Main Agenda: KNKT Ungkap KA Argo Bromo Dapat Sinyal Hijau di Stasiun Bekasi Sebelum Tabrak KRL
KNKT Ungkap KA Argo Bromo Dapat Sinyal Hijau di Stasiun Bekasi Sebelum Tabrak KRL
Detail Kecelakaan dan Tanggapan dari KNKT
Main Agenda menjadi topik utama dalam penyelidikan KNKT terkait kecelakaan maut yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap bahwa masinis KA Argo Bromo Anggrek melanjutkan perjalanan setelah menerima sinyal hijau di jalur J12, meskipun ada gangguan pada rel saat itu. Fakta ini muncul setelah investigasi menyeluruh yang dilakukan oleh KNKT, dengan fokus pada Main Agenda sebagai faktor utama dalam kejadian tabrakan antara KA 4B Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line 5568A.
Dalam pertemuan bersama Komisi V DPR, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjonomen menjelaskan bahwa kecelakaan pertama terjadi saat KRL 5568A sedang melakukan proses penurunan penumpang di stasiun Bekasi Timur. Beberapa menit kemudian, KA Argo Bromo Anggrek melintas langsung di Jalur 3, menyebabkan tabrakan yang memakan korban jiwa. Main Agenda dalam penyelidikan ini mencakup pengecekan sistem sinyal dan kondisi rel sebelum kejadian, yang menjadi bahan kritis untuk memahami penyebab kecelakaan.
Sinyal Hijau dan Kondisi Rel Saat Tabrakan
“Pukul 20.48.29 kejadian tabrakan antara KA 5181 commuter line dengan kendaraan bermotor roda empat (Taksi Green SM) di JPL Bekasi Timur jalur hilir,” ujar Soerjanto di ruang rapat Komisi V DPR, Kamis (21/5/2026).
KNKT menegaskan bahwa sinyal hijau yang diterima oleh masinis KA Argo Bromo Anggrek di jalur J12 memberikan izin untuk melaju dengan kecepatan normal. Namun, kondisi rel yang tidak stabil pada saat itu dianggap sebagai faktor risiko. Main Agenda penyelidikan mencakup analisis terhadap kecepatan kereta, pengaturan sinyal, serta keterlibatan pengemudi KRL dalam kejadian tersebut.
“Pada pukul 20.50.43 KA Bromo Anggrek berjalan langsung di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan sinyal keluar J12 ber-aspek hijau,” terang Soerjanto.
Tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan bagian belakang KA 5568A terjadi setelah kurang dari dua menit, tepatnya pukul 20.52.12. KNKT mencatat bahwa jeda waktu antara kecelakaan taksi dan tabrakan antar-kereta hanya sekitar 3 menit 43 detik. Main Agenda ini menyoroti kecepatan reaksi pengemudi KRL dan keberhasilan sistem pengendalian yang seharusnya mencegah kejadian serupa.
Analisis KNKT dan Rekomendasi untuk Pencegahan
“Berarti di situ kesimpulannya sinyalnya hijau maka dia (Argo Bromo) bergerak?,” tanya Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus.
“Maka dia bergerak,” jawab Soerjanto. KNKT memastikan bahwa sinyal hijau tidak menjadi alasan utama kecelakaan, tetapi juga membuktikan bahwa masinis KA Argo Bromo Anggrek mematuhi protokol operasional. Main Agenda dalam penyelidikan ini juga melibatkan evaluasi terhadap keselamatan rel dan keandalan sistem sinyal di Stasiun Bekasi, yang akan menjadi bahan pertimbangan untuk perbaikan infrastruktur.
Dalam laporan akhirnya, KNKT menyarankan peningkatan pemeriksaan jalur secara berkala serta pelatihan masinis untuk meningkatkan kesadaran terhadap kondisi rel yang tidak stabil. Main Agenda kecelakaan ini juga menyoroti pentingnya koordinasi antara operator kereta dan petugas keselamatan. Selain itu, KNKT merekomendasikan pemasangan sensor tambahan di stasiun yang rawan untuk mengurangi risiko tabrakan.
Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur menimbulkan dampak besar terhadap operasional kereta api dan keselamatan para penumpang. Dengan Main Agenda yang ditetapkan, KNKT berupaya memastikan bahwa penyebab kecelakaan tidak hanya diidentifikasi, tetapi juga diubah menjadi langkah-langkah preventif. Rekomendasi KNKT ini menjadi acuan penting bagi pihak terkait dalam mengamankan jalur kereta api di masa depan.
