Special Plan: Tokoh Madura: Masyarakat Tak Boleh Jadi Penonton dalam Konversi LPG ke NGC
Special Plan: Masyarakat Madura Tak Boleh Jadi Penonton dalam Konversi LPG ke NGC
Special Plan – Dalam rangka memperkuat kebijakan energi nasional, Rencana Khusus (Special Plan) yang sedang dikembangkan pemerintah mengarah pada transformasi dari Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke Compressed Natural Gas (CNG). Tokoh masyarakat Madura, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, yang lebih dikenal sebagai Gus Lilur, menyoroti pentingnya masyarakat Madura aktif dalam proses ini. Menurutnya, konversi ke NGC bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kebijakan yang memberikan keuntungan langsung kepada penduduk setempat. “Special Plan ini wajib diimplementasikan dengan perhatian pada struktur perekonomian Madura agar rakyat tidak hanya menjadi penonton,” ujarnya.
Latar Belakang Perubahan Energi
Konversi LPG ke NGC menjadi bagian dari Rencana Khusus yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil tradisional dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Proses ini diharapkan memperbaiki infrastruktur transportasi serta mengurangi emisi karbon. Namun, Gus Lilur menegaskan bahwa Madura, yang memiliki potensi sumber daya alam berupa gas alam, perlu diberi peran lebih dalam rencana ini. “Kita tidak boleh hanya menjadi penyuplai, tetapi juga harus menjadi bagian dari pemanfaatan,” jelasnya.
Madura sejak lama berperan sebagai penyuplai gas alam untuk industri di Jawa Timur melalui jaringan pipa laut. Data menunjukkan bahwa sekitar 70 persen kebutuhan energi di Kangean dan Sumenep berasal dari sumber daya Madura. Meski begitu, Gus Lilur menyoroti bahwa kekayaan alam tersebut belum cukup mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. “Kita selama ini hanya menjadi pelaku pendukung, sementara manfaat utama tidak sampai ke rakyat,” tambahnya.
Kendala Struktural dalam Pengelolaan Energi
Dalam Rencana Khusus, Gus Lilur mengkritik pola pengelolaan energi yang tidak seimbang. Menurutnya, jembatan Suramadu yang dibangun sebagai ikon pembangunan seharusnya menjadi pintu masuk bagi manfaat ekonomi Madura, tetapi gas alam yang dialirkan justru terus berpindah ke daerah lain. “Kekayaan pulau ini belum dikelola secara efektif. Jika konversi ke NGC tidak diperhatikan, Madura akan tetap kalah dalam pengembangan ekonominya,” ujarnya.
Gus Lilur menekankan bahwa konversi ke NGC bisa menjadi peluang untuk mengubah struktur perekonomian. Ia menyarankan agar pemerintah memastikan kebijakan ini melibatkan masyarakat secara aktif. “Rencana Khusus ini harus mencakup kebijakan pengelolaan yang menyentuh kebutuhan sehari-hari penduduk. Jika tidak, kekayaan alam hanya akan menjadi alasan untuk perekonomian daerah lain,” tegasnya.
Proyek konversi LPG ke NGC juga diharapkan mendorong pembangunan infrastruktur dan keterampilan masyarakat Madura. Gus Lilur menilai bahwa dengan Rencana Khusus yang tepat, Madura bisa menjadi pusat manfaat energi, bukan hanya sumber. “Manfaat ekonomi harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Ini adalah tantangan utama dalam penerapan Special Plan,” tambahnya.
Sebagai bagian dari Rencana Khusus, pemerintah juga perlu mengalokasikan dana yang cukup untuk pendidikan, pelatihan, dan pengembangan industri di Madura. Gus Lilur menyebutkan bahwa keberhasilan konversi ke NGC bergantung pada keterlibatan masyarakat. “Tanpa partisipasi aktif dari warga Madura, Rencana Khusus hanya akan menjadi perubahan teknis, bukan perubahan struktural,” pungkasnya.
Dengan pendekatan yang lebih holistik, Rencana Khusus dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi Madura. Gus Lilur berharap pemerintah dan pihak terkait mengambil langkah konkret untuk mewujudkan transformasi ini. “Special Plan ini harus menjadi jalan untuk menyamakan hak dan manfaat bagi seluruh masyarakat. Jika terlambat, Madura akan semakin tertinggal,” tegasnya.
