Key Strategy: Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Strategi Utama: Dukung Nanik S Deyang Jadi Pemimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Perbaikan Program MBG
Key Strategy – Strategi utama yang diusung oleh Arus Bawah Prabowo dalam menghadapi tantangan pemerintahan baru menitikberatkan pada reformasi total di Badan Gizi Nasional (BGN). Pengumuman Presiden Prabowo Subianto tentang pemberian jabatan kepala BGN kepada Nanik Sudaryati Deyang, bersama Agustina Arumsari sebagai anggota dan Mayjen TNI Trenggono sebagai wakil kepala, memicu respons positif dari sejumlah pihak. Relawan Prabowo, khususnya anggota Relawan Arus Bawah Prabowo (ABP), menyatakan dukungan terhadap langkah ini sebagai bagian dari perbaikan sistem yang lebih efektif dan transparan. Selain itu, strategi utama ini juga diharapkan bisa memperkuat koordinasi antarlembaga terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi prioritas nasional.
Visi Reformasi BGN dalam Strategi Utama Prabowo
Ketua DPP ABP, Supriyanto, menilai strategi utama ini bertujuan untuk mengembalikan BGN menjadi lembaga yang terpercaya dan berkinerja maksimal. Ia menekankan bahwa kepemimpinan baru harus fokus pada visi Presiden untuk menjamin keberlanjutan Program MBG, yang bertujuan memberikan asupan gizi gratis kepada masyarakat kurang mampu. “Strategi utama ini melibatkan perbaikan tata kelola, termasuk efisiensi anggaran dan peningkatan transparansi,” kata Supriyanto, Kamis (4/6/2026). Hal ini diperlukan agar program MBG tidak hanya menjadi simbol pemerintahan, tetapi benar-benar mampu memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat.
Perubahan kepemimpinan di BGN diyakini menjadi bagian dari strategi utama untuk menyelesaikan kelemahan sebelumnya, seperti praktik jual beli titik SPPG yang sempat memicu kekecewaan publik. Nanik S Deyang, sebagai kepala baru, diharapkan bisa memimpin dengan pendekatan yang lebih sistematis, sekaligus memperkuat kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yayasan, koperasi, UMKM, petani, dan nelayan.
ABP juga meminta peningkatan kualitas layanan, khususnya di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), yang dinilai rentan dalam akses pangan bergizi. Supriyanto menyoroti langkah moratorium pembukaan titik SPPG baru sebagai upaya strategi utama untuk menghindari pemborosan anggaran. Dengan adanya refocusing pada kelompok yang paling membutuhkan, program MBG diharapkan bisa lebih tepat sasaran dan mengurangi kesenjangan akses gizi di berbagai daerah. Selain itu, Supriyanto menegaskan bahwa BGN harus menjadi poros pemerintahan dalam menyelesaikan isu krisis pangan dan nutrisi masyarakat.
Perbaikan Struktur dan Tindak Lanjut dalam Strategi Utama
Dalam strategi utama ini, ABP mengusulkan perbaikan struktur organisasi BGN agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Langkah-langkah seperti penghapusan kebijakan yang tidak efisien dan peningkatan kapasitas SDM di BGN dianggap penting untuk mendorong percepatan program MBG. “Dengan reformasi total, BGN bisa menjadi lebih akuntabel dan terukur dalam memenuhi target nasional,” ujarnya. Supriyanto juga menyoroti pentingnya evaluasi kinerja BGN dalam setiap tahap pelaksanaan program, agar tidak ada kehilangan waktu atau anggaran.
Kepemimpinan Nanik S Deyang, yang dianggap sebagai bagian dari strategi utama, diharapkan bisa mengakar dalam masyarakat. Ia harus mampu mendorong partisipasi aktif masyarakat dan melibatkan mereka dalam pengawasan serta pemberdayaan. Program MBG tidak lagi menjadi proyek pemerintah semata, tetapi kebijakan yang menggabungkan kepentingan pemerintah, swasta, dan masyarakat secara bersamaan.
Supriyanto menambahkan bahwa keberhasilan strategi utama ini bergantung pada konsistensi pihak yang berwenang dalam mengimplementasikan kebijakan. Ia juga meminta agar perdebatan terkait dugaan korupsi dan kolusi di BGN tidak terganggu oleh konflik kepentingan, tetapi diarahkan pada solusi yang lebih konstruktif. Dengan menyelaraskan kebijakan internal BGN dengan visi nasional, strategi utama ini bisa menjadi fondasi kuat untuk mengurangi keluhan masyarakat terhadap Program MBG.
Keresahan atas Praktik Jual Beli Titik SPPG
Salah satu isu utama yang diusulkan dalam strategi utama adalah penanganan praktik jual beli titik SPPG yang sempat memicu kekecewaan masyarakat. Supriyanto mengungkap bahwa beberapa daerah aglomerasi bahkan mengalami kelebihan kuota meskipun portal mitra BGN sudah ditutup sejak November 2025. “Strategi utama ini harus memperbaiki kelemahan dalam pemberian kuota, agar tidak ada keuntungan yang tidak seimbang,” tegasnya. Ia menilai praktik jual beli ini merugikan negara karena munculnya banyak dapur baru yang tidak terukur dampaknya terhadap kebutuhan masyarakat.
Program MBG menjadi alat pelayanan rakyat, bukan hanya proyek bisnis yang mengabaikan manfaat sosial dan kemanusiaan. Strategi utama ini harus dijalankan dengan transparansi dan partisipasi masyarakat, agar kepercayaan terhadap BGN bisa kembali terbangun. Kami akan terus mengawal pelaksanaannya sebagai prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran.
Supriyanto meminta pihak yang sedang menjalani proses hukum untuk fokus pada kasus yang dituduhkan. “Pak Sony, mantan Wakil Kepala BGN, sebaiknya tidak melontarkan tuduhan yang tidak didasari fakta melalui media sosial,” ujarnya. Ia menekankan bahwa reformasi strategi utama tidak hanya menghukum tiga pimpinan sebelumnya, tetapi juga mengusut tuntas korupsi dan kolusi di tingkat terbawah. Dengan demikian, program MBG bisa menjadi bentuk pelayanan publik yang lebih adil dan terukur.
Dalam rangka mend
