New Policy: Harga Emas Bangkit usai Trump Sebut Selat Hormuz Dibuka Pekan Ini
Harga Emas Global Mengalami Penguatan Setelah Trump Umumkan New Policy untuk Membuka Selat Hormuz
New Policy menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan rencana pembukaan Selat Hormuz pada pekan ini. Pernyataan ini memberikan harapan baru bagi pasar keuangan, terutama mengingat kecemasan terhadap gangguan pasokan minyak yang selama ini menjadi penekan terhadap harga emas. Dengan adanya New Policy yang diumumkan, para pelaku pasar mulai memperkirakan perbaikan dalam ketersediaan energi, yang berpotensi mengurangi tekanan inflasi dan stabilitas ekonomi global yang terganggu selama beberapa bulan terakhir.
Pelaksanaan New Policy dan Respon Pasar
Kebijakan baru yang diperkenalkan Trump disambut positif oleh berbagai pihak, termasuk investor yang sebelumnya memperkirakan penurunan harga minyak sebagai faktor utama penyebab kenaikan harga emas. Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak ke pasar internasional, sekarang diprediksi akan kembali aktif setelah sejumlah negosiasi dan langkah diplomatik diambil oleh pihak AS. Pernyataan ini juga memberikan dorongan bagi mata uang lainnya, seperti dolar, untuk stabilisasi kembali, yang pada gilirannya bisa mempengaruhi volatilitas harga emas.
“New Policy Trump memberikan sinyal optimis bahwa ketegangan geopolitik di Teluk bisa diatasi secara lebih cepat. Dengan kembali lancarnya aliran minyak, tekanan inflasi yang menghambat pertumbuhan ekonomi global akan berkurang, sehingga membuat emas lebih menarik sebagai aset berharga,” ujar John Mayer, ekonom pasar keuangan dari firma J.P. Morgan, seperti dilansir dari sumber lokal pada Selasa (17/6/2026).
Di pasar lokal Indonesia, harga emas Antam naik Rp18.000 per gram, sementara transaksi buyback mencatat peningkatan Rp46.000 per gram. Angka ini menunjukkan respons positif dari konsumen terhadap kemungkinan kestabilan pasar global akibat New Policy. Selain itu, harga emas spot di pasar internasional melonjak hingga USD4.310 per troy ons, dengan kenaikan sebesar 2,2% dalam sesi sebelumnya. Perubahan ini mengindikasikan bahwa kebijakan Trump menjadi pemicu utama bagi penguatan harga logam mulia.
Pengaruh New Policy terhadap Ekonomi Global
Kebijakan Trump untuk membuka Selat Hormuz dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat rantai pasok global. Dengan menormalkan aliran minyak, New Policy diperkirakan akan menurunkan biaya energi dan membantu perusahaan-perusahaan energi untuk mengembalikan kinerja mereka. Selain itu, kebijakan ini juga menciptakan harapan bahwa perang dagang antara AS dan Iran akan berakhir, sehingga mengurangi ketidakpastian di pasar keuangan.
Analisis menunjukkan bahwa selama konflik di Selat Hormuz, harga minyak terus meningkat, yang berdampak pada inflasi dan mengurangi daya tarik emas. Namun, dengan New Policy yang diumumkan, harga minyak cenderung melemah, sehingga menyebabkan kenaikan harga emas. Ini membuktikan bahwa harga logam mulia sangat dipengaruhi oleh dinamika pasokan energi dan kebijakan luar negeri, terutama dari negara-negara utama.
Wolf, kepala strategi makro J.P. Morgan Private Bank, menjelaskan bahwa selama konflik, investor cenderung memilih aset berisiko yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, seperti saham dan obligasi. Namun, ketika pasokan minyak terganggu, kepercayaan pada dolar AS meningkat, sehingga emas menjadi kurang menarik. Dengan adanya New Policy, investor kembali mempertimbangkan emas sebagai aset aman yang bisa memberikan perlindungan terhadap fluktuasi ekonomi global.
Adapun kekhawatiran terhadap New Policy, beberapa negara sekutu AS mengingatkan bahwa proses pemulihan arus energi membutuhkan waktu lebih lama. Mereka menekankan bahwa meskipun ada peningkatan harapan, kenaikan harga emas tidak bisa terjadi secara langsung tanpa konfirmasi kesepakatan yang lebih jelas. Namun, meski demikian, reaksi pasar tetap positif terhadap New Policy sebagai upaya yang bertujuan mengurangi risiko geopolitik dan memperkuat kepercayaan investor.
Perbandingan dengan Kebijakan Sebelumnya
Keputusan Trump kali ini berbeda dari kebijakan sebelumnya yang cenderung menekankan pengurangan biaya operasional di sektor energi. New Policy kali ini lebih menekankan pada pembukaan akses pasokan, yang akan memungkinkan kestabilan harga energi dalam jangka panjang. Sebelumnya, kebijakan AS yang lebih keras terhadap Iran menyebabkan kenaikan harga minyak dan tekanan terhadap perekonomian dunia. Kini, dengan New Policy, AS berusaha menggandeng Iran untuk mencapai kesepakatan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Dalam konteks New Policy, harga emas juga dipengaruhi oleh kenaikan tarif impor dan investasi langsung dari negara-negara lain. Keberhasilan New Policy dalam menstabilkan pasar energi akan berdampak langsung pada inflasi, sehingga menurunkan kebutuhan akan emas sebagai alat investasi. Namun, jika New Policy gagal mencapai hasil yang diharapkan, kenaikan harga emas bisa terus berlanjut.
Pelaku pasar juga memperkirakan bahwa New Policy akan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan arah ekonomi global di masa depan. Dengan membuka Selat Hormuz, Trump memperlihatkan komitmen AS untuk memastikan keberlanjutan pasokan energi dan mengurangi ketidakpastian di pasar keuangan. Pernyataan ini juga menunjukkan bahwa New Policy memiliki dampak yang signifikan terhadap pergerakan harga emas, yang sebelumnya terpuruk akibat tekanan inflasi.
“New Policy Trump bukan hanya memberikan peningkatan harga emas, tetapi juga menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi global akan lebih terbuka terhadap perubahan. Dengan kembali lancarnya pasokan minyak, daya tarik emas akan kembali meningkat, terutama jika ekonomi dunia tetap dalam kondisi tidak stabil,” tambah Mayer dalam wawancara terpisah dengan Reuters, Rabu (18/6/2026).
