Kebakaran TPA Jatiwaringin Dinilai Alarm Keras Tata Kelola Sampah, DPR: Open Dumping Tak Bisa Ditoleransi

Key Strategy: Kebakaran TPA Jatiwaringin Mengancam Tata Kelola Sampah Nasional
Beritasosial.com – Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kota Bekasi, Jawa Barat, menjadi peringatan serius bagi tata kelola sampah di Indonesia. Anggota Komisi XII DPR, Ateng Sutisna, menilai insiden ini sebagai Key Strategy untuk memperkuat upaya pengurangan pembuangan sampah terbuka (open dumping). Ia menegaskan bahwa metode ini tidak lagi dapat diterima, terutama setelah dampak kesehatan dan lingkungan yang terlihat jelas. “Kebakaran di Jatiwaringin adalah Key Strategy yang menggugah kita untuk mengubah cara pengelolaan sampah secara drastis,” kata Ateng dalam pernyataan resmi, Sabtu (4/7/2026).
154 Warga Terkena ISPA Akibat Asap TPA Jatiwaringin
Kebakaran TPA Jatiwaringin tidak hanya mengakibatkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memengaruhi kesehatan masyarakat. Data terkini menyebutkan bahwa 154 warga terpapar polusi udara akibat asap yang mengandung partikulat halus dan zat kimia berbahaya. Mayoritas korban adalah kelompok rentan, seperti balita, ibu hamil, dan lansia, yang rentan terhadap penyakit pernapasan. “Kebakaran di TPA Jatiwaringin bukan sekadar bencana lokal, tapi Key Strategy untuk menyoroti kerentanan sistem pengelolaan sampah terbuka,” tambah Ateng.
“TPA yang dibiarkan terbuka seperti tungku api raksasa. Dengan kondisi El-Nino kuat, risiko api menyebar sangat tinggi. Key Strategy kita adalah menghentikan open dumping dan mengadopsi sistem yang lebih terkontrol,” ujarnya dalam wawancara dengan media, Sabtu (4/7/2026).
Kebakaran TPA: Dari Proses Alami hingga Risiko Teknis
Menurut Ateng, kebakaran di TPA Jatiwaringin bisa berasal dari dua sumber. Pertama, proses alami pembusukan sampah organik yang menghasilkan panas dan gas metana. Kedua, sumber eksternal seperti korsleting listrik atau penggunaan alat berat yang tidak tepat. “Key Strategy untuk mencegah kebakaran adalah memahami dua mekanisme ini dan melakukan mitigasi berdasarkan data yang akurat,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya pengawasan rutin dan sistem deteksi dini.
TPA Jatiwaringin, yang terletak di wilayah Bekasi Selatan, telah menjadi tempat penimbunan sampah yang tidak terkontrol selama bertahun-tahun. Saat musim kemarau, kekeringan dan suhu tinggi memperbesar kemungkinan api meluas. Ateng menyoroti bahwa Key Strategy dalam pengelolaan sampah harus melibatkan perencanaan jangka panjang, bukan hanya reaksi mendadak. “Kita perlu Key Strategy yang menyeluruh, mulai dari pengurangan sampah hingga pengelolaan air lindi yang efisien,” tambahnya.
Langkah-Langkah Penanganan yang Dianjurkan
Ateng menyusun rekomendasi Key Strategy untuk mengatasi masalah TPA Jatiwaringin. Pertama, semua TPA harus diubah menjadi sistem sanitary landfill atau controlled landfill yang dilengkapi teknologi pemantauan suhu dan deteksi api. Kedua, pemerintah daerah perlu mengadakan audit risiko kebakaran terhadap setiap TPA aktif. “Key Strategy ini harus dijalankan bersama pemerintah pusat dan BPBD untuk memastikan tanggung jawab terbagi,” katanya. Ia juga menyarankan peningkatan kerja sama antarinstansi dalam penanggulangan darurat.
Menurut Ateng, kebakaran TPA Jatiwaringin memberi pelajaran berharga. “Kita harus memperlakukan Key Strategy ini sebagai peluang untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah nasional. Jika tidak, kita akan menghadapi bencana yang lebih besar,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa kejadian serupa di TPA lain bisa terjadi jika tata kelola sampah tidak dikelola dengan serius.
Pengaruh Kebijakan El-Nino terhadap Dampak Lingkungan
Fenomena El-Nino, yang menyebabkan musim kemarau panjang, memperparah kondisi TPA Jatiwaringin. Suhu tinggi dan kekeringan mempercepat proses pembusukan sampah, sehingga gas beracun seperti dioksin dan furan semakin mengakumulasi. “Key Strategy dalam menghadapi El-Nino adalah menjaga TPA tetap terkontrol dan memiliki sistem drainase yang memadai,” kata Ateng. Ia juga menyoroti peran lembaga seperti Badan Penelitian dan Pengembangan (BPP) dalam memantau dampak lingkungan secara berkala.
Dalam kesimpulannya, Ateng mengingatkan bahwa Key Strategy yang diusulkan harus menjadi prioritas. “Kebakaran di Jatiwaringin adalah alarm keras. Kita tidak bisa lagi menunda tata kelola sampah yang lebih baik. Key Strategy ini adalah langkah penting untuk keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat,” pungkasnya. Ia berharap kejadian ini bisa menjadi titik balik dalam kebijakan pengelolaan sampah di Indonesia.
