Mengapa Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab Begitu Vital? Begini Penjelasannya

Mengapa Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab Vital bagi Dunia?
Beritasosial.com – Mengapa Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab menjadi salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia? Jalur maritim ini menampung sekitar 30 persen dari keseluruhan pergerakan kapal global. Titik krusialnya terletak pada Selat Bab al-Mandab, sebuah celah perairan selebar 29 kilometer yang menghubungkan Laut Merah, Teluk Aden, dan Samudra Hindia. Posisi geografis ini menjadikannya gerbang utama antara Asia, Afrika, dan Eropa.
Dalam kondisi normal, selat vital ini mengangkut minimal 4,1 miliar barel minyak mentah setiap tahunnya. Ketika Selat Hormuz terhalang akibat konflik bersenjata, Arab Saudi memindahkan sebagian besar ekspor minyaknya melalui rute alternatif menuju Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah. Rute ini menjadi tulang punggung pasokan energi dunia.
Ancaman Houthi terhadap Stabilitas Energi Global
Aksi blokade yang dilakukan milisi Houthi semakin mengintensifkan ancaman terhadap stabilitas energi global. Pelabuhan Yanbu dan Selat Bab al-Mandab kini berada dalam risiko tinggi. Estimasi terbaru menunjukkan bahwa 25 persen dari total pasokan minyak dan gas alam dunia telah mengalami gangguan signifikan. Volume lalu lintas kapal di perairan Laut Merah menyentuh titik terendahnya dalam beberapa bulan terakhir.
Hanya tercatat 11 kapal yang berhasil melintas selama akhir pekan, menurut data Reuters. Sebagai perbandingan, sebelum tahun 2023, jumlah kapal yang melewati Selat Bab al-Mandab mencapai lebih dari 70 unit setiap harinya. Penurunan drastis ini mencerminkan tingkat kekhawatiran industri pelayaran internasional.
Gangguan pada selat penting ini semakin memperparah lonjakan harga minyak dunia, yang sudah bergejolak sejak perang AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu.
Kenaikan harga minyak mentah Brent mencapai USD88,09 per barel setelah sebelumnya turun ke level USD72 di awal Juli. Bahkan, harga minyak sempat menembus batas psikologis USD100 pada minggu sebelumnya. Lonjakan ini berdampak langsung pada inflasi global dan biaya logistik internasional.
Respons Diplomatik dan Keamanan Regional
Mengingat posisi strategis Laut Merah bagi negara-negara Teluk, Arab Saudi mengumumkan rencana pembentukan aliansi internasional. Koalisi ini bertujuan melindungi perairan dari serangan Houthi yang mendapat dukungan Iran dari Yaman. Puluhan negara telah menerima undangan untuk bergabung, meski keanggotaan masih dalam tahap finalisasi.
Blokade maritim yang dijatuhkan Houthi terhadap Saudi dimulai sejak 20 Juli. Langkah ini semakin mengganggu pengiriman minyak yang dialihkan setelah penutupan Selat Hormuz. Selain itu, terdapat laporan bahwa milisi Houthi berencana mengenakan pungutan pada kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab di perairan Yaman.
Aliansi baru yang dipimpin Saudi ini akan berkantor pusat di Riyadh.
Eskalasi ketegangan mendorong Menteri Pertahanan Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, menggelar pertemuan darurat di Washington. Dalam pertemuan tersebut, ia berdiskusi dengan Presiden AS Donald Trump serta Wakil Presiden JD Vance. Saudi menegaskan komitmennya untuk mempertahankan diri tanpa terlibat dalam perang yang lebih luas.
Jika koalisi internasional yang dipimpin Arab Saudi tidak berhasil mengamankan Selat Bab al-Mandab dalam waktu dekat, ancaman krisis energi global dan gelombang inflasi baru diprediksi akan melanda perekonomian dunia. Pentingnya jalur ini tidak hanya terlihat dari volume perdagangan, tetapi juga dari dampaknya terhadap stabilitas geopolitik regional dan global.
