Solution For: Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Solution For: Harga Pertamax Naik ke Rp16.250, Pertamina Pertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Solution For – JAKARTA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Green, telah menjadi topik utama dalam pembahasan pemerintah dan Pertamina. Dalam rangka menjaga keseimbangan harga dan pasokan energi, Pertamina melalui Kepala Perusahaan Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan bahwa kenaikan harga Pertamax telah dipertimbangkan secara matang. Harga Pertamax kini mencapai Rp16.250 per liter, naik Rp3.950 dari harga sebelumnya Rp12.300. Sementara Pertamax Green naik ke Rp17.000 per liter, meningkat dari Rp12.900 sebelumnya. Pertamina berkomitmen untuk memastikan penyesuaian ini tetap sesuai dengan kemampuan daya beli masyarakat.
Mengapa Harga BBM Non Subsidi Dinaikkan?
Menurut Simon, kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green terjadi karena dinamika geopolitik global serta fluktuasi harga minyak di pasar internasional. “Kenaikan harga bahan bakar ini diatur berdasarkan kebutuhan untuk menjaga stabilitas pasokan dan biaya operasional perusahaan,” jelasnya. Faktor ekonomi makro, seperti pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak mentah di luar negeri, menjadi penyebab utama perubahan ini. Pertamina mengklaim bahwa keputusan penyesuaian harga telah mengalami evaluasi mendalam untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat.
“Kami menyadari bahwa kenaikan harga BBM non subsidi tidak terlepas dari kondisi ekonomi global yang terus berubah. Pertamina dengan dukungan pemerintah telah mencari solusi yang seimbang antara kenaikan harga dan daya beli masyarakat,” ujar Simon dalam keterangan resmi, Kamis (11/6/2026).
Kebutuhan untuk Menyesuaikan Harga BBM
Kebutuhan untuk menyesuaikan harga BBM non subsidi menjadi lebih terasa akibat tekanan inflasi yang melanda sejumlah negara pengimpor minyak. Dengan harga minyak mentah di pasar internasional yang terus naik, Pertamina harus menyesuaikan harga jual di dalam negeri. “Ini adalah solusi untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan kemampuan masyarakat dalam mengakses bahan bakar,” terang Simon. Selain itu, kenaikan harga BBM juga dipengaruhi oleh adanya penyesuaian tarif pengangkutan dan biaya produksi yang lebih tinggi.
Pertamina memastikan bahwa penyesuaian harga ini tidak mengganggu akses masyarakat terhadap bahan bakar. Perusahaan mengklaim bahwa upaya mereka untuk mencari solusi untuk penyesuaian harga telah memperhatikan kenaikan biaya produksi, stabilitas harga internasional, serta kebutuhan konsumen. “Kami berusaha meminimalkan dampak negatif pada daya beli masyarakat dengan melakukan penyesuaian bertahap dan berkelanjutan,” tambahnya.
Solution For – Pemerintah dan Pertamina juga menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM non subsidi ini dilakukan dalam rangka menangani tekanan inflasi yang semakin tinggi. “Ini adalah solusi untuk menjaga ketersediaan bahan bakar minyak di Indonesia sekaligus menyesuaikan dengan harga pasar yang lebih kompetitif,” kata Simon. Selain itu, penyesuaian harga ini juga bertujuan untuk memastikan keberlanjutan industri BBM di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green diharapkan tidak mengurangi akses masyarakat terhadap bahan bakar, terutama di daerah-daerah yang jauh dari pusat. Pertamina menekankan bahwa distribusi BBM tetap dilakukan secara merata, dengan memperhatikan ketersediaan stok dan kebutuhan konsumen. “Dengan solusi untuk kenaikan harga ini, Pertamina tetap berkomitmen dalam menjaga stabilitas pasokan energi bagi seluruh wilayah Indonesia,” jelas Simon. Ia menambahkan bahwa Pertamina juga terus berupaya meningkatkan efisiensi operasional untuk mengurangi beban biaya bagi konsumen.
