New Policy: Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
New Policy: Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
New Policy – Dalam upaya mendorong transformasi pendidikan pesantren di tengah era digital, Wakil Ketua DPR, Cucun Ahmad Syamsurijal, mengusulkan new policy yang fokus pada penerapan etika dan nilai-nilai keagamaan dalam pengembangan teknologi. Acara diskusi panel yang diadakan oleh Keluarga Alumni Pesantren Cipasung di Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi panggung untuk menyampaikan visi ini. Cucun menegaskan bahwa new policy harus menjadi jembatan antara tradisi keagamaan dan inovasi teknologi, khususnya dalam konteks kecerdasan buatan (AI) yang semakin merambah dunia pendidikan.
Transformasi Pendidikan Pesantren dalam Era Digital
Cucun menyebut bahwa new policy ini bertujuan untuk menghadirkan perubahan mendasar dalam cara pesantren beradaptasi dengan dunia digital. Ia menyoroti bahwa kini, pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga harus menjadi pelaku utama dalam menyediakan pendidikan yang relevan dengan teknologi. Dengan mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum, pesantren bisa meningkatkan kualitas pembelajaran, namun harus tetap menjaga identitas keagamaan dan etika sebagai fondasi utama.
“New Policy ini menekankan bahwa teknologi tidak boleh menjadi alat untuk mengabaikan nilai-nilai keagamaan. Sebaliknya, AI harus menjadi sarana untuk memperkuat pendidikan moral dan spiritual santri,” jelas Cucun. Ia menambahkan bahwa keberhasilan transformasi ini bergantung pada kerja sama antara pemerintah, alumni, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menciptakan sistem pendidikan yang modern namun tetap berakar pada prinsip keagamaan.
Dalam new policy yang diusungnya, Cucun menggarisbawahi perlunya pendidikan pesantren memiliki kelebihan kompetitif di tingkat internasional. Ia menyebut bahwa lembaga-lembaga pendidikan ini memiliki potensi besar untuk menjadi pusat inovasi teknologi berbasis nilai-nilai keagamaan, seperti kejujuran, ketaatan, dan keadilan. Dengan mengembangkan sumber daya manusia yang terampil, pesantren bisa menjadi mitra strategis dalam menghadapi tantangan global.
Penerapan Etika dalam Teknologi: Kunci Pendidikan yang Berkelanjutan
Salah satu aspek utama new policy adalah penguatan etika dalam penggunaan teknologi, termasuk AI. Cucun menegaskan bahwa pendidikan pesantren harus menjadi tempat melahirkan generasi yang tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga memahami dampak sosial dan spiritualnya. “Etika dalam teknologi harus diintegrasikan ke dalam kurikulum sejak dini, agar santri bisa menjadi pelaku yang bijaksana dalam mengadopsi inovasi,” tambahnya. Ini berarti, AI tidak hanya menjadi alat pembelajaran, tetapi juga bahan untuk memperkaya pemahaman tentang kebenaran dan kesadaran moral.
Dalam new policy ini, Cucun juga mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk menyederhanakan mekanisme pengakuan terhadap pesantren. Ia menyoroti bahwa kompleksitas administrasi sering kali menghambat kemajuan pesantren, terutama dalam akses ke dana dan pengakuan kelulusan. “Dengan new policy, kita bisa mengurangi beban birokrasi dan memastikan bahwa pesantren tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan,” imbuhnya. Langkah ini diharapkan mendorong keterlibatan lebih besar masyarakat dan investor dalam mendukung pendidikan pesantren modern.
Cucun menekankan bahwa new policy ini bukan sekadar perubahan struktur, tetapi juga pergeseran paradigma dalam menghadapi era digital. Ia menyebut bahwa selain pendidikan agama, pesantren perlu melatih santri dalam berpikir kritis, mengelola informasi, dan mengaplikasikan teknologi secara bertanggung jawab. Dengan cara ini, pesantren tidak hanya menjaga keberlanjutan budaya keagamaan, tetapi juga siap bersaing di tingkat global.
