Solving Problems: BEM UI: Ekonomi Hanya Tumbuh di Atas Kertas, di Meja Makan Rakyat Tidak Ada yang Berubah

bem-ui-ekonomi-tumbuh-di-atas-kertas-di-meja-makan-rakyat-tidak-ada-yang-berubah-yvd

Solving Problems: BEM UI Protes Ekonomi Hanya Tumbuh di Kertas, Rakyat Tidak Berubah

Solving Problems – Dalam aksi besar yang digelar di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia memperhatikan krisis ekonomi yang menimpa masyarakat. Protes ini menjadi wujud kekecewaan mahasiswa terhadap kondisi pertumbuhan ekonomi yang dianggap hanya sekadar angka di atas kertas, sementara kehidupan rakyat tetap terjebak dalam keterpurukan. Fokus utama aksi BEM UI adalah untuk menggambarkan bagaimana pertumbuhan ekonomi tak mampu mendorong peningkatan kesejahteraan, melainkan semakin memperparah beban hidup masyarakat sehari-hari.

Kenaikan Harga dan Kebijakan Pemerintah

“Kenyataan saat ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi hanya tercatat di kertas, sementara kesejahteraan rakyat tetap terganggu. Harga beras melonjak, lapangan kerja menyempit, rakyat tercekik oleh pajak, dan pemerintah sibuk memperbaiki citra sambil membagi proyek ke kroni,” ujar Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan dalam pernyataannya, Jumat (12/5/2026).

Menurut Athof, masalah yang dihadapi bangsa ini bukan lagi tentang perbedaan ideologi politik, melainkan dampak nyata dari kebijakan ekonomi yang tidak berimbang. Kenaikan harga beras, yang sempat menjadi sorotan utama, menggambarkan inflasi yang tak terkendali, sementara pengurangan peluang kerja menunjukkan kegagalan dalam menangani masalah pengangguran. Selain itu, pajak yang semakin berat dikeluhkan masyarakat sebagai beban tambahan yang membuat daya beli menurun.

Sikap Pemerintah dan Tuntutan Mahasiswa

Aksi ini dianggap sebagai bentuk peneguhan tuntutan rakyat. “Kepemimpinan yang baik seharusnya memberikan ruang untuk mendengar, melindungi, dan merespons kegelisahan masyarakat. Namun, hari ini pemerintah justru memilih menghindar dari tanggung jawab, sementara data kritis sudah disampaikan,” jelas Athof. Mahasiswa menilai bahwa pemerintah sering kali menunjukkan sikap tidak akuntabel, arogan, dan kurang kepekaan terhadap kebutuhan rakyat sehari-hari.

Pemimpin yang disebut-sebut sebagai “Solving Problems” dalam kehidupan masyarakat harus mampu menjadi solusi bagi kesenjangan antara angka ekonomi dan kenyataan di lapangan. BEM UI menyampaikan lima tuntutan utama, termasuk menghentikan pemborosan anggaran negara, menurunkan harga barang pokok, dan menstabilkan harga bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, tuntutan juga melibatkan penguatan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah dan peningkatan kesejahteraan melalui program sosial yang konkret.

Reaksi Masyarakat dan Dampak Jangka Panjang

Massa yang terlibat dalam aksi menunjukkan kekecewaan mendalam terhadap kebijakan pemerintah. Banyak warga mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi hanya menjadi pemanis buatan, sementara kenyataan di lapangan justru semakin memburuk. “Kita sudah berjuang cukup lama, tapi pertumbuhan ekonomi tidak memberi solusi yang realistis,” ungkap seorang warga yang turut serta dalam aksi. Dampak dari ketidakseimbangan ini terasa jelas, baik secara langsung maupun tidak langsung, terutama bagi keluarga miskin dan kelas menengah.

Dalam pernyataan resmi BEM UI, mereka menekankan pentingnya kebijakan yang berorientasi pada penyelesaian masalah nyata. “Kami ingin pemerintah menjadi pemecah kesulitan rakyat, bukan sekadar penulis laporan ekonomi yang menipu,” lanjut Athof. Protes ini diharapkan mampu mengingatkan pemerintah untuk lebih transparan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, “Solving Problems” menjadi kunci dalam membangun kepercayaan publik dan menciptakan kesejahteraan yang lebih adil.

Aksi BEM UI tidak hanya mengundang perhatian mahasiswa, tetapi juga masyarakat luas yang merasakan dampak dari ketidakseimbangan ekonomi. Protes ini menjadi momentum untuk menggali masalah-masalah struktural yang menghambat kemajuan bangsa. Dengan berbagai tuntutan yang diusulkan, BEM UI mengharapkan perubahan kebijakan yang mampu mendorong “Solving Problems” secara nyata, baik dalam mengatasi inflasi maupun meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Kegiatan yang dihadiri ratusan peserta ini menunjukkan semangat perlawanan terhadap politik yang tidak berdaya. Meski kemacetan di Bundaran HI hanya terjadi beberapa jam, dampak sosial dan ekonomi dari krisis ini telah berlangsung puluhan tahun. “Kita terus berjuang, tapi pertumbuhan ekonomi tidak memberi solusi yang konsisten,” tambah Athof. Dengan demikian, “Solving Problems” bukan sekadar konsep, melainkan tuntutan yang mesti dipenuhi oleh pemimpin bangsa ini dalam menghadapi tantangan ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *