China Diduga Berupaya Perluas Ekspansi Senjata ke Timur Tengah via Pakistan

China’s New Policy Memperluas Pengaruh Militer ke Timur Tengah Melalui Pakistan
Beritasosial.com – Dalam wawancara terbaru, para ahli geopolitik menyoroti bagaimana new policy Tiongkok menciptakan pergeseran strategis dalam ekspansi militer ke wilayah Timur Tengah. Fokus utama kebijakan ini adalah menguatkan hubungan dengan Pakistan sebagai mitra kunci, memanfaatkan lokasi geopolitik dan infrastruktur industri pertahanan negara tersebut. Analis dari International Centre for Peace Studies (ICPS), Imran Khurshid, mengatakan bahwa new policy ini berpotensi mengubah dinamika keamanan di kawasan tersebut, khususnya melalui pembelian senjata dan kolaborasi teknologi. Pakistan, yang sudah lama menjadi basis logistik bagi negara-negara Asia Selatan, kini dianggap sebagai jembatan penting untuk mengakses pasar Timur Tengah.
Strategi Geopolitik dan Hubungan Eksklusif
New policy Tiongkok di Timur Tengah tidak hanya berfokus pada ekspor senjata, tetapi juga mencakup investasi ekonomi dan kebijakan luar negeri yang lebih luas. Pakistan, yang memiliki hubungan diplomatik dan militer yang unik dengan Tiongkok, menjadi pilihan strategis dalam mengakses wilayah yang rentan terhadap perubahan kekuasaan. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, dalam sebuah pidato pada September 2025, menegaskan bahwa negara itu akan meningkatkan kerja sama dengan Tiongkok dalam pengembangan sistem pertahanan, termasuk penggunaan teknologi AI dan platform pertahanan modern. Hal ini menunjukkan komitmen Islamabad untuk mengutamakan kepentingan ekonomi dan militer Tiongkok.
Menurut Khurshid, new policy ini mengintegrasikan pakta pertahanan bilateral dengan kepentingan regional. Sebagai contoh, perjanjian antara Pakistan dan Arab Saudi pada bulan September 2025, yang menandai koalisi keamanan baru, juga berdampak pada kemungkinan Tiongkok mengambil peran lebih besar dalam memastikan kestabilan kawasan. “Kerja sama antara Islamabad dan Riyadh menunjukkan pergeseran kekuasaan geopolitik, tetapi Tiongkok justru memanfaatkan posisi Pakistan untuk menyebarluaskan pengaruh militer ke timur tengah,” imbuh Khurshid dalam keterangan di laman Middle East Forum.
Kolaborasi Teknologi dan Ekspor Senjata
New policy Tiongkok di Timur Tengah menekankan kolaborasi teknologi dengan Pakistan, yang menandai perubahan signifikan dalam kebijakan pertahanan. Lebih dari 80 persen impor senjata Pakistan pada periode 2021–2024 berasal dari Tiongkok, menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada produk industri pertahanan negara tersebut. Dalam rangka memperkuat kehadiran militer, Pakistan mulai memproduksi senjata bersama Tiongkok, seperti jet tempur JF-17, pesawat nirawak, serta sistem pertahanan udara HQ-9. Ini bukan hanya bagian dari strategi ekspor Pakistan, tetapi juga new policy Tiongkok untuk mengamankan keuntungan ekonomi dan militer di wilayah yang diperebutkan.
Kerja sama ini dianggap memiliki dampak jangka panjang. Tiongkok memperkuat kemampuan Pakistan dalam pengembangan senjata siluman dan teknologi pertahanan, yang secara tidak langsung meningkatkan kemampuan militer Tiongkok di kawasan Timur Tengah. “Menggunakan Pakistan sebagai mitra strategis menghindari konfrontasi langsung dengan negara-negara seperti India, sekaligus memperluas jaringan keamanan Tiongkok di wilayah yang berpotensi berperang,” ujar Khurshid. Hal ini memperlihatkan bagaimana new policy berperan dalam mengubah keseimbangan kekuasaan di kawasan tersebut.
Peluang dan Tantangan dalam Ekspansi Militer
New policy Tiongkok juga mencakup peningkatan investasi dalam infrastruktur logistik dan perdagangan di Pakistan, yang mendukung ekspansi militer yang lebih luas. Proyek-proyek seperti pembangunan jalur kereta api dan jaringan perairan menghubungkan Pakistan dengan Timur Tengah, memudahkan distribusi senjata dan pasukan militer Tiongkok. Namun, kebijakan ini tidak tanpa tantangan. Beberapa negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, menilai bahwa ketergantungan pada senjata Tiongkok bisa memperkuat hubungan politik antara Pakistan dan Beijing, yang berpotensi mengganggu keseimbangan hubungan dengan negara-negara lain di kawasan.
Menurut Khurshid, new policy ini memperlihatkan keinginan Tiongkok untuk mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga, seperti Amerika Serikat, dan meningkatkan kontrol langsung di wilayah Timur Tengah. “Dengan Pakistan sebagai mitra, Tiongkok bisa memanfaatkan pasar Timur Tengah secara lebih efektif, baik dalam kompetisi ekonomi maupun dalam memperkuat kehadiran militer,” jelasnya. Ini membuka peluang baru bagi Tiongkok dalam menghadapi ancaman geopolitik di kawasan tersebut.
