Key Strategy: Maarif Institute Ajak Publik Meneladani Buya Syafii melalui Pentas Budaya

maarif-institute-ajak-publik-meneladani-buya-syafii-melalui-pentas-budaya-nbq

Key Strategy: Maarif Institute Ajak Publik Meneladani Buya Syafii Melalui Pentas Budaya

Key Strategy – Pemilihan “Key Strategy” sebagai pendekatan utama dalam memperingati hari lahir dan empat tahun wafatnya Buya Syafii Maarif menjadi fokus utama Maarif Institute dalam merayakan momen penting tersebut. Institusi ini meluncurkan rangkaian acara budaya yang bertajuk “Bulan Buya” di tiga lokasi strategis, Yogyakarta, Sumatera Barat, dan Jakarta, sebagai upaya memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan keadaban yang diperjuangkan oleh Buya Syafii. Dalam acara pembuka di Yogyakarta, pameran seni rupa “Suluh Bangsa” menggambarkan warisan budaya dan pemikiran yang diwariskan oleh tokoh besar tersebut.

Pentas Budaya Sebagai Penguatan Identitas Kebangsaan

Dalam rangkaian kegiatan Bulan Buya, acara di Sumatera Barat yang diselenggarakan di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, ISI Padang Panjang, menampilkan penekanan pada kearifan lokal Minangkabau. Kegiatan ini menghadirkan karya seni pertunjukan bertutur yang memadukan cerita sejarah, filosofi, dan perjuangan Buya Syafii. Akbar Nicholas, manajer pelaksana, menjelaskan bahwa “Key Strategy” dalam rangkaian ini berupa penggunaan seni sebagai media menyebarluaskan konsep keadaban dan perjuangan intelektual Buya Syafii. “Ini bukan sekadar perayaan, tapi langkah konsisten untuk membangun kesadaran kolektif mengenai kepemimpinan dan nilai-nilai yang menjadi fondasi peradaban Indonesia,” tambahnya.

Kegiatan di Jakarta, yang akan menjadi penutup pada pertengahan bulan Juni 2026, dirancang dengan tema lebih luas. Direktur Eksekutif Maarif Institute, Andar Nubowo, menyatakan bahwa “Key Strategy” dalam Bulan Buya melibatkan kolaborasi dengan berbagai komunitas dan institusi pendidikan. “Melalui pentas budaya, kami ingin mendorong masyarakat untuk merenungkan pentingnya pendidikan, kesadaran moral, dan kebhinekaan dalam era modern,” ujarnya. Pemilihan Jakarta sebagai lokasi akhir juga memiliki makna simbolis, mengingat kota ini sebagai pusat kebudayaan dan intelektual bangsa.

Kolaborasi dan Pesan Kebangsaan dalam Setiap Kegiatan

Kolaborasi dengan Kiniko Art di Yogyakarta menjadi contoh nyata bagaimana “Key Strategy” Maarif Institute berupa penggabungan seni dan pendidikan. Pameran seni rupa tersebut tidak hanya menampilkan karya artistik, tetapi juga membuka ruang dialog antara masyarakat dan para seniman. Sementara di Sumatera Barat, kerja sama dengan Komunitas Talago Buni dan ISI Padang Panjang mencerminkan upaya menyebarkan pengaruh Buya Syafii secara lokal. “Kita menempatkan kearifan Minang sebagai medium untuk menyampaikan pesan kebangsaan yang universal,” kata Akbar Nicholas.

Dalam rangkaian kegiatan ini, pentas budaya berupa seni pertunjukan bertutur menjadi media utama. Karya-karya yang ditampilkan diisi dengan cerita sejarah dan filosofi Buya Syafii, yang dirancang agar bisa menjangkau berbagai kalangan. “Key Strategy” tersebut juga mencakup pemilihan venue strategis, seperti Gedung Hoerijah Adam yang dianggap sebagai simbol pendidikan seni di Sumatera Barat. Acara ini diharapkan mampu membangkitkan semangat nasionalisme melalui pendekatan kreatif.

Bulan Buya juga menjadi kesempatan untuk menyoroti peran Buya Syafii dalam memperkuat konsensus kebangsaan. Dalam diskusi di Jakarta, peserta akan diberikan wawasan mendalam tentang perjuangan tokoh tersebut dalam mendorong keseimbangan antara agama, budaya, dan kehidupan sosial. “Key Strategy” ini diterapkan dengan menyajikan materi yang relevan dengan isu-isu kontemporer, seperti keadilan sosial dan inklusivitas budaya. Acara ini diselenggarakan secara gratis dan terbuka, sehingga bisa mengundang partisipasi luas dari berbagai lapisan masyarakat.

Menurut Andar Nubowo, acara ini menjadi bagian dari kebijakan jangka panjang Maarif Institute untuk menjaga relevansi ide-ide Buya Syafii di tengah perubahan dunia. “Key Strategy” yang diterapkan melibatkan pendekatan multidisiplin, termasuk seni, pendidikan, dan media. Pemilihan tema “Bertutur tentang Guru Bangsa” memperkuat fokus pada komunikasi nilai-nilai yang menjadi fondasi peradaban Indonesia. “Kita ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal tetap relevan dalam menghadapi dinamika zaman,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *