BNPB Pulihkan Akses Air Bersih di Merapi dengan Pipanisasi Sepanjang 30 Km

BNPB: Solving Problems with 30 km Pipanisasi to Restore Clean Water Access in Merapi
Beritasosial.com – BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) berhasil menyelesaikan upaya Solving Problems dalam pemulihan akses air bersih di wilayah terdampak erupsi Gunung Merapi. Proyek pipanisasi dengan total panjang 30 kilometer ini mengembalikan layanan air bagi sekitar 4.000 kepala keluarga (KK) di tujuh desa yang mengalami kerusakan akibat banjir lahar pada Maret 2026. Dengan penyelesaian infrastruktur tersebut, masyarakat dapat kembali mendapatkan kebutuhan pokok yang vital, terutama di tengah krisis bencana.
Presiden Dorong Pemulihan Cepat
“Solving Problems adalah prioritas utama pemerintah dalam mengatasi dampak erupsi Merapi,” tutur Letjen TNI Suharyanto, Kepala BNPB.
Tindakan ini dilakukan sesuai instruksi Presiden Joko Widodo yang meminta percepatan pemulihan infrastruktur dan peningkatan ketersediaan air bersih bagi masyarakat terdampak. Suharyanto menjelaskan bahwa Magelang, khususnya daerah lereng Gunung Merapi, rentan terhadap bencana, sehingga kecepatan tanggap sangat penting.
Proyek pipanisasi dirancang untuk mengatasi gangguan distribusi air yang terjadi setelah erupsi dan hujan deras pada 3 Maret 2026. Banjir lahar menghancurkan permukiman, lahan pertanian, serta jaringan air, menyebabkan kebutuhan dasar masyarakat terganggu. Selain itu, bencana tersebut juga mengakibatkan lima korban jiwa dan kerusakan pada kendaraan penambang pasir. BNPB berupaya mengembalikan fasilitas air yang rusak melalui kerja sama dengan pihak terkait, termasuk warga setempat.
Detil Proyek Pipanisasi
PNPB mengalokasikan Dana Siap Pakai (DSP) sebesar Rp3 miliar untuk memperbaiki jaringan air bersih sepanjang 33,3 kilometer, yang melayani 4.010 KK di tujuh desa terdampak. Desa-desa yang diperbaiki meliputi Sumber, Krinjing, Paten, Sengi, Keningar, Sewukan, dan Wates. Proyek ini membutuhkan koordinasi intensif antara tim BNPB, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat untuk menjamin keberhasilan Solving Problems di bidang air.
Durasi pemasangan pipa selesai dalam waktu singkat berkat kesadaran warga untuk terlibat secara aktif dalam pemulihan. Masyarakat membantu mengangkat dan menghubungkan pipa, mempercepat distribusi air bersih ke rumah tangga. Suharyanto menyebutkan bahwa alur distribusi air kini normal, sehingga masyarakat tidak lagi mengalami kekeringan atau harus mengandalkan air dari sumber lain.
“Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam menyelesaikan Solving Problems ini secara efisien,” kata Suharyanto.
Proses pemulihan juga didukung oleh teknologi modern dalam pemasangan jaringan pipa, memastikan ketahanan jangka panjang terhadap bencana alam. Proyek ini tidak hanya menyelesaikan kebutuhan air saat ini, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko terulang di masa depan.
Kehadiran akses air bersih di tujuh desa tersebut meningkatkan kualitas hidup warga, terutama dalam sanitasi dan kebersihan lingkungan. Selain itu, pemulihan ini membantu ekonomi masyarakat, karena mereka dapat kembali melakukan aktivitas pertanian dan kegiatan sehari-hari tanpa hambatan. BNPB berharap proyek ini menjadi contoh nyata Solving Problems dalam penanggulangan bencana di daerah rawan seperti Merapi.
