatan medis di negara tersebut.
Hubungan bilateral kemudian membaik setelah Spanyol mengubah sikapnya terkait Sahara Barat. Pertemuan antara Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez dengan Raja Maroko Mohammed VI menjadi momen penting dalam perbaikan hubungan. Kedua pemimpin membahas berbagai isu termasuk migrasi dan kerjasama ekonomi.
Seorang pria ditahan oleh tentara Angkatan Darat Spanyol di perbatasan Maroko dan Spanyol, di wilayah kantong Spanyol Ceuta, pada hari Selasa, 18 Mei 2021.
Peran Strategis sebagai Pintu Gerbang Eropa
Ceuta dan Melilla berfungsi sebagai titik masuk utama bagi para migran yang berupaya mencapai Eropa dari Maroko dan berbagai wilayah Afrika lainnya. Meskipun perbatasan dijaga ketat, pendatang terus berusaha menyeberang baik melalui jalur darat maupun laut. Banyak pendatang memilih berenang dari kota Fnideq di Maroko, menempuh jarak sekitar 5 kilometer atau 3,1 mil untuk sampai ke Ceuta.
Ada pula yang menyeberang dari Belyounech yang lokasinya lebih dekat. Mereka yang berhasil mencapai wilayah tersebut memiliki pilihan untuk dikembalikan ke Maroko atau ditempatkan di tempat penampungan migran sambil mengajukan permohonan suaka di Spanyol. Proses ini melibatkan koordinasi antara otoritas Spanyol dan Maroko.
Meskipun Ceuta dan Melilla sering menjadi sorotan media, sebagian besar migran yang tiba di Spanyol sebenarnya menggunakan rute lain seperti Kepulauan Canary dan Kepulauan Balearic. Dalam beberapa dekade terakhir, populasi imigran di Spanyol mengalami pertumbuhan signifikan. Sekitar 10 juta dari 50 juta penduduk negara tersebut lahir di luar negeri.
Mayoritas pendatang berasal dari negara-negara seperti Kolombia, Venezuela, dan Maroko, yang bekerja di berbagai sektor termasuk pertanian, pariwisata, dan jasa. Kontribusi mereka terhadap perekonomian Spanyol semakin hari semakin terasa. Ke depan, status teritorial Ceuta dan Melilla kemungkinan akan tetap menjadi topik pembahasan dalam hubungan diplomatik antara Spanyol dan Maroko.
